Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 22


__ADS_3

Cinta Buta


Tidak ada yang tau kapan akan datangnya cinta,


Karena cinta datang dan pergi secara tiba tiba,


Sebuah rasa yang mampu melumpuhkan jiwa dan raga,


Membuat para pelakunya kehilangan kendali atas dirinya,


Apakah ini yang dinamakan cinta buta?


Tapi kalau tidak membutakan bukanlah cinta namanya,


Sebuah rasa yang bisa membuat pelakunya gila,


Bahkan pelakunya sampai rela mengorbankan apapun untuk orang yang dia cinta,


Oh... Cinta,


Kenapa engkau hadir sambil membawa air mata?


Kenapa tidak hanya canda dan tawa saja yang engkau bawa?


Oh... Cinta,


Hadirmu sungguh memberi seribu satu warna yang mengancam jiwa,


Membuat pelakunya merasa takut dan cemas untuk menghadapinya,


Karya : Author.


Puisi itu menggambarkan bagaimana perasaan Dimas saat ini. Beberapa hari tak bertemu dengan Vina membuatnya rindu hingga menggila. Dia menyerah jaim pada dirinya sendiri, dia akhirnya mau mengakui kalau dirinya mulai menyukai Vina dan tidak mampu jauh darinya.


Baru dua bulan tidak bertemu, rasanya sudah segila itu. Apa lagi kalau mereka sudah bercerai dan tidak pernah bertemu lagi? Mungkin Dimas akan gila sungguhan.


Hari ini, dengan atau tidak dengan izin dari Desi pria itu akan tetap pergi dari rumah. Dia ingin menemui Vina istri keduanya, wanita yang sedang mengandung anaknya.


"Sayang, aku mau pergi menjenguk Vina sebentar," ucap Dimas.


"Apa aku boleh ikut?"


"Tidak boleh, aku tidak mau kamu marah lagi seperti kemarin dan membuat keributan disana. Aku menaruh uang di laci meja rias mu, pergilah berbelanja dengan Ibu dan bersenang senang lah,"


"Baiklah,"


Dimas melesat dengan cepat menaiki mobil kesayangannya menuju rumah kedua. Tiba tiba perasaanya tidak enak, seolah akan ada sebuah insiden besar terjadi. Dimas harus segera tiba dirumah, dia takut terjadi sesuatu pada Vina.


Tiba dirumah, Dimas bergegas mencari Vina. Wanita itu sedang kesulitan mengambil barang bawaannya yang jatuh ke lantai karena perut yang membesar dan mengganjal.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tidak meminta tolong?" Dimas muncul tiba tiba dari balik pintu dan mengagetkan Vina.


"Anda pulang tidak memberi kabar dahulu, aku kan bisa meminta Pak Anton memasak," ucap Vina.

__ADS_1


"Dia masih saja memikirkan aku walaupun aku sudah mengabaikannya akhir akhir ini, wanita yang baik," gumam Dimas didalam hati


Dimas mendekati Vina, dia memeluknya erat dan mengusap punggungnya pelan. Rasa nyaman muncul menyelimuti hati Vina, sayang, rasa itu hanya ada untuk sesaat saja. Rasa semu yang akan pergi dan meninggalkan luka cukup menganga.


"Aku rindu padamu," ucap Dimas.


"Aku... Aku..." Vina terbata bata.


"Aku cinta padamu," lanjut Dimas.


"Apa? Apa anda sudah gila?" Vina mendorong Dimas menjauh darinya.


"Ya, aku memang sudah gila. Pada akhirnya aku kalah, aku tidak bisa menahan perasaanku dan ingin memiliki kamu selamanya," ujar Dimas.


"Jangan serakah Tuan, anda memiliki istri yang baik dan cantik seperti Nona Desi,"


"Tatap aku dan katakan kalau kamu tidak menyukai aku," paksa Dimas.


"Aku tidak mau,"


"Cepat tatap aku!"


