
Desi membuka kedua matanya lebar lebar, kesadarannya mulai pulih. Dia tersadar saat ini Dia sedang berbaring diatas ranjang dengan lengan seorang pria melingkar di pinggangnya.
"Oh... Sial! Aku benar benar kehilangan akal sehatku semalam," maki Desi pada dirinya sendiri.
""Kak, sudah bangun? Lapar tidak? Mau aku Carikan sesuatu?" Tawar Yoga sambil bangkit dari tempat tidur.
Sesaat Desi terpaku melihat body bagus kotak kotak itu. Benar benar mulus dan kencang, khas body anak muda umur dua puluhan. Anak suci yang baru saja diracuni dan dirusak oleh Desi secara tidak sengaja.
"Apa ini pertama kalinya bagimu?" Desi mengabaikan tawaran bagus dari Yoga.
"Ya, ini pertama kalinya bagiku," Yoga menjawab malu malu.
"Maaf, semalam aku hilang kendali. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merusak mu,"
"Tidak perlu meminta maaf, lagi pula aku menyukainya."
Desi melebarkan kedua matanya, dia terkejut dengan jawaban dari Yoga. Meski bukan pertama kalinya ada pria yang mengatakan hal itu padanya, Desi tetap saja merasa tersanjung.
"Apa normal seorang mantan Kakak ipar bermain dengan mantan adik iparnya sendiri? Huft... Aku harus bisa menjaga jarak dengannya, jangan sampai hal ini terjadi lagi." Gerutu Desi lirih.
🍃🍃🍃
Vina mengirim sebuah pesan singkat pada Ibunya, pesan itu berisi permintaan untuk bertemu disebuah tempat yang tak jauh dari rumah mereka. Karti langsung menyetujuinya, dia pergi diam diam dari rumah untuk menemui Vina tanpa sepengetahuan dari Bayu.
Cafe Palmia pukul 09.00 Pagi, Vina dan Karti bertemu. Tatapan kedua wanita itu saat beradu pandang mengisyaratkan rasa rindu yang mendalam. Vina menangis, begitu juga dengan Karti. Tapi senyum diantara keduanya masih bisa merekah indah seperti sekuntum bunga.
Keduanya berpelukan, kemudian duduk dengan tenang di kursi masing masing.
"Kemana saja kamu? Ibu khawatir padamu!" Omel Karti.
__ADS_1
"Aku pergi untuk menenangkan diri sebuah tempat yang rahasia," sahut Vina.
"Mana cucuku? Aku ingin melihatnya," Karti mencari cari diserap sudut Cafe.
"Lain kali aku akan mempertemukan kalian, aku sedang menitipkannya kepada orang yang bisa aku percaya."
Tanpa Vina dan Desi ketahui, orang suruhan Dimas memata-matai mereka dari jauh. Segala gerak gerik dan obrolan mereka berdua diamati dengan begitu teliti dan penuh dengan kehati-hatian.
Kurang lebih, dua jam lamanya Vina dan Karti mencuri temu. Setelah itu Vina memesan Taxi untuk sang Ibu, agar dia bisa pulang ke rumah dengan nyaman. Karti belum pulih betul, Vina tidak mau membuatnya lelah dan kurang beristirahat jika terlalu lama berada diluar rumah.
Selepas kepergian Ibunya, Vina menyebrang jalan dan kembali ke dalam Hotel. Dia harus segera mengemasi barang barangnya dan kembali ke kampung tempatnya bersembunyi. Belum juga selesai mengemasi baju, seseorang datang mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?" Teriak Vina dari dalam.
"Layanan bersih bersih kamar," sahut orang itu.
"Kita bertemu lagi sayang," Dimas tersenyum senang.
"Bagaimana bisa anda tau aku ada disini?" Tanya Vina.
"Insting ke laki lakianku tidak bisa diragukan oleh siapapun, termasuk kamu." Sahut Dimas asal.
Dimas memeluk Vina sesaat, lalu membopongnya dan masuk ke dalam kamar. Vina berontak, tapi dia tak peduli dan mengunci pintu dari dalam.
Brugh...
Vina dilempar keatas kasur, Dimas menatap istrinya dengan tajam sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Apa yang mau anda lakukan Tuan?" Vina mengkerut takut.
"Tentu saja meminta jatah darimu, sampai detik ini kamu masih menjadi istriku secara sah bukan?" Sahut Dimas.
"Tidak, jangan lakukan itu! Aku tidak mau!" Tolak Vina mentah mentah.
"Kamu tidak boleh menolak keinginan suami, Tuhan akan marah kepadamu. He... He... He..."
Setelah sekian lama, pertempuran panas itu kembali terjadi. Awalnya Vina menolak, tapi lama kelamaan dia mengikuti pola permainan suaminya. Mulut boleh berkata tidak, tapi tubuh tidak. Jelas sekali tubuh Vina sangat merindukan belaian kasih sayang seorang Dimas.
🍃🍃🍃
Vina tertidur karena kelelahan, beberapa jam kemudian dia bangun dan langsung bersiap bangkit untuk melarikan diri tapi Dimas menahan tangannya kuat kuat.
"Mau kemana kamu? Jangan pernah berpikir aku akan membiarkan kamu pergi!" Hardik Dimas.
"Lepaskan aku, aku harus segera kembali untuk menemui anakku," Vina mencoba melepaskan cengkraman tangan Dimas.
"Anakmu? Maksud kamu anak kita? Ya, dimana anak kita saat ini?" Tanya Dimas.
"Anda tidak perlu tau Tuan, sebaiknya anda menjaga jarak dari kami. Aku tidak mau nona Desi murka dan menggila lagi," Vina memberi Dimas nasihat.
"Kami sedang dalam proses cerai, dia meminta cerai dariku," celetuk Dimas.
"Apa? Cerai? Bagaimana bisa kalian berdua bercerai? Apa itu karena aku?"
"Bukan, semua bukan karena kamu. Memang kami berdua sudah tidak cocok saja."
Vina menghela nafas pendek, akhirnya hubungan mereka kandas juga. Padahal Vina sudah mengalah dan banyak berkorban untuk mereka berdua, tapi semua itu rupanya sia sia. Desi dan Dimas tetap saja berpisah.
__ADS_1
Bersambung...