Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 24


__ADS_3

Dimas pulang ke rumah pertama dengan perasaan bahagia, sepanjang jalan dia terus tersenyum hingga gigi giginya kering. Dia tak peduli pada derasnya hujan yang turun sore itu, dia memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai rumah.


Rumah terlihat sedikit berantakan hari itu, piring dan gelas kotor bertebaran dimana mana. Rupanya Desi dan Mayang baru saja mengadakan selamatan kecil-kecilan untuk merayakan empat bulanan kandungan Desi.


Dimas sedikit kecewa karena dia merasa tidak diundang oleh istri dan Ibunya. Dia tidak dikabari baik itu lewat pesan singkat atau telpon. Apakah mereka sudah tidak menganggap Dimas sebagai kepala keluarga dirumah itu?


"Akhirnya kamu pulang juga, masih ingat rumah juga ternyata," sindir Mayang pedas.


"Apa maksud Ibu? Kenapa Ibu berkata seperti itu padaku?"


"Seorang teman mengirimi aku foto kamu sedang duduk dengan seorang wanita muda disebuah restoran, apa itu selingkuhan mu?"


"Bu, aku tidak selingkuh. Kalau aku punya selingkuhan pasti Desi sudah mengamuk padaku,"


"Pergi ke kamarnya dan lihat keadaan Desi sekarang,"


Dimas pergi mencari istrinya di kamarnya, dia melihat desi sedang duduk menghadap jendela. Tatapan matanya kosong, pikirannya melayang entah kemana.


"Apa yang terjadi Desi?"


"Yoga menyebarkan berita kalau kamu memiliki selingkuhan, dia bahkan mencuri beberapa foto kalian secara diam diam dan menyebarkannya ke publik. Aku dihina habis habisan oleh teman, saudara, juga tetangga rumah ini,"


"Jangan dimasukan hati omongan buruk mereka, nanti kamu stres dan jatuh sakit,"


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Desi, kenapa kamu menangis?"


"Kamu bahkan mencium keningnya dan bibirnya sebelum pergi bekerja, tapi kamu tidak pernah melakukan itu padaku. Aku cemburu, aku merasa sakit hati,"


"Maafkan aku,"


"Apa kamu mencintainya?"


"Maafkan aku,"


"Kamu jahat Dimas, jahat! Hiks... Hiks..."


Dimas mengepalkan tangannya, semua permasalahan dan keributan hari ini terjadi karena ulah Yoga. Dia harus memberi pelajaran pada pria tengil yang tidak punya adab itu.

__ADS_1


Dua hari yang lalu...


Yoga diam diam mengikuti kemana Dimas dan Vina pergi, dia memotret secara diam diam dan menyimpannya. Dia pandai tentang mencuri gambar dengan gaya yang cocok untuk memancing spekulasi buruk dari orang yang melihat gambar itu.


Sehari kemudian...


Yoga juga mencuri gambar saat Dimas mencium kening dan bibir Vina sebelum berangkat ketempat kerja. Foto itu dia ambil secara khusus untuk diberikan kepada Desi istri pertama Dimas.


Yoga merasa marah pada Dimas karena wanita yang dia sukai ternyata menjadi simpanan Dimas. Di juga marah pada Vina karena lebih memilih Dimas dari pada Yoga. Dan lagi, perut Vina sepertinya sedikit lebih besar dari biasanya.


"Aku akan menghancurkan nama baik dan kebahagiaan keluarga kalian, lihat saja nanti!" Ucap Yoga penuh kebencian.


🍃🍃🍃


Dimas datang ke rumah Yoga, dia menerobos masuk dan langsung menyeret pria itu keluar dari kamarnya. Sita, Ibu tiri Dimas tak terima anaknya diseret seperti karung beras. Dia berteriak memanggil manggil nama suaminya.


"Deren, lihat putramu. Dia menyeret putraku kasar seperti karung beras," teriak Sita.


Deren yang sedang memberi makan burung kesayangannya langsung bergegas mencari keberadaan Sita. Deren mendelik saat melihat putra tirinya sedang dihajar secara membabi buta oleh Dimas, dan bocah itu tidak memberikan perlawanan sedikitpun.


"Dimas, apa yang sedang kamu lakukan hah?" teriak Deren.


"Kamu sudah berani bersikap tidak sopan pada Ayahmu sendiri?" Deren seolah tak percaya.


"Ayah katamu? Semenjak kamu menduakan Ibuku lalu menceraikannya dan menikah dengan janda gatal beranak satu itu aku tidak pernah menganggap kamu sebagai Ayahku lagi!" Maki Dimas.


