
Tanpa sepengetahuan Dimas dan Desi, Mayang berkunjung ke rumah kedua Dimas. Dia ingin menemui Vina sekaligus calon cucu yang ada didalam kandungannya. Perasaan Mayang saat ini berdebar, dia takut istri kedua Dimas tidak jauh berbeda dengan Desi. Kasar, keras kepala dan tidak bisa melakukan apapun kecuali berdandan dan menghabiskan uang.
Baru saja Mayang hendak memencet bel rumah, Pak Anton sudah membuka pintu lebar lebar.
"Nyonya, anda..." Anton tercekat.
"Aku ingin bertemu dengan Vina, istri kedua Dimas. Apa dia ada dirumah?" Tanya Mayang.
"Ada Nyonya, beliau sedang menyiapkan kamar untuk calon cucu anda," sahut Anton.
"Benarkah? Wanita yang lumayan rajin," gumam Mayang lirih.
"Mari masuk kedalam Nyonya,"
Mayang masuk ke dalam rumah itu, Anton segera memanggil Vina untuk menemui Ibu mertuanya itu. Ada sedikit rasa takut dihati Anton, dia takut Mayang akan memarahi Vina dan memintanya menjauhi Dimas.
Vina keluar dari dalam kamar anaknya sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Perut yang semakin membesar dan berat memang akan terasa tidak nyaman jika dibawa duduk dalam waktu lama.
"Non, ada tamu menunggu," ucap Anton.
"Tamu? Siapa?" Vina penasaran.
"Ibu Mayang, Ibu dari Tuan Dimas," sahut Anton.
"Buatkan minum dan ambilkan makanan untuknya, aku akan menemuinya,"
"Baik, non,"
Vina berjalan pelan menuju ruang tamu, dia agak sedikit takut menemui Ibu mertuanya, apa lagi mereka berdua belum pernah bertemu sebelumnya.
Vina muncul, mata Mayang terbelalak melihat sosok wanita yang masih muda dengan perut yang sudah membesar. Mata Mayang berkaca kaca, bukan karena sedih, melainkan karena merasa senang sebentar lagi impiannya untuk memiliki cucu akan segera terwujud.
"Hallo," sapa Vina gugup.
__ADS_1
"Hallo nak, siapa namamu?" Tanya Mayang basa basi.
"Namaku Vina Bu," sahut Vina.
"Vina, berapa umurmu? Sepertinya kamu masih muda?" Tanya Mayang lagi.
"Umurku dua puluh tahun Bu,"
"Oh... Pantas saja. Berapa usia kehamilan mu saat ini?"
"Tujuh bulan Bu, dan jenis kelaminnya laki laki,"
"Laki laki? Aku akan memiliki cucu laki laki? Ha... Ha... Ha..." Mayang tertawa senang.
"Perkenalkan, aku Mayang, Ibu dari Dimas," lanjut Mayang," ucap Mayang memperkenalkan diri.
"Iya Bu, aku sudah tau dari Pak Anton tadi."
Mayang memperhatikan Vina, dia terlihat seperti wanita polos dan baik baik. Dan lagi, cara bicaranya sangat lembut, berbeda jauh dengan Desi. Pantas saja kalau Dimas lebih betah tinggal di rumah ini.
"Aku sengaja datang ke sini untuk menjenguk mu, tapi maaf aku tidak membawa apa apa,"
"Tidak apa apa Bu, dijenguk saja aku sudah merasa senang. Sebelumnya, aku mau minta maaf pada Ibu. Karena aku dan Tuan Dimas menikah secara diam diam, tapi aku bukan..."
"Cukup, jangan bahas soal itu lagi. Aku sudah tau segalanya dari Dimas. Dan Dimas itu suamimu, masa kamu memanggilnya Tuan?" Mayang mengerutkan dahi.
"Maaf Bu, sudah kebiasaan," Vina grogi.
"Panggil saja dia Mas, sayang juga boleh," ledek Mayang.
Pipi Vina merona, dia malu karena Ibu mertuanya meledeknya. Vina merasa lega karena ternyata Mayang adalah sosok mertua yang baik dan ramah. Dia juga pengertian dan sepertinya sangat perhatian.
Vina sangat berharap mereka berdua bisa dekat dan berhubungan baik, dia juga berharap bisa berhubungan baik dan berteman dengan Desi. Alangkah bahagianya Vina andai keinginan kecilnya itu bisa terwujud, sekalipun terasa sedikit sulit.
__ADS_1
"Apa Ibu sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Pak Anton masak banyak makanan enak hari ini,"
"Benarkah? Aku tidak tau kalau dia bisa memasak, sejak kapan dia belajar memasak?" Mayang sedikit terkejut.
"Sejak Non Vina masuk ke rumah ini Nyonya, Tuan Dimas memintaku untuk melayani segala keperluannya. Jadi, mau tidak mau aku harus belajar memasak," Anton muncul dari balik ruang tengah sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.
"Wah, hebat sekali kamu. Pasti Dimas memberi kamu gaji lumayan tinggi," ucap Mayang.
"Iya, lumayan untuk biaya kuliah anak." Anton tertawa.
Vina dan Mayang pergi keruang makan, Vina melayani Ibu mertuanya dengan baik. Mulai dari mengambilkan makanan dan minuman. Mayang merasa tersanjung, baru kali ini dia merasa dihormati dan diperhatikan oleh menantunya. Selama ini Desi tidak pernah melakukan hal itu padanya, malah dia memperlakukan Mayang seperti pembantu saat dia berpura pura hamil.
"Bu, bagaimana kabar mas Dimas?" Tanya Vina. Dia penasaran karena beberapa hari ini Dimas tidak memberi kabar padanya.
"Dia baik, hanya saja dia masih memiliki urusan untuk diselesaikan dengan Desi. Jadi, dia belum sempat datang kesini untuk menjenguk kamu," sahut Mayang.
"Syukurlah kalau dia baik baik saja, aku sedikit mencemaskan dirinya,"
"Nak, kamu sedang hamil tua. Jangan terlalu banyak pikiran, dibawa santai saja. Agar perkembangan anak yang ada didalam perutmu tidak terganggu," Mayang memberi nasihat.
"Iya, Bu." Vina mengangguk patuh.
Selesai makan, Mayang pamit pulang. Vina menawari Mayang untuk menginap tapi Mayang menolaknya. Dia mencemaskan Desi dan Dimas jika ditinggal berdua dirumah, takut mereka bertengkar hebat dan tidak ada yang melerai.
Mayang memeluk Vina, dia mengelus perut Vina beberapa kali dan merasakan tendangan kuat dari dalam perut itu.
"Sepertinya dia senang disentuh oleh neneknya," ujar Vina.
"Nenek pulang dulu ya, besok nenek main lagi. Jangan bandel dirumah hanya berdua dengan Ibumu,"
"Oke nenek, hati hati dijalan ya!"
"Iya."
__ADS_1
Vina terus menatap kepergian Mayang, hingga mobil yang wanita itu tumpangi hilang ditelan tikungan jalan.
Bersambung...