Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 35


__ADS_3

Dimas berulang kali membujuk Vina untuk menemui Mayang, tapi Vina menolak. Dia pasti akan bertanya soal Dion dan memaksanya untuk kembali bersatu dengan Dimas.


Vina merasa belum siap untuk tinggal satu rumah dengan Dimas, terlebih urusan Dimas dan Desi belum juga selesai.


"Ibu sangat merindukan kamu, dia juga selalu merindukan anak kita," ucap Dimas.


"Jika sudah tiba nanti, aku akan membawa Dion dan mempertemukannya dengan kalian,"


"Vina, kembalilah padaku. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu," Dimas merengek seperti anak bayi.


"Maafkan aku, aku masih ragu untuk memulai hubungan kembali denganmu." Untuk kesekian kalinya kalimat penolakan meluncur keluar dari mulut Vina.


Dimas merasa kecewa, tapi sedikitpun dia tidak akan pernah menyerah kepada Vina. Sampai kapanpun, dia akan terus mengejar Vina hingga akhirnya Vina lelah dan jatuh kedalam pelukan Dimas lagi.


Pada akhirnya, Dimas membiarkan Vina pergi. Tapi bukan Dimas namanya kalau tidak menyuruh orang untuk membuntuti Vina dari jauh, Dimas perlu tau tempat tinggal Vina dan anaknya, agar sewaktu waktu Dimas bisa datang mengunjunginya.


"Aku mencintainya, tidak ada yang lain di hatiku selain dia. Tapi entah mengapa aku merasa belum siap untuk tinggal bersamanya lagi," ucap Vina berkali kali didalam hatinya.


Sepanjang perjalanan menuju kota X Vina selalu termenung, dia menyandarkan kepalanya ke bahu kursi bis. Hingga rasa ngantuk menyergap dan membuat Vina tertidur lelap.


Beberapa hari tak bertemu dengan Dion membuat Vina rindu setengah mati. Bocah itu adalah separuh hatinya, segala-galanya bagi Vina.


Dion menyambut kepulangan Vina dengan gembira, dia memeluk sambil melompat lompat kecil.


"Ibu pulang," ucap Dion.


"Iya sayang, Ibu pulang. Kamu tidak nakal kan ditinggal berdua dengan Nenek?" Tanya Vina sambil menatap wajah Dion.

__ADS_1


"Tidak kok, dia nurut sekali." Sambung Nirmala yang keluar dari arah dapur sambil membawa sarapan untuk Dion.


"Bagaimana kabar Ibumu?" Tanya Nirmala lagi.


"Dia sudah baikan," sahut Vina.


"Kalau Ayahmu bagaimana?"


"Aku tidak tau, aku tidak datang ke rumah. Niat hati mau menghindari Tuan Denis tapi malah pria itu datang ke Hotel tempatku menginap," keluh Vina.


"Untuk apa dia menemui kamu?"


"Dia ingin aku kembali padanya, tapi aku masih tidak enak hati. Aku masih merasa kalau gara gara aku dia dan Desi akhirnya bercerai,"


"Kalau kamu masih sayang, kembali saja. Jangan egois, ingat Dion masih butuh sosok Ayah."


🍃🍃🍃


Mayang merasa ada yang berubah dengan sikap Dimas, dia jadi lebih bersemangat, ceria dan aktif. Dia juga sudah mau pergi bekerja seperti biasanya lagi. Apa jangan jangan Dimas sudah bertemu dengan Vina? Atau Dimas malah telah jatuh hati dengan wanita lain?


"Nak, apa kamu sudah tau tentang keberadaan Vina dan anaknya?" Mayang yang penasaran akhirnya meluncurkan pertanyaan itu pada Dimas.


"Tau Bu, kenapa memangnya?"


"Kenapa kamu tidak memberi tau tentang itu pada Ibu? Kita susul Vina dan anaknya sekarang juga ya,"


"Tunggu Bu, jangan buru buru. Vina masih perlu sedikit waktu setelah semua yang terjadi. Dimas janji pada Ibu, setelah perceraian ku dengan Desi selesai, aku akan membawa mereka berdua pulang ke rumah ini,"

__ADS_1


"Janji ya?"


"Iya, janji."


Mayang terlihat begitu senang, dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan cucu yang sudah sangat dirindukan oleh dirinya sejak lama.


🍃🍃🍃


Ditempat lain, Desi sedang merancang rencana untuk membuka cafe baru. Tentunya agar penghasilannya bertambah, karena dia sudah tidak memiliki suami yang akan menanggung seluruh beban hidupnya.


Sebenarnya Desi tidak perlu melakukan hal itu, dia cantik, berpenampilan menarik, dia pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Dimas. Hanya saja tingkat kepercayaan diri dari Desi sudah berkurang, terutama setelah Dimas mengabaikannya.


Sarah Ibu dari Desi merasa tak terima dengan perlakuan Dimas dan Mayang pada putrinya. Dia tidak akan melepaskan dua manusia itu begitu saja, setalah pengorbanan yang Desi lakukan untuk Dimas, perceraian lah yang harus dia dapatkan.


"Aku harus membuat perhitungan pada mereka," ucap Sarah.


"Jangan Bu, mengotor ngotori tangan Ibu saja," larang Desi.


"Kalau kamu tidak bisa hidup bahagia, mereka juga tidak boleh hidup bahagia,"


"Kalau Ibu mau balas dendam, jangan pada Mayang dan Dimas tapi pada Vina. Kalau terjadi sesuatu pada Vina, dua orang itu tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri,"


"Kamu benar juga nak, sekali dayung dua dan tiga pulau akan terlampaui,"


Desi tersenyum, dia memang sama piciknya dengan sang Ibu. Ada istilah buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya, sepertinya hal itu memang benar adanya.


Desi tinggal menunggu hasil dari perbuatan Ibunya, apakah dia bisa menembus pengamanan Dimas pada Vina dan melakukan sesuatu padanya? Desi benar benar sangat menantikan hal itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2