
Vina menepati janjinya, dia datang ke rumah untuk menemui Ayah dan Ibunya. Tentunya dengan mengajak Dimas sang suami dan Dion putranya. Membahagiakan sekali pertemuan pertama antara mereka setelah sekian lama tidak berjumpa, Vina menangis haru, begitu juga dengan Karti dan Bayu.
Vina memandang sendu kedua orang tuanya, dia senang karena mereka sehat dan terlihat gemuk. Mereka pasti makan dengan baik dan bisa beristirahat dengan cukup.
"Ayah, bagaimana kabarmu?" Sapa Vina.
"Aku baik baik saja, jadi dia pria yang menikahi mu dengan cara yang tidak baik itu?" Ucap Bayu.
"Hallo, maaf aku sudah menikahi Vina dengan cara yang tidak baik," ucap Dimas.
"Pria kurang ajar! Rasakan ini," Bayu melayangkan beberapa pukulan maut ke arah Dimas tapi Dimas bisa menepisnya.
"Ayah, sudah cukup! Jangan lakukan itu lagi!" Ucap Karti.
"Aku harus memberinya pelajaran,"
"Kamu bisa membuat cucumu ketakutan." Omel Karti.
Bayu terlalu fokus pada kesalahan yang anak menantunya buat, dia sampai lupa kalau ada seorang cucu lucu yang sejak tadi memperhatikannya. Bayu menangis saat melihat Dion, tidak tau kapan lahirnya tau tau sudah sebesar itu. Vina dan Dimas memang anak yang nakal, mereka cocok menjadi pasangan.
Bayu menggendong Dion, dia mencium anak itu beberapa kali di bagian pipi.
"Kenapa kamu harus mirip sekali dengan pria sembrono itu huh?" Tanya Bayu pada Dion.
"Tentu saja karena dia anakku," sahut Dimas sambil tersenyum.
Dion memang sangat mirip dengan Dimas, bisa dibilang bagai pinang dibelah dua. Jika dia hilang di suatu tempat, orang orang akan langsung mengetahuinya kalau Dion adalah anak Dimas.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, Karti sibuk membuat teh dan kopi, sementara Bayu sibuk bermain dengan cucunya. Rasa kesal dihatinya luntur seketika saat melihat Dion tertawa, dia sangat manis dan lucu.
__ADS_1
"Dion sudah besar, apa kamu tidak mau nambah anak lagi? Mumpung masih muda,'" celetuk sang Ibu.
"Nanti saja Bu, Dion belum sekolah nanti repot," sahut Vina. Dia melirik kearah Dimas yang sedang tersipu malu.
Dimas memang memiliki keinginan untuk mempunyai anak lebih dari satu. Dia ingin punya tiga atau empat orang anak agar kelak anak anaknya punya saudara banyak, tidak sebarang kara seperti dirinya.
Tapi bagi Vina, mengurus satu anak saja sudah melelahkan. Apa lagi jika dia sedang rewel dan sakit, mau tidurpun Vina tak bisa. Apa lagi kalau punya tiga atau empat anak? Begadang terus dia setiap malam, bisa kurus kering badan.
Puas berbincang dan melepas rindu, Karti mengajak anak, cucu dan menantunya makan bersama. Dia sudah memasak banyak hidangan kesukaan Vina untuk menjamu mereka.
"Ini semua makanan kesukaanku," ucap Vina.
"Makan yang banyak ya, biar kamu bisa tumbuh sehat dan kuat," seru Karti.
"Aku sudah terlalu tua untuk bertumbuh Ibu," celoteh Vina. Mereka semua tertawa bersama sama.
Dimas baru saja mendapatkan pelepasan, hampir tiap malam dia selalu minta jatah pada Vina. Katanya sebagai obat rindu karena sudah dua tahun tidak bertemu dan melakukan itu.
Vina merasa malas, tapi mau tidak mau dia harus melayani kemauan Dimas. Karena kalau menolak keinginan suami bisa bahaya, dia bisa jajan diluar rumah. Mengerikan bukan?
"Soal anak, kamu ingin punya berapa?" Tanya Dimas.
"Dua saja cukup," sahut Vina.
"Empat ya?"
"Dua,"
"Kalau begitu tiga?"
__ADS_1
"Ya, baiklah. Tiga saja cukup,"
"Jadi kapan rencana mau nambah anak lagi?" Desak Dimas.
"Kapan kapan." Sahut Vina malas.
Vina terlihat enggan diajak mengobrol, apalagi diajak bercanda. Dia terlihat begitu lelah setelah melakukan perjalanan beberapa kali dalam seminggu ini.
Cup...
Sebuah ciuman selamat tidur mendarat di pipi Vina, wanita itu mengukir senyum seolah senang Dimas memperlakukannya dengan cara manis. Semoga saja, rumah tangga mereka bisa adem ayem selalu sampai tua.
Sementara itu di kamar sebelah, Karti tidak bisa tidur karena sibuk memandangi wajah tampan Dion.
"Bu, tidur sudah malam," ucap Bayu.
"Dia tampan sekali ya Pak, besarnya pasti jadi rebutan anak anak tetangga," cicit Karti.
"Dia tampan seperti aku, apa kamu tidak bisa melihat kesamaan kami?" Celetuk Bayu.
"Tampan dari mana? Hitam dan kisut seperti itu kok," ucap Karti.
Bayu cemberut karena merasa Karti tidak mencintainya lagi seperti dulu. Apa karena Dia sudah tua? Apa karena dia tidak bisa memberi uang banyak lagi? Apa hanya perasaan Bayu saja yang terlalu berprasangka buruk pada istrinya sendiri? Entahlah, intinya Bayu merasa sikap Karti padanya sedikit berubah.
"Ayo tidur," ajak Karti.
"Jangan lupa berdoa sebelum tidur, agar tidak mimpi buruk," pesan Bayu.
"Iya, cerewet sekali kamu."
__ADS_1