"Aku... Aku..." Vina tercekat. Dimas tiba tiba saja menciumnya dan melakukan sentuhan di setiap titik sensitif tubuhnya.


"Ah.... Emhmmm,,," Des*ah Vina. Suaranya yang seksi memancing hasrat Dimas untuk meninggi.


"Sayang, aku sedang hamil," rintih Vina.


Dimas menggiring Vina untuk berbaring diatas kasur, dan pertempuran menyenangkan itu pun akhirnya dimulai.


🍃🍃🍃


Keesokan harinya,


Ting... Tong...


Bel rumah Kedua Dimas berbunyi, karti datang ke rumah itu sambil membawa satu rantang makanan.


Klak...


Pintu terbuka, Anton keluar dari dalam rumah.


"Hallo, aku Ibu dari Vina. Aku ingin bertemu dengannya," ucap Karti.


"Mari masuk," ajak Anton ramah.


Anton menghampiri Vina dilantai atas, tak lama Vina datang dan berjalan dengan hati hati menuruni anak tangga.


"Bu," Vina tersenyum senang karena Ibunya masih mau mengunjunginya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik Bu,"

__ADS_1


"Makanlah, Ibu bawa makanan kesukaan kamu,"


"Terimakasih ya Bu." Vina memeluk Karti erat.


Sesosok pria tampan bertubuh tinggi besar keluar dari arah dapur. Dia adalah Dimas, menantu yang tidak pernah diketahui keberadaanya oleh Karti.


"Siapa dia Vina?" Tanya Dimas.


"Dia Ibuku," sahut Vina.


"Oh... Hallo, aku Dimas. Suami Vina," Dimas mengulurkan tangan.


"Suami kontrak maksudnya?" Sindir karti pedas.


Mereka bertiga duduk di sofa tamu, dan obrolan serius akhirnya di mulai.


"Vina sudah mengatakan segalanya padaku, dia hanya dinikahi untuk melahirkan seorang anak untukmu. Apa kamu itu manusia? Tega sekali kamu mau memisahkan anak dan Ibunya," omel Karti. Matanya melotot hingga membuat nyali Dimas sedikit menciut.


Ternyata semua Ibu Ibu didunia ini sama saja, sangat cerewet dan galak. Dimas kira hanya Ibunya saja yang seperti itu, tapi Ibu Vina ternyata juga begitu.


"Begini Bu, kemarin perjanjiannya memang seperti itu tapi... Sepertinya hal itu tidak akan terjadi. Aku cinta pada Vina, aku tidak akan menceraikannya," tutur Dimas.


"Lalu, istri pertama kamu bagaimana?" Tanya karti.


"Kalau dia menyayangiku, dia harus mau menerima keputusanku ini. Aku akan berusaha adil pada kedua istriku tanpa terkecuali," ucap Dimas lagi.


Vina terus menundukkan wajahnya, entah kenapa dia merasa seperti orang bodoh saat melihat Karti dan Dimas mengobrol hal serius.


"Nak, apa kamu suka pada pria ini?" Tanya Karti pada Vina. Vina menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa kamu sudah siap menerima resiko menjadi istri kedua?"


"Siap Bu," ucap Vina mantap.


"Kalau sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan?" Karti menghembuskan nafas pasrah.


"Jadi, Ibu menyetujui hubungan kami?" Dimas menunggu jawaban karti.


"Iya, aku menyetujuinya."


Dimas tersenyum senang, dia memeluk Vina dan mencium perutnya yang sudah semakin membesar.


"Hey, pelan pelan. Nanti jagoan ku kesakitan," cicit Vina.


"Jagoan? Jadi anakku laki laki?" Dimas menatap Vina.


"Ya,"


Dimas melompat tinggi ke udara, dia senang karena sebentar lagi akan memiliki jagoan kecil dalam hidupnya.


Seperti mimpi, seorang Tuan kulkas menyatakan cinta pada Vina. Tapi wanita itu merasa bersyukur karena hal itu, cinta yang dia tahan selama ini akhirnya tidak bertepuk sebelah tangan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2