
Disebuah tempat rahasia, Sarah Ibu dari Desi membuat pertemuan tertutup dengan seorang pria. Pria itu bernama Simon, preman bayaran yang paling ditakuti di kota X.
Sarah menyewa jasa Simon dengan harga mahal untuk mencelakai Vina, istri kesayangan Dimas. Wanita yang paling dibenci oleh Sarah saat ini selain Mayang mantan besannya.
"Apa perlu aku membuatnya kehilangan nyawa?" Tanya Simon. Pria berkepala botak dengan banyak tato di tubuhnya.
"Tidak perlu, cukup buat dia cacat saja. Bagaimanapun dia masih punya anak yang masih kecil,"
"Jadi orang jahat kok tanggung sekali, pakai acara memikirkan anak calon korban," tertawa masam.
"Aku seorang Ibu, aku juga punya anak!" Sarah membela diri.
"Iya... Ya... Aku ikut apa katamu saja,"
"Ingat, kamu harus berhati hati. Jika kamu tertangkap, jangan bawa bawa namaku. Aku sudah membayar kamu dengan harga mahal, bahkan lebih mahal dari harga nyawamu itu!"
"Siap! Aku pasti tidak akan mengecewakan kamu."
🍃🍃🍃
Siang hari, Mayang sibuk menata perabotan dan mainan dikamar baru milik cucunya. Semua berwarna biru, mulai dari cat tembok, ranjang sampai rak tempat mainan. Biasanya anak laki laki memang sangat menyukai warna biru, khususnya biru muda.
Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Dion sang cucu. Padahal kurang satu minggu lagi, tapi bagi Mayang satu minggu itu lama sekali.
"Bu, makan siangnya sudah siap," ucap Rukmini ART baru dirumah itu. Rukmini sengaja diperkerjakan untuk menjaga Dion cucunya jika Dion sudah pindah ke rumah itu.
"Iya, terimakasih. Tapi aku belum lapar, aku masih mau beres beres dikamar ini,"
"Bu, biar saya saja yang membereskannya. Beres beres itu sudah menjadi pekerjaan saya,"
"Khusus untuk kamar ini, biar Ibu saja ya yang membereskan dan membersihkannya,"
"Oke deh. Sepertinya Ibu sayang sekali pada cucunya,"
"Tentu saja aku sayang padanya, aku sudah lama menunggu kehadirannya. Sepuluh tahun menikah anakku baru dikaruniai keturunan, itu pun dia harus menikah lagi,"
__ADS_1
Rukmini hanya tersenyum mendengar majikannya yang bercerita dengan penuh semangat. Tatapan matanya berbinar binar, jelas sekali Mayang sedang merasakan kebahagiaan yang cukup besar.
"Semoga saja cucunya cepat datang ya Bu,"
"Iya, aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya."
🍃🍃🍃
Di kamarnya...
"Hacim... Hacim..." Vina mengusap lubang hidungnya yang gatal.
Dia tidak terkena flu, dia juga tidak memiliki alergi debu. Sepertinya sedang ada seseorang yang membicarakan dia dibelakang.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Dimas.
"Tidak, aku tidak sakit,"
"Tapi kok bersin bersin terus?"
"Itu pasti Ibu, dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu dan Dion,"
"Darimana dia tau kalau aku mau kembali bersamamu?"
"Kamu lupa? Orang kepercayaannya ada bersama kita sekarang,"
"Maksud kamu Pak Anton?"
"Iya, siapa lagi memangnya?"
Vina mendengus pasrah, segala gerak geriknya pasti diawasi dan dilaporkan ke Ibu mertuanya. Meski seorang pria, Pak Anton memang paling tidak bisa menjaga rahasia. Tapi, dia dipekerjakan memang untuk itu, untuk menjadi asisten sekaligus mata mata.
Vina yakin, gaji Pak Anton lebih dari UMK Ibu kota. Bahkan lebih besar dari gaji TKW Arab Saudi. Wajar saja, tugasnya begitu banyak dan berat. Terkadang, dia juga sampai kurang tidur dan istirahat.
"Bagaimana kabar Ibumu?" Tanya Dimas.
__ADS_1
"Dia baik baik saja, sudah sembuh juga dari sakit," sahut Vina.
"Apa kamu sudah siap untuk menemui Ayahmu dan mempertemukan Dion dengannya?" Tanya Dimas lagi.
"Aku sih santai, dia Ayahku. Harusnya kamu yang bersiap siap karena sudah menikah anak orang secara diam diam," sindir Vina.
"Apa Ayahmu galak?" Dimas ketakutan.
"Tentu saja, dia bahkan pernah memukulku pakai kayu karena bolos sekolah," tutur Vina.
"Mengerikan sekali, aku tidak mau bertemu dengannya. Aku takut di pukul sampai mati," Dimas mengkerut takut. Mentalnya melempem seketika seperti kerupuk produksi lama.
"Ha... Ha... Ha... Itu tidak akan terjadi. Paling hanya dipukul sampai masuk rumah sakit saja," Vina memukul bahu Dimas.
"Mengerikan sekali!" Ucap Dimas dalam hati.
Mendengar Ayah dan Ibunya tertawa, Dion yang sedang asik main di depan TV menghampiri mereka. Dion berjalan pelan sambil menyeret sebuah boneka berbentuk mobil tayo berwarna biru.
"Ayah, Ibu," panggil Dion.
"Ada apa sayang?" Tanya Vina. Dion mengucek ngucek matanya yang mengantuk.
"Sepertinya dia mengantuk," ujar Dimas.
"Aku mau tidurkan dia dulu," ucap Vina.
"Kalau anak sudah tidur, tinggal aku yang ditidurkan ya," Dimas mengedipkan matanya sebelah.
"Aku tidak mau," tolak Vina.
"Eits... Aku tidak suka penolakan!"
Satu jam berlalu, akhirnya Dion tidur juga. Dimas langsung memberi kode untuk pindah ke kamar sebelah. Sejak kemarin pria itu sudah menahan hasratnya, dia butuh pelepasan yang begitu sangat dia rindukan cukup lama.
"Hemh... Benar benar tidak bisa melihat Istri menganggur." Keluh Vina.
__ADS_1
Bersambung...