"Anak sial, kamu memang sama menyebalkan dengan Ibumu!" Maki Sita balik.


"Anak sial katamu? Apa kamu lupa aku yang membiayai anakmu ini kuliah kedokteran setelah suami tak berguna mu itu jatuh bangkrut?" Dimas mengungkit jasa yang telah dia berikan kepada saudara tirinya itu.


Dimas kembali memukul Yoga, menjambak rambut dan menendangnya. Dia kesal karena Yoga telah berani mengumbar aib saudaranya sendiri.


"Ampun kak, ampun," Yoga mengemis di kaki Dimas.


"Yoga, dengar ini. Jika kamu masih berani mengadu domba antara aku dan Desi, aku akan menggantung lehermu di tiang bendera kampusmu. Jika kamu masih juga berani menyebar aib dan berita bohong tentangku, aku akan menyetop biaya sekolahmu dan menjadikan keluarga ini gembel di jalanan. Mengerti?" Dimas mengancam Yoga dengan ancaman yang terdengar begitu mengerikan.


Deren dan Sita terdiam, mereka takut Dimas benar benar merealisasikan ancamannya pada putra dan keluarga mereka. Deren tau kalau Dimas itu galak, tapi dia tidak tau kalau Dimas juga kejam seperti seorang Yakuza.


Sita tiba tiba membayangkan jika dia dan keluarganya diusir dari rumah itu oleh Dimas, mereka tinggal di bawah jembatan dengan pakaian compang camping dan kulit menghitam. Tidak ada makanan enak, uang banyak, perhiasan dan barang barang mahal lagi. Mengerikan!

__ADS_1


"Yoga, aku tidak tau apa yang telah kamu lakukan pada Kakakmu dan istrinya. Tapi tolong, jangan diulangi lagi ya!" Pesan Sita.


"Iya Bu," Yoga mengangguk patuh.


Rumah yang mereka tinggali sudah menjadi milik Dimas sejak lama, sejak Ayahnya menggadaikan rumah itu ke bank dan Dimas yang menebusnya. Dimas membiarkan mereka semua tetap tinggal dirumah itu karena merasa kasihan pada Ayahnya, meski brengsek, pria itu tetap saja Ayah kandungnya sendiri.


Kalau dipikir pikir, Dimas dan Deren sama saja. Bermain dengan dua wanita selama hidup mereka. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin Dimas mewarisi DNA lelaki lelaki gatal dari Ayah, dan keluarga Ayahnya terdahulu.


Dimas melenggang pergi setelah urusannya dengan Yoga selesai, dia kembali kerumah utamanya untuk menyelesaikan polemik dirinya dengan Ibu dan istri pertamanya itu.


🍃🍃🍃


Dimas tidak mau disalahkan secara sepihak atas Dosa yang telah Dimas dan Desi lakukan bersama. Dia berencana untuk mengakhiri kebohongannya kepada sang Ibu dan mengatakan yang sebenarnya.


Malam hari, diruang makan. Dimas mengaduk aduk makanannya diatas piring tanpa memakannya sama sekali.


"Bu, aku memiliki istri kedua. Wanita yang ada di dalam foto itu adalah istriku, bukan selingkuhan ku. Dan juga, Desi sudah mengetahuinya sejak lama," tutur Dimas.


"Apa katamu?" Mayang mendelik karena syok. Hampir saja dia kehilangan kendali dan jatuh pingsan.


"Istri keduaku sedang hamil, Desi berpura pura hamil karena ingin mengambil anak dari istri pertamaku setelah melahirkan," lanjut Dimas lagi.


"Apa?" Kali ini Mayang merasa benar benar telah tertipu oleh menantu sekaligus anaknya sendiri.


"Dimas, teganya kamu membongkar rahasia besar kita?" Desi murka.


"Aku sudah lelah dengan kebohongan ini Desi, aku tidak bisa meninggalkan Vina dan memberikan anak itu padamu," ujar Dimas.


"Dimas, apa kamu lupa dengan janjimu?"


"Maafkan aku soal itu, aku benar benar menyesal. Aku mohon terimalah keputusanku dengan lapang dada, tetaplah menjadi istri pertamaku yang manis dan penurut. Aku berjanji akan bersikap adil pada kalian berdua,"


Prak....


Desi mengamuk, dia menjatuhkan semua piring yang ada dimeja makan ke lantai dan semuanya berserakan.


"Desi, tolong tenangkan dirimu!" teriak Mayang. Tapi Desi tidak memperdulikan teriakan Ibu mertuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2