Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 44


__ADS_3

Jenuh terus menerus berada didalam kamar tanpa melakukan aktifitas apapun, Vina diam diam keluar dari kamarnya dan mengajak Dion sang anak bermain dihalaman belakang rumah. Mereka bermain lempar bola, Dion terlihat senang sekali diajak main oleh Ibunya.


Suara gelak tawa Dion terdengar begitu nyaring, suaranya terdengar hingga keruang tengah.


"Loh, bukannya Dion sedang tidur di kamar Bu? Kok dia ketawa tawa? Dengan siapa?" Bayu penasaran.


"Mungkin Vina diam diam menyelinap keluar dari kamar,"


"Sudahlah tak apa, mungkin dia memang sudah sembuh,"


"Tapi kalau ketahuan Dimas?" Karti sedikit ngeri.


"Dia kan sedang tidak ada dirumah,"ucap Bayu.


Lelah bermain, Vina mengajak Dion masuk kedalam rumah. Dia mengambil sepiring makanan di dapur dan bersiap untuk menyuapi putra semata wayangnya itu.


Sejak tadi Vina tidak melihat keberadaan Dimas suaminya, sepertinya pria itu sudah mulai masuk ke kantor. Semua karena pengaruh obat yang dikonsumsi Vina, Vina jadi bangun kesiangan.


"Nak, apa kamu sudah baikan?" Tanya Karti pada Vina.


"Sudah Bu, hanya sedikit nyeri saja di tangan," sahut Vina.


"Pokoknya Dimas harus memberi wanita jahat itu pelajaran, Ibu tidak terima putri Ibu satu satunya dicelakai," Karti merasa kesal dan dendam pada Sarah.

__ADS_1


"Jangan seperti itu Bu, balas dendam kan tidak baik," ucap Vina santai.


"Ayah setuju dengan Ibu, Dimas harus bicara dengan mantan mertuanya. Kalau tidak, dia akan mengulangi kesalahan yang sama. Ayah yakin itu!" Sambung Bayu yang tiba tiba muncul entah dari mana. Meski galak, Bayu sangat menyayangi Vina, terlebih dia adalah putri satu satunya.


🍃🍃🍃


Yoga merasa rindu pada sosok Desi, dia belum bertemu dengan janda tanpa anak itu pasca hubungan cinta satu malam yang terjadi diantara mereka.


Malam itu, Yoga memutuskan untuk menemui Desi ditempat tinggalnya. Kebetulan Desi ada dirumah, dan dia sedang sendirian. Senyum nakal terukir diwajahnya, disambut dengan tatap heran seorang Desi.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Desi.


"Mau menemui kamu," sahut Yoga.


"Ada perlu apa?"


Desi menggelengkan kepalanya, dia merasa pemuda itu sudah gila karena naksir pada mantan ipar sendiri. Meski begitu Desi tetap mempersilahkan Yoga masuk ke rumahnya tanpa mencurigai ada niat buruk dari pria itu.


Grep...


Yoga tiba tiba melingkarkan tangannya pada pinggang Desi, dia menggosok gosokan wajahnya pada leher bagian belakang wanita itu dan membuat wanita itu merinding geli.


Sudah lama Desi tidak disentuh oleh seorang pria, sebagai wanita normal hasratnya langsung naik mendapat perlakuan menyenangkan seperti itu.

__ADS_1


"Aku tau kamu juga menginginkannya bukan? Bisa disak kita main sebentar saja," bisik yoga ditelinga Desi. Tanpa Desi sadari dia menganggukkan kepalanya pelan, dan hal yang diinginkan oleh Yoga pun terjadi. Pertempuran panas antar keduanya terulang lagi.


Dua jam berlalu, Yoga keluar dari kamar Desi dengan wajah sumringah. Disusul oleh Desi yang sedang sibuk merapihkan pakaiannya.


"Apa yang baru saja kalian lakukan? Kenapa kalian bisa keluar dari kamar yang sama?" Sarah muncul dan merasa curiga saat memergoki Desi dan Yoga keluar dari dalam kamar bersamaan.


"Ibu, kapan pulang?" Desi merasa gugup.


"Jangan coba coba mengalihkan topik pembicaraan!" Omel Sarah.


"Bu, sebaiknya kita duduk dulu. Biar aku jelaskan kejadian yang sebenarnya agar Ibu tidak berprasangka buruk pada kami," ucap Yoga dengan nada tenang.


Ruang tamu, sekitar pukul 05.00 sore. Yoga mengajak Desi dan Sarah mengobrol serius. Awalnya Desi mengira kalau Yoga akan membongkar aib mereka, tapi ternyata tidak.


"Aku hanya membantu Kak Desi mengganti lampu di kamarnya, tadi tiba tiba lampu dikamar itu meledak dan menyebabkan konsleting listrik," tutur Yoga.


"Benarkah? Sepertinya tadi pagi baik baik saja. Kamu tidak sedang membohongi aku bukan?" Sarah menatap ragu.


"Tentu saja tidak, mana mungkin aku berani membohongi orang tua. Takut kena karma," ujar Yoga.


Desi mendelik, dia tak menyangka Yoga pandai membual seperti Dimas. Mungkin memang benar pendapat yang menyatakan kalau pria yang ad didunia ini itu sama saja.


Yoga melirik kearah Desi, dia mengedipkan matanya sebelah.

__ADS_1


"Pria tak tau diri, ternyata kamu juga pandai merangkai kata ya." Batin Desi.


Bersambung..


__ADS_2