Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 49


__ADS_3

Sudah hampir satu Minggu Mayang, Vina dan Dimas menginap dikediaman Karti. Kini saatnya bagi mereka semua untuk pamit pulang. Karti melepas Vina pergi dengan berat hati, dia berharap Vina mau tinggal bersamanya tapi apa daya keadaan membuat Vina menolak hal itu.


Kediaman Mayang lebih dekat dari kantor Denis, Jadi akan lebih efesien jika mereka tinggal dirumah Mayang. Usai berpamitan dan berpelukan, Dimas dan keluarganya pergi. Karti menangis sedih karena rumahnya akan kembali sepi, dengan lembut bayu mencoba menghibur Istrinya.


"Santai saja Bu, rumