Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 40


__ADS_3

Mayang sejak semalam tak bisa tidur, saat ini dia sedang sibuk mondar mandir seperti setrikaan didepan pintu. Lama sekali Dimas dan Vina datang, padahal harusnya mereka sudah sampai rumah pagi ini.


Hamparan makanan enak sudah tersaji diatas meja makan, lengkap dengan pencuci mulut dan aneka jenis minuman. Mayang sudah tidak sabar ingin sarapan bersama orang orang tercintanya, Dimas, Vina dan juga Dion.


Rukmini mendekati Mayang, dia bermaksud untuk menawari wanita itu makan.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya sarapan dulu. Biar yang lainnya menyusul nanti, saya takut Nyonya sakit kalau telat makan," bujuk Rukmini.


"Tidak, nanti saja kalau anak anakku datang," tolak Mayang. Kalau sudah begitu, Rukmini hanya bisa menarik nafas pelan dan pergi meninggalkan majikannya.


Tak lama, suara mobil terparkir di teras rumah. Mayang membuka pintu dan menyambut kedatangan anggota keluarga mereka. Tangis haru pecah saat Mayang melihat Vina menggendong Dion, pria kecil bermuka manis persis seperti Denis.


"Oh... Cucuku sayang," ucap Mayang. Vina langsung memberikan Dion pada Ibu mertuanya.


"Bagaimana kabar Ibu?" Tanya Vina.


"Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Kabarku juga baik Bu,"


"Aku rindu sekali padamu, juga cucuku yang tampan ini," Mayang mencubit pipi Dion gemas. Sementara itu Dion hanya bisa diam sambil memandangi wajah Mayang.


Mayang menggiring Vina dan Dimas keruang makan, mereka semua sarapan bersama dengan penuh suka dan cita. Mayang dengan telaten menyuapi cucunya, Dion tidak melakukan penolakan seolah tau kalau Mayang adalah anggota keluarga terdekatnya. Dion memang anak yang pintar, kepintarannya menurun dari Ibu dan Ayahnya.


Selesai makan, Mayang memandikan Dion, mengganti pakaiannya dan mengajaknya bermain. Sementara Vina hanya mengawasi dari jauh, sambil bersantai dan minum kopi.

__ADS_1


"Enak ya, ada yang gantiin momong anak," sindir Dimas.


"Enaklah, ini saatnya aku bersantai dan menikmati hari. Aku mau masuk ke dalam, kamu gantian jaga Dion dengan Ibu ya," pinta Vina.


"Oke, tapi nanti malam aku minta jatah dua kali," Dimas mengedipkan matanya sebelah.


"Idih, genit deh!" Vina tertawa melihat kelakuan konyol suaminya.


🍃🍃🍃


Sore harinya, ditempat lain. Karti menunggu di teras rumah, dia menunggu kehadiran Vina, Dimas dan Cucunya. Tapi sampai dia lelah duduk, tanda tanda kedatangan tiga orang itu belum ada juga.


Ponsel disaku daster Karti bergetar, pertanda ada pesan masuk di ponselnya.


Karti cemberut, dia kesal karena Vina lebih mementingkan perasaan Ibu mertuanya daripada Ibu kandungnya sendiri. Padahal Karti sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk Vina, tapi sepertinya dia harus membagikan hidangan itu ke tetangga agar tidak mubazir.


"Bu, sedang apa sih duduk disini terus? Ayo masuk, hari sudah sore," ajak Bayu.


"Iya, ini juga mau masuk,"


"Ibu kenapa? Kok wajahnya cemberut seperti itu?"


"Aku kesal pada Vina, dia lebih peduli pada Ibu mertuanya daripada aku," ucap Karti secara tidak sadar. Dia telah membuka rahasia Vina yang telah berhasil dia sembunyikan selama ini.


"Apa? Ibu mertua? Apa maksud ucapanmu itu Bu?" Bayu terkejut bukan main. Dia langsung menuntut sebuah jawaban dari Karti Istrinya.

__ADS_1


"Emmm... Maaf Pak, Ibu salah bicara tadi," ucap Karti.


"Jangan bohong, kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku ya kan?" Bentak Bayu.


"Anu Pak, sebenarnya Vina sudah menikah secara diam diam dengan seorang pria," ucap Karti lirih.


"Apa katamu?" Bayu memegangi dadanya. Tak berselang lama dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.


🍃🍃🍃


Total sudah tiga jam Bayu pingsan, Karti menunggunya sadar dengan setia dan perasaan khawatir. Sampai akhirnya perlahan lahan pria itu membuka mata dan menemukan kesadarannya kembali.


"Bu, mana Vina?" Tanya Bayu.


"Dia baru akan datang ke rumah ini besok sore Pak,"


"Carikan tongkat kayu, Bapak ingin memukulnya,"


"Jangan Pak, dia seperti itu demi Bapak. Demi mendapatkan uang untuk oprasi Bapak waktu itu," jelas Karti.


Karti menceritakan asal mula pernikahan Vina dengan Dimas, Bayu menangis karena merasa bersalah dengan Vina. Gadis muda yang harus ikut menanggung beban kesulitan ekonomi keluarganya.


"Sudahlah Pak, yang lalu biar berlalu, jangan kita bahas lagi ya," pinta Karti.


"Iya Bu, Bapak mau memaafkan kesalahan Vina asal dia mau datang menemui kita." Kata Bayu.

__ADS_1


__ADS_2