Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 56


__ADS_3

Desi datang ke cafe miliknya setelah sekian lama dia tinggal, tak disangka Dimas sudah ada disana menunggunya. Desi panik bukan main, dia takut pria itu langsung menghajarnya ditempat yang sedang ramai pengunjung itu.


"Akhirnya kamu pulang juga," Dimas melipat tangannya dan menaruhnya di dada.


"Tumben kesini? Ada apa?" Tanya Desi. Dia berpura pura bersikap santai seolah olah tidak memiliki kesalahan.


"Aku kesini untuk menanyakan sesuatu kepadamu. Kemana pria itu pergi melarikan diri?"


"Siapa yang kamu maksud?" Desi pura pura tidak tau.


"Pria yang kamu suruh untuk menembak istriku,"


"Aku tidak pernah menyuruh orang untuk menyakiti istri kesayanganmu itu, jangan suka memfitnah ya!" Desi membela dirinya sendiri.


"Desi, seperti apapun kamu menutupi bangkai pada akhirnya akan tercium juga. Kalau kamu tidak mau memberi tahu, aku akan mencarinya sendiri,"


Dimas bangkit dari posisi duduknya, dia melempar senyum sinis yang menyudutkan lawan bicaranya. Desi merasa cemas, pria itu pasti tidak akan menyerah sebelum berhasil menemukan pelaku penembakan itu.


Dimas berlalu pergi, sekujur tubuh Desi terasa lemas dan tak terkendali. hatinya berdegup kencang seperti mau lepas dari tempatnya.


"Aku tidak mau masuk penjara, apapun yang terjadi orang bayaranku itu harus tetap berada di luar negri," gerutu Desi lirih sambil memegangi dadanya.


🍃🍃🍃


Menjelang sore, yoga datang mencari Desi di cafenya. Dia melihat Desi sedang memijat kepalanya dan berbicara sendiri di kursi paling pojok.


Sekilas Yoga tau kalau Desi sedang banyak pikiran, terlihat dari wajah Desi yang kusut dan sedikit pucat. Sebenarnya ada masalah apa Desi? Yoga benar benar ingin tau.

__ADS_1


"Hai sayang," sapa Yoga genit.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Desi.


"Aku ingin menemui kamu, aku rindu sekali padamu. Kenapa akhir akhir ini kamu sulit sekali dihubungi? Kamu selalu saja menolak panggilan masuk dariku,"


"Aku sedang sibuk,"


"Sedang sibuk atau banyak masalah?"


"Bagaimana kamu tau aku sedang banyak masalah?"


"Aku tau dari raut wajahmu dan caramu berbicara. Bagaimana kalau sekarang kita pergi untuk bersenang senang?"


Desi menaikan alisnya sebelah, dia tau apa yang dimaksud bersenang senang oleh Yoga. Kebetulan sekali Desi sudah lama tidak melakukan pelepasan, mungkin sakit kepalanya akan berkurang jika dia dan pria itu melakukan kesenangan berdua.


"Baiklah, aku siap siap dulu,"


Yoga berjingkrak kegirangan, dia senang karena Desi tidak melakukan penolakan. Akhirnya setelah sekian lama, kerinduannya pada wanita itu akan segera terobati.


🍃🍃🍃


Yoga dan Desi baru saja hendak melakukan pemanasan, tapi ponsel Desi terus menerus berdering dan mengganggu aktifitas menyenangkan mereka.


"Angkat dulu telfonnya, siapa tau penting," ucap Yoga.


Desi turun dari pangkuan Yoga, dia pergi mengambil ponselnya yang masih ada di dalam tas.

__ADS_1


Klik...


"Hallo..." Ucap Desi.


"Nona, masih ingat aku? Ini aku Mr. X," ucap pria itu.


"Mau apa kamu menelfon ku lagi? Bukannya urusan kita sudah selesai?"


"Katakan pada Ibumu yang kurang ajar itu, suruh dia berhenti mengirim orang untuk menghabisi ku. Atau aku akan menghabisi Ibumu dan juga kamu dalam waktu dekat," ancam pria bayaran itu.


"Aku sungguh tidak tau kalau Ibuku akan berbuat seperti itu, aku akan menyampaikannya padanya nanti."


Klik....


Desi langsung buru buru mematikan telfon, dia takut Yoga mendengar obrolannya dengan pembunuh bayaran itu.


"Telfon dari siapa?" Tanya Yoga.


"Dari teman," Desi melempar ponselnya keatas kasur.


"Teman? Siapa?"


"Jangan banyak bertanya, kita lanjutkan saja permainan kita yang tertunda,"


"Huh, wanita tidak sabaran," gerutu Yoga lirih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2