
Satu minggu kemudian...
Dimas dan Desi resmi bercerai, keduanya berjalan keluar gedung pengadilan didampingi oleh pengacara serta keluarga masing masing.
Sarah menatap angkuh mantan menantunya, aura kebencian dan amarah terpancar jelas disana. Sarah merasa Desi paling berjasa atas suksesnya seorang Dimas saat ini, tapi yang terjadi Desi malah dicampakkan oleh Dimas.
Sementara itu didalam hati Dimas, dia sangat menyayangkan perceraian yang terjadi antara dirinya dan Desi. Andai Desi mau dimadu, mau merubah segala tabiat buruknya, pasti Dimas tidak akan mengabaikannya dan menerima tawaran cerai darinya.
"Terimakasih karena sudah menemaniku selama sepuluh tahun terakhir," ucap Dimas. Dia menyodorkan tangannya kearah Desi dan mengajaknya berjabat tangan, sayang Desi menolaknya.
"Aku benci padamu, hidupmu tidak akan pernah bahagia usai bercerai dariku. Lihat saja nanti!" Celoteh Desi.
"Hey, wanita ular. Apa setiap kata kata yang keluar dari mulutmu itu selalu mengandung bisa beracun?" Sambar Mayang.
"Kalau putriku wanita ular, maka kamu adalah wanita serigala Mayang," sambung Sarah.
"Sudahlah Bu, kita pergi dari sini. Tidak ada untungnya bagi kita terus berlama lama dengan manusia menyebalkan seperti mereka." Desi menyeret lengan Ibunya dan mengajaknya pergi.
Dimas terus memandangi kepergian Desi, hingga bayang bayang wanita itu hilang dan bersembunyi didalam mobil. Tak terasa, air mata Dimas jatuh menetes. Meski dia membenci Desi, rasa cinta dihatinya masih ada walaupun hanya sedikit.
"Ayo kita pulang, kamu harus bersiap menjemput Vina dan Dion bukan?" Oceh Mayang.
"Iya, ayo kita pulang."
🍃🍃🍃
Di kediamannya, Karti tengah merapihkan dan beres beres rumah. Dia telah dikabari oleh Dimas jika Dimas,Vina dan Dion anak mereka akan datang berkunjung tiga hari lagi. Dia begitu bersemangat membersihkan rumah, agar anak, cucu dan menantunya mau menginap disana walau hanya satu malam saja.
Bayu sedikit merasa heran, kenapa Istrinya begitu sangat bersemangat. Wajahnya ceria dan gembira, tidak seperti beberapa hari yang lalu.
"Tumben bersih bersih rumah? Apa ada yang mau datang berkunjung kesini?" Tanya Bayu.
__ADS_1
"Rumah ini begitu kotor dan penuh debu, apa tidak boleh aku membersihkannya?"
"Tentu saja boleh. Tapi aku heran saja, biasanya kamu hanya membersihkan rumah kalau mau lebaran Idul Fitri dan Idul Adha saja," seloroh Bayu.
"Sembarangan kalau bicara, aku selalu membersihkan rumah setahun tiga kali,"
"Apa bedanya? Hanya nambah sekali saja," Bayu sedikit menahan tawa.
Selesai beres beres rumah, karti mengambil kertas dan pulpen. Dia mencatat beberapa sayuran dan lauk yang harus dia beli ke pasar. Dia berencana masak enak untuk menyambut kedatangan cucu, menantu dan putrinya.
"Vina sangat suka rendang, aku akan buat rendang untuknya," ucap Karti. Tak sengaja, Bayu mendengar ucapan Karti.
"Apa Vina akan pulang kerumah ini?" Tanya Bayu.
"Iya,"
"Kapan?"
"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan anak itu, aku ingin memarahinya," ucap Bayu kesal.
"His, Bapak. Anak belum pulang sudah mau dimarahi, nanti bisa bisa dia kabur tidak jadi pulang,"
"Biar saja dia tidak jadi pulang,"
"Kalau dia sampai tidak jadi pulang gara gara bapak, maka aku akan mengusir Bapak dari rumah ini!" Ancam Karti.
"Apa aku tidak salah dengar, kamu berani mengancam suami sendiri?" Bayu terkaget kaget.
"Tentu saja berani, semua karena Bapak rewel dan menyebalkan!" sahut Karti ketus.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Di kamarnya...
Vina baru saja mengepak barang bawaannya dan barang barang pribadi milik Dion ke dalam koper. Tentunya dibantu oleh Nirmala sang Bibi. Nirmala menangis karena sebentar lagi dia akan ditinggalkan oleh Vina dan Dion cucunya.
"Kenapa Bibi tidak mau ikut bersama kami? Disini Bibi sendirian," rayu Vina.
"Terlalu banyak kenangan disini, Bibi berat hati ingin meninggalkannya," sahut Nirmala.
"Baiklah, aku akan sering sering mengunjungi Bibi jika ada waktu luang," Janji Vina.
"Bibi tunggu kehadiran kamu dan Dion selalu,"
Nirmala dan Vina saling berpelukan, mereka saling menunjukan cinta dan kesedihan masing masing. Nirmala sudah menganggap Vina seperti anak sendiri, Vina juga sudah menganggap Nirmala seperti Ibu kandungnya sendiri.
Seolah mengerti kalau Ibu dan Neneknya sedang bersedih, Dion langsung melempar mainan mobilnya dan ikut berpelukan dengan mereka. Sontak Vina dan Nirmala mengukir senyum karena anak laki laki itu sudah semakin pintar saja.
Samar samar, telinga Vina mendengar suara mobil terparkir di halaman rumahnya. Dia langsung bangkit dan keluar rumah sambil menggendong Dion. Ternyata mobil itu adalah milik Dimas, dia datang untuk menjemput Vina dan Dion.
"Cepat sekali sampainya," kata Vina.
"Iya, jalanan lengang jadi bisa ngebut agar bisa segera sampai dan bertemu dengan putraku tercinta," Dimas mengambil Dion dari gendongan Vina.
"Jadi, hanya untuk putramu saja cintamu itu?" Vina cemburu.
"Aih, ada yang cemburu. Masa dengan anak sendiri saja cemburu sih," goda Dimas. Vina hanya memonyongkan bibirnya beberapa senti ke depan.
"Jangan cemberut begitu dong, jelek tau. Aku juga cinta kepadamu, kamu tau itu kan?" celoteh Dimas.
"Iya, aku tau kok. Aku hanya bercanda saja," Vina meringis. Dimas mencubit pipi istrinya gemas.
Bersambung...
__ADS_1