Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 32


__ADS_3

"Ibumu sakit, apa kamu tidak mau menemuinya?" Nirmala kembali membujuk Vina untuk menjenguk Ibunya.


"Aku ingin menemuinya, tapi..." Vina berucap ragu.


"Tapi kamu takut bertemu dengan Dimas?" Tebak Nirmala.


"Iya, aku takut Dimas menyuruh orang untuk mengawasi ku. Bagaimanapun, dia pasti tidak rela aku membawa kabur putranya,"


Vina mengalihkan pandangannya kearah Dion, bocah berumur dua tahun yang sedang asik bermain mobil mobilan. Wajah dan perawakannya sama persis dengan sang Ayah, tidak ada yang dibuang. Begitu juga dengan sikap dan pembawaannya.


Vina sempat merasa takdir Tuhan tidak adil padanya, dia yang mengandung dan melahirkan tapi putranya mirip dengan suaminya. Pria yang paling dia ingin hindari didunia ini.


Vina menyangka dengan kepergiaannya, hubungan Dimas dan Desi bisa kembali membaik. Dia sama sekali tidak tau kalau yang terjadi adalah sebaliknya.


"Pergilah jenguk Ibumu sendiri, biar Dion bersamaku disini," ucap Nirmala.


"Aku masih bingung, aku pikir pikir dulu ya." Vina masih saja enggan untuk menunaikan nasihat dari Bibirnya.


Sebenarnya Vina merasa khawatir dengan keadaan Ibunya, tapi dia sudah lama tidak pulang ke rumah. Kedua orangtuanya pasti akan marah dan mengamuk padanya, terutama Ayahnya.


🍃🍃🍃


"Vina benar benar keterlaluan, bisa bisanya dia pergi dua tahun tak pulang pulang. Apa dia sama sekali tidak rindu pada orangtuanya?" Bayu mendesis kesal.


"Sabar Pak, mungkin dia ada alasan lain," ucap Karti menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Kalau memang ada alasan lain, dia kan bisa bicara kepada kita. Bukan menghilang begitu saja dan tak bisa dihubungi!"


"Sabar Pak, sabar. Besok juga dia pulang,"


"Besok kapan? Kamu sudah lama sakit pun dia tidak pulang menjenguk." Bayu terus saja mengoceh tanpa henti.


Karti menarik nafas berat, dia pusing mendengar ocehan suaminya yang panjang dan berderet seperti barisan semut.


Siang hari, Karti baru saja selesai meminum obatnya. Tiba tiba ponselnya yang tergeletak diatas meja makan berdering. Sebuah nomor baru masuk menelfon, dia langsung berpikir kalau itu adalah Vina putrinya.


"Hallo..." Sapa Karti dengan suara berat.


"Bu," sapa Vina balik.


Tubuh Karti gemetaran, dia menangis mendengar suara yang sangat dirindukannya saat ini. Filing seorang Ibu tidak pernah salah, Vina yang menelfon dirinya.


"Aku baik baik saja, kapan kamu pulang? Bagaimana dengan putramu? Ibu rindu sekali padamu," Tanya karti bertubi tubi.


"Putra? Siapa yang punya putra? Apa itu Vina?" Tanya Bayu yang tiba tiba saja sudah berdiri di samping Karti. Tanpa pamit, Karti langsung mematikan telfonnya. Dia tidak mau aib Vina terbongkar saat ini dan membuat Bayu syok.


"Kenapa dimatikan? Apa itu Vina?" Tanya Bayu ulang.


"Pulsaku habis, jadi mati sendiri. Itu bukan telfon dari Vina, bagaimana bisa Vina punya putra, dia kan belum menikah," sanggah Karti.


Karti melarikan diri dari pertanyaan suaminya, dia masuk ke dalam kamar dan pergi beristirahat. Meski diam, Bayu sangat tidak puas dengan jawaban itu. Bayu sangat yakin ada yang sedang disembunyikan oleh Karti istrinya.

__ADS_1


Di kamarnya...


Vina duduk ditepi ranjang dengan wajah terpaku, dia mendengar suara Ayahnya dan hatinya terasa sakit. Sakit karena rindu, sakit karena rasa khawatir dan cemas. Mungkin memang sudah saatnya pria itu tau tentang kebenaran yang selama ini Vina sembunyikan.


"Bu, makan," teriak Dion dari ruang sebelah.


Meski baru dua tahun, anak kecil itu sudah pandai berbicara. Dia memang mewarisi genetik Ayahnya, pintar dan cepat tanggap. Tapi semoga saja dia tidak mewarisi sikap genit dan ganjen Dimas dalam meluluh lantakkan hati perempuan.


Dion sudah bersiap di kursi makannya, Nirmala sedang menyendok nasi dan bersiap untuk menyuapinya.


"Mau sama Ibu," Dion merengek. Vina tertawa karena anak itu selalu bersikap manja padanya.


"Ayo sini makan dengan Ibu," ucap Vina.


"Habis telfon siapa? Kenapa matamu merah?" Tanya Nirmala penasaran.


"Aku habis telfon Ibu," sahut Vina.


"Oh... Nanti saja ceritanya kalau Dion sudah tidur,"


"Iya Bi."


Tiba tiba saja Dion menyentuh wajah Ibunya, dia seolah tau kalau wanita itu sedang sedih karena sesuatu.


"Anak pintar kesayangan Ibu, sehat sehat ya nak." Vina mencium pipi Dion gemas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2