Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 51


__ADS_3

"Sayang, tunggulah disini. Aku mau pergi ke suatu tempat," ucap Dimas setelah selesai menyuapi sang istri sarapan.


Wajah tampan itu terlihat penuh oleh aura negatif, aura kebencian dan dendam. Vina menebak Dimas akan pergi mencari Ibu Sarah, wanita yang diduga menjadi otak penembakannya. Vina memang merasa sakit hati jika betul dugaan itu adanya, tapi dia tidak mau hubungan Dimas dan Sarah semakin memanas.


"Kalau boleh tau, kemana kamu akan pergi?" Tanya Vina. Dimas hanya diam saja, dia takut diceramahi oleh wanita itu.


"Apa kamu mau mencari Ibu Sarah?" Tebak Vina.


"Aku harus membuat perhitungan dengannya. Siapapun yang telah menyakiti wanitaku, dia harus membayar semuanya dengan impas," ucap Dimas.


"Sayang, jangan terlalu keras pada wanita itu. Bahkan sekalipun dugaan kita benar, bagaimanapun dia adalah mantan Ibu mertuamu," Vina memberi nasihat.


"Lihat bagaimana nanti saja," Dimas mengarahkan pandangannya kearah lain.


Usai pamit pada sang istri, Dimas bergegas pergi dari rumah sakit menuju kediaman Desi. Jarak antara rumah sakit dengan rumah Desi lumayan jauh, sekitar dua jam perjalanan. Tapi Dimas rela menempuh jarak sejauh itu demi memberi pelajaran pada Sarah dan Desi.


Tiba disebuah rumah besar bercat putih biru, Dimas turun dari mobilnya. Dia melangkah dengan langkah terburu buru dan menggedor pintu rumah Desi kuat.


Tok... Tok... Tok...


Denis mengetuk pintu, tak berapa lama seorang ART keluar dari dalam rumah.


"Maaf Bu, Desi dan Ibu Sarah ada dirumah?" Tanya Dimas.


"Anu Den, mereka baru saja pergi ke luar negri semalam. Ada apa ya? Nanti biar saya sampaikan saja," sahut wanita paruh baya itu.


"Pergi keluar negri?"


"Iya,"


"Ada urusan apa mereka disana?"

__ADS_1


"Saya tidak tau Den,"


Dimas meninju tembok, dia kesal karena dua wanita ular itu telah melarikan diri. Hal itu semakin memperkuat kalau dugaan Dimas itu benar, otak penembakan Vina adalah Ibu Sarah.


Dimas juga menebak jika pelaku penembakan Vina juga kabur ke luar negri, sekarang semakin sulit saja bagi Dimas untuk menangkap mereka semua.


"Kita lihat saja, mau sampai kapan kalian semua kuat tinggal di luar negri," ucap Dimas lirih.


🍄🍄🍄


Dimas kembali ke rumahnya, dia ingin menjenguk Dion putra semata wayangnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Dion, anak ajaib kesayangannya.


Tiba disana ternyata Dion sedang tidur sore, dia kelelahan setelah seharian menangis mencari ibunya. Wajah Dion terlihat pucat, matanya cekung karena selalu menolak saat diberi makan dan susu.


"Bagaimana keadaan Vina Dimas?" Tanya Bayu.


"Dia sudah baikan,"


"Belum, mereka semua pergi ke luar negri,"


"Jadi, mereka lolos begitu saja?"


"Tidak, aku akan segera tau kalau mereka kembali ke negara ini. Ayah tenang saja, mereka tidak akan bisa kabur lama,"


"Baiklah kalau begitu. Ngomong ngomong, bagaimana kalau malam ini kamu yang jaga Vino, biar Ayah yang jaga Via. Ayah ingin sekali bertemu dengannya," pinta Bayu.


"Boleh, tolong bawakan juga beberapa biji pakaian ganti untuk Vina ya,"


"Iya."


Dimas merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur, dia ingin meregangkan ototnya yang kaku agar lemas dan fleksibel kembali saat digunakan. Dimas memandangi Dion yang tertidur disisinya.

__ADS_1


"Anak tampan, doakan Ibumu ya agar bisa segera pulih. Agar kita bisa sama sama lagi seperti sedia kala," ucap Dimas.


Cup...


Dimas mencium kening Dion, lalu tertidur pulas di sisinya.


🍄🍄🍄


Di rumah sakit...


Vina menunggu kedatangan Dimas dengan perasaan was was, dia takut terjadi sesuatu pada pria itu.


"Nak," panggil Bayu.


"Ayah,"


"Malam ini aku yang akan menjaga kamu, Dimas akan menjaga Dion bersama Ibu,"


"Iya ayah, tidak apa apa."


Bayu mengusap rambut putrinya, dia merasa kasihan pada nasib Vina yang seolah selalu apes menjadi incaran orang jahat.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bayu.


"Aku sudah baikan, Ayah jangan khawatir ya,"


"Tentu saja aku khawatir, kamu putriku satu satunya," ucap Bayu.


Keduanya berpelukan, tanpa sadar Bayu menangis. Tidak ada salahnya kan seorang pria dewasa menangis? Wajar Bayu menangis, dia sangat mencintai dan menyayangi Vina.


Untuk kesekian kalinya Bayu berharap, semoga orang orang jahat itu cepat ditangkap oleh polisi dan menerima hukuman yang berat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2