Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 60


__ADS_3

Pagi hari, di cafe milik Desi. Mr. X tiba tiba saja muncul dengan menggunakan masker dan topi berwarna hitam. Dia berharap tidak ada yang mengenalinya dan mengikutinya dari belakang. Terutama orang orang suruhan Dimas.


Desi panik bukan main, dia langsung memeriksa apakah Dimas ada disana. Setelah merasa semuanya aman, Desi membawa Mr. X ke dapur untuk berbicara.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Desi.


"Beberapa orang datang ingin membunuhku, salah satu dari mereka berhasil aku habisi dan berkata mereka suruhan Ibumu!" Tutur Mr. X


"Mana mungkin Ibuku berani macam macam padamu, kita partner. Pasti itu orang Dimas, dia melakukan itu agar kita berpecah belah dan bertengkar," Desi membela sang Ibu.


"Lalu kita harus bagaimana? Diluar negri tidak aman, disini pun tidak aman," Mr. X uring uringan.


"Pergilah ke pelosok, menyamar lah menjadi orang lokal. Itu akan membuat kamu lebih sulit ditemukan," perintah Desi.


"Oke, tapi aku minta uang lagi,"


"Uang lagi? Yang benar saja? Apa kamu mau memeras ku huh?"


"Memangnya bersembunyi tidak memerlukan uang? Aku menjadi buron juga gara gara kamu!"


Desi membuka dompetnya, dia memberikan uang senilai lima juta rupiah pada pria itu secara cas.


"Terimakasih," Mr. X tersenyum senang.


"Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"


Desi memijit kepalanya, dia merasa pusing dan stres. Pria itu selalu saja datang meminta sejumlah uang padanya, jika terus begini lama lama Desi akan bangkrut. Lebih baik dia dibunuh saja sekalian, atau sekalian saja Desi masuk penjara agar tidak kehilangan uang.

__ADS_1


Sarah menghampiri Desi, dia berniat meminta uang untuk pergi perawatan ke salon. Tapi niatnya diurungkan karena Sarah mendapati Desi sedang menangis terisak.


"Kamu kenapa?" Tanya Sarah.


"Tidak apa apa. Ada apa Ibu kesini?" Tanya Desi balik.


"Sebenarnya aku ingin minta uang untuk pergi ke salon," ujar Sarah.


"Astaga, uang lagi uang lagi. Kalian berdua benar benar membuat aku stres!" Maki Desi kesal.


"Siapa yang kamu maksud dengan kalian berdua?"


"Ibu dan Mr. X," sahut Desi.


"Dia kemari? Dia belum mati?" Sarah terkejut.


"Aku pikir, kita akan aman jika dia mati," dengus Sarah kesal.


Sarah lupa, Mr. X adalah penjahat kelas kakap. Dia sangat licin dan sulit untuk ditangkap, apa lagi untuk dihabisi.


🍃🍃🍃


Di ruang kerja Dimas...


Pak Anton memberikan laporan jika salah satu anak buahnya melihat Mr. X kembali. Dia tidak mungkin salah lihat, pria bermasker dan berpakaian serba hitam itu pasti adalah pelaku penembakan Nona Vina.


"Segera buat laporan ke polisi, jika dia tertangkap, Desi dan Ibu Sarah juga akan ikut tertangkap," ucap Dimas.

__ADS_1


"Siap Tuan!"


"Ngomong ngomong, bagaimana dengan Rudi?" Lanjut Dimas.


"Dia sudah di tahan dan diberikan hukuman selama tiga tahun penjara. Untuk anaknya, sesuai perintah Tuan, saya sudah memberikan bantuan uang tunai,"


"Bagus, semoga saja semuanya berjalan lancar sesuai yang kita harapkan,"


"Amin..."


Klak...


Dion menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Ayahnya yang tak terkunci. Anak itu berlari dan langsung duduk dipangkuan Dimas tanpa aba aba.


"Ayah, Ibu bilang adikku perempuan. Aku tidak mau punya adik perempuan, perempuan itu cengeng," celetuk Dion. Sontak Pak Agus dan Dimas tertawa lepas.


"Aku maunya adik laki laki Ayah, bisa diajak main bola dan tembak tembakan," lanjut Dion.


"Sayang, laki laki dan perempuan itu sama saja. Sama sama menyenangkan jika diajak bermain. Apa Ibumu sudah pulang dari Dokter?" Tanya Dimas.


"Sudah, sekarang dia sedang berbincang sambil tertawa dengan Nenek diruang tengah. Nenek senang sekali karena adikku perempuan," tutur Dion sambil memonyongkan bibirnya ke depan.


"Baiklah kalau begitu, sekarang Tuan kecil ikut Pak Anton dulu yuk, kita main tembak tembakkan. Biarkan Ayah menyelesaikan pekerjaannya dulu," Anton meraih tangan kecil anak majikannya.


"Ayuk, tapi Pak Anton harus kalah ya, tidak boleh menang. Yang boleh menang hanya aku saja." Ucap Dion.


Watak Dimas dan Dion telah terlihat sama sejak kecil, sama sama ambisius, sama sama tidak mau kalah. Anton berharap dimasa depan, Dion akan menjadi orang sukses sama seperti Dimas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2