
Beberapa bulan berlalu...
Desi dan Sarah kembali ke negaranya, mereka kehabisan uang dan tidak sanggup menanggung biaya hidup diluar negri yang serba mahal.
Salah satu orang suruhan Dimas di bandara melihat kepulangan Desi dan Sarah. Dia segera melaporkan hal itu pada Dimas dan Dimas menyambut berita baik itu dengan gembira.
"Ternyata tebakanku benar, mereka cepat kembali ke negara ini," ucap Dimas.
"Siapa yang kamu maksud?" Vina mengerutkan dahi.
"Siapa lagi kalau bukan Desi dan Ibunya,"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Memenjarakannya?"
"Belum, kita tunggu orangku menemukan orang suruhan mereka dulu. Aku tidak ingin mereka mendapatkan hukuman terlalu ringan,"
"Tapi bagaimana kalau mereka mencoba menyakiti aku lagi?"
"Tidak akan, aku sudah menurunkan banyak orang untuk menjaga keluarga kita dari jauh ataupun dari dekat,"
🍃🍃🍃
Klak...
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Desi merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur. Dia sangat merindukan rumah masa kecilnya itu, dia rindu pada kamar yang pernah menjadi saksi bisu malam pertamanya dengan Januar.
Pria itu, sudah berapa lama tapi batangnya masih saja bertahan dibenaknya. Gagal move on dari mantan adalah hal yang memalukan, apa lagi jika mantannya sudah move on dan memiliki keluarga baru.
Asisten rumah tangga Desi masuk ke dalam kamar, dia menaruh segelas teh manis hangat diatas meja.
"Non, waktu itu Tuan Dimas kesini sambil marah marah mencari Non," tutur wanita itu.
"Lalu kamu bilang apa?"
"Saya bilang padanya kalau Non pergi ke luar negri dan tidak tau kapan akan kembali,"
"Dimas pasti sudah tau kalau aku dan Ibu adalah dalang dari semuanya, ingi sangat berbahaya,"
"Lain kali kalau dimas Datang lagi, bilang kalau aku masih berada diluar negri,"
"Siap Non!"
Asisten itu pergi, dia tidak berani bertanya banyak pada majikannya. Satu hal yang pasti dan bisa dia ketahui, hubungan mantan suami istri itu tidak sedang baik baik saja.
Sarah masuk ke kamar Desi, dia meminta sejumlah uang karena sore nanti dia akan mengadakan temu kangen dengan sahabat sahabatnya disebuah restoran bintang lima. Desi tidak mau memberi uang, bukannya pelit, tapi dia benci uangnya dihamburkan begitu saja.
"Ayolah Desi, hanya tiga juta saja, tidak banyak," rintih Sarah.
__ADS_1
"Tiga juta itu banyak Bu, bisa buat makan kita selama tiga bulan. Sudah lah Bu, Ibu suruh saja mereka kesini. Minta Art kita untuk memasak makanan enak, lebih hemat bukan?" Ucap Desi.
"Dasar anak tidak bisa diandalkan! Pergilah ke luar, cari pria kaya yang bisa dimanfaatkan uangnya, jangan dirumah terus!" Omel Sarah.
Desi mengabaikan Ibunya, dia menarik selimut dan berpura pura bersiap tidur. Sarah merasa kesal dengan kelakuan putrinya, Desi seperti anak pembangkang yang tidak tau terimakasih.
Sejak kecil, Sarah selalu menuruti kemauan Desi. Apapun yang Desi mau selalu dituruti, tapi apa yang terjadi saat ini? Perkara uang tiga juta rupiah saja jadi ribut besar.
Sarah tersadar, ternyata lepas dari Januar membuat segalanya jadi tambah sulit. Dulu pria itu sering memberinya uang, berapapun yang dia mau pasti diberi tanpa hitung hitungan.
"Bisa bisanya aku kehilangan menantu kurang ajar itu, aku kehilangan uangnya," gumam Sarah.
🍃🍃🍃
Yoga mencoba menghubungi nomor ponsel Desi, tapi selalu saja ditolak oleh Desi. Yoga sedikit bingung, beberapa bulan terakhir Desi seperti menjauhi dirinya. Apa wanita itu sudah memiliki pria lain? Begitu kira kira isi pikiran Yoga saat itu.
Sikap Desi membuat Yoga sedikit bingung, wanita itu terkesan menolak didekati, tapi jika dirayu dan sedikit disentuh, Desi akan langsung menyerahkan semuanya. Sebenarnya Desi itu ada rasa kepadanya atau tidak?
Jujur saja, saat ini Yoga sangat merindukan Desi. Dia rindu pada suara lembut Desi dan juga gerakan lincahnya yang membuat candu. Berkali kali Yoga mencoba berpaling ke orang lain, tapi hasilnya selalu gagal. Bayang wajah Desi selalu menempel di pelupuk matanya.
"Sayang, apa aku harus nekat datang ke rumahmu lagi?" Desis Yoga lirih.
Bersambung...
__ADS_1