
Setelah menimbang nimbang cukup lama akhirnya Vina mengambil keputusan untuk menjenguk Ibunya. Dia menitipkan Dion pada sang Bibi dan pergi ke kota seorang diri. Untuk menutup identitasnya Vina selalu menutup wajah dengan masker, di kota banyak mata mata dari Dimas. Vina akan mudah dikenali jika tidak menggunakan alat pelindung wajah.
Turun dari bis, Vina menaiki Taxi menuju rumah sang Ibu. Akhirnya sebentar lagi dia bisa melepas rindu dengan orang yang dia sayangi, Ibu dan Ayahnya. Tentunya dengan sedikit amarah dan ceramah dari mereka.
Baru saja sampai gang dekat rumah, Vina sudah melihat sosok Pak Anton dan anak buah Dimas yang lainnya. Rumah itu dikelilingi oleh mata mata Dimas, Vina merasa sudah mirip dengan tahanan yang sedang kabur dari penjara saja.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebaiknya aku menelfon Ibu dan mengajaknya bertemu di luar saja," gumam Vina lirih.
Vina meminta supir Taxi mencari penginapan didekat situ, dia berencana beristirahat sambil merancang cara untuk bisa bertemu dengan Ibunya tanpa ketahuan Dimas atau anak buahnya.
Malam hari, Pak Anton kembali ke kediaman utama dan memberikan laporan. Dimas sangat kecewa karena wanita yang dinantikan kehadirannya belum muncul juga batang hidungnya.
"Tidak mungkin Vina mengabaikan Ibunya yang sedang sakit begitu saja, tapi kenapa sampai sekarang dia tak datang datang juga kerumah itu?"
"Nona gadis pintar, dia pasti punya cara lain,"
"Cara lain? Maksudnya?"
"Em...Dia mungkin mengajak Ibunya bertemu di luar,"
"Kalau begitu, awasi gerak gerik Ibunya. Ikuti kemanapun wanita tua itu pergi,"
"Siap Tuan!"
🍃🍃🍃
Selesai makan malam, Desi menemui Dimas yang sedang duduk dengan gelisah diruang kerjanya. Dia ingin menyampaikan niatnya untuk bercerai dengan pria itu. Hati Desi sudah mantap untuk mengakhiri segalanya, dia lelah menjadi istri yang tak pernah dianggap keberadaanya.
"Dimas, aku ingin minta cerai darimu," ucap Desi lantang.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera mengurus segala keperluannya,"
"Semudah itu?"
"Ya, semudah itu. Bukannya kamu sendiri yang meminta? Untuk apa aku mempersulit?"
"Ha... Ha... Ha... Pria tak punya hati, tidak ada pura puranya sedikit pun!"
"Terserah kamu mau bicara apa, aku sudah tidak peduli lagi padamu!"
Desi keluar kamar sambil membanting pintu, saat ini dia perlu menenggak sebotol air dingin agar otaknya tidak terasa panas.
Gluk... Gluk... Gluk...
Desi menenggak satu botol air dingin sampai habis tak bersisa. Dia mengelap sisa sisa air yang menempel disekitar mulutnya.
"Berhenti membuat keributan dirumah ini Desi!" Mayang muncul dan bersiap menceramahi menantunya.
"Dimana letak sopan santun mu? Dan apa maksud perkataan mu Itu?" Mayang marah.
"Untuk apa aku bersikap sopan pada wanita bermuka dua seperti kamu? Maksudku adalah aku dan Dimas sebentar lagi akan bercerai," jelas Desi.
"Apa? Semudah itu kamu meminta cerai dari putraku? Pikirkan dulu baik baik Desi, menjadi janda itu tidak enak," pesan Mayang.
"Tidak enak? Tapi kenapa Ibu memilih menjadi janda? Bukankah menjadi janda itu tidak enak?" Sindir Desi balik.
Mayang terdiam, menjadi janda memang tidak enak, tapi melihat suami membagi cintanya dengan wanita lain jauh lebih tidak enak. Selain tersiksa batin, kewarasan jiwa juga akan ikut tersiksa.
"Aku ikut andil membantu Damian dalam kesuksesan bisnisnya, aku akan menuntut bagaian harta gono gini darinya," lanjut Desi.
__ADS_1
"Tidak masalah, Ibu sendiri yang akan membantu dia menghitung berapa jumlahnya," sahut Mayang.
🍃🍃🍃
Usai ribut dengan mertuanya, Desi pergi dari rumah besar itu. Dia menyeret sebuah koper berisi pakaian yang sudah disiapkan olehnya sejak jauh jauh hari.
Desi diam diam telah menyewa sebuah apartemen dipinggiran kota, Yoga membantunya mencari apartemen berharga miring dengan fasilitas lumayan untuknya.
Tet... Tet... Tet...
Bel berbunyi, Yoga membuka pintu kamar apartemen itu dan mempersilahkan mantan Kakak iparnya masuk.
"Aku tidak menyangka kamu akan keluar dari rumah Kakak secepat ini," Yoga tertawa.
"Aku sudah tidak tahan ada disana, terlebih jika harus berhadapan dengan mertua galak seperti Mayang!" Ucap Desi.
"Wanita itu memang menyebalkan, tapi dia lebih tua darimu. Kamu harus menghormatinya," pesan Yoga.
"Aku juga lebih tua darimu, tapi kamu tidak menghormati aku. Berjalan jalan di apartemen orang dengan bertelanjang dada, mau pamer badan seksi?" Sentak Desi.
"Aku sama sekali tidak berniat pamer, tapi jika kamu tertarik, aku akan mengizinkan kamu untuk menyentuhnya sedikit," ucap Yoga.
"Hei, apa kamu tidak takut menantang seorang janda sepertiku?"
"Kenapa harus takut? Janda juga manusia kan?"
"Baiklah kalau begitu, terima sendiri konsekuensinya!" Desi tersenyum licik. Dia menatap mantan adik iparnya itu dengan tatapan nakal dan penuh gairah.
Apa yang akan terjadi antara Desi dan Yoga? Baca episode berikutnya ya🤭🤭🤭
__ADS_1
Bersambung...