
"Bu, sampai kapan kita bersembunyi terus di negara ini? Aku tidak cukup banyak uang untuk terus menerus tinggal diluar negri," keluh Desi.
"Hanya sebulan saja sayang, sampai keadaan mulai dingin,"
"Lalu pembunuh bayaran itu?"
"Dia mungkin tidak akan kembali ke negara kita, aku sudah meminta orang untuk melenyapkannya. Jadi Dimas tidak bisa menangkapnya dan kita akan aman. Ha... Ha... Ha..."
Desi merasa sedikit lega mendengar ucapan itu, setidaknya dia dan Ibunya akan lolos dari ancaman penjara. Otak penembakan Vina memang Sarah, tapi Desi yang mendanai rencana itu. Jika Sarah masuk penjara, Desi juga akan ikut masuk ke penjara.
🍃🍃🍃
Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, Vina akhirnya diijinkan pulang oleh Dokter. Meski masih merasakan sedikit nyeri, Vina merasa tubuhnya jauh lebih segar dan sehat dari sebelumnya.
Hari itu Vina dan Dimas pulang ke rumah, Dion langsung turun dari gendongan neneknya ketika melihat Ibunya turun dari dalam mobil.
"Ibu," panggil Dion sambil berlari lari kecil.
Vina menangkap Dion, menggendongnya dan menciumnya bertubi tubi. Beberapa hari tak bertemu ternyata Dion terlihat kurus, mungkin karena dia tidak mau makan dan menangis terus.
"Ibu rindu sekali pada Dion," bisik Vina. Dion merespon ucapan sayang sang Ibu dengan ciuman lembut.
Dimas meminta Dion pindah ke gendongannya, bagaimanapun tangan Vina masih sakit dan belum boleh menggendong terlalu lama. Tapi sayang Dion tidak mau, dia hanya mau menempel pada Vina saja.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, aku tidak apa apa," ucap Vina.
"Tidak sakit memangnya?" Tegas Dimas.
"Hanya sedikit saja,"
Dimas merawat Vina dengan telaten, memandikan, menyisir rambut dan menyuapinya makan. Vina merasa beruntung bisa memiliki suami seperti Dimas, yang mau menemani dirinya saat senang maupun susah.
"Mas, apa kamu akan selalu seperti ini padaku?" Tanya Vina. Dia takut sewaktu waktu perlakuan dan perasaan Dimas padanya akan berubah.
"Tentu saja iya. Kenapa kamu tiba tiba bertanya seperti itu?"
"Tidak apa apa."
Saat ini Vina merasa cemas dan khawatir, bagaimana kalau mereka kembali dan menyakiti anaknya? Atau menyakiti anggota keluarga yang lain? Tidak apa jika Vina yang disakiti, asal jangan anggota keluarganya yang lain.
"Mas, apa Desi dan Ibunya akan kembali kesini? Aku tidak tenang jika mereka belum tertangkap,"
"Kamu tenang saja, saat uang pegangan mereka habis mereka pasti akan kembali kesini. Saat itu aku akan segera tau dan segera bisa menangkapnya,"
Vina memeluk Dimas, pria itu menyambutnya dengan hangat dan penuh kasih sayang.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Cerita kembali pada Desi...
Desi membuka buku tabungannya, uang yang tersisa didalam rekening hanya cukup untuk beberapa bulan saja. Biaya sewa tempat tinggal di negara itu cukup tinggi, apalagi biaya makan dan lain lainnya.
Omset Cafe miliknya di kota juga mulai merosot, karena banyak bermunculan cafe baru. Desi benar benar harus memikirkan cara agar Cafenya bisa jaya seperti dulu.
Berbeda dengan Desi yang sedang pusing, Sarah terlihat begitu santai seperti tak punya beban pikiran. Dengan tenangnya dia menikmati makan malam sambil menonton televisi.
"Bu, kita harus berhemat disini. Kita tidak boleh hidup boros dan konsumtif," ucap Desi.
"Memangnya kamu bercerai dengan Dimas tidak membawa sedikitpun harta darinya?" Tanya Sarah sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.
"Mana mungkin dia mau membagi hartanya denganku, aku telah menipunya," sahut Desi.
"Dasar wanita bodoh! Harusnya kamu minta harta gono gini padanya, kalau seperti ini hidup kita kedepannya akan susah," ucap Sarah.
"Memalukan sekali Bu minta ini dan itu kepada seorang pria setelah kita melakukan kesalahan, bukannya dikasih nanti malah dimaki maki,"
Sarah mendadak kehilangan selera makan, dia benci pada Desi karena menurutnya sudah bersikap terlalu bodoh dan lembek pada Dimas.
"Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Dia juga tidak bisa meminta harta gono gini lagi pada pria itu!" Gerutu Sarah kesal.
Bersambung...
__ADS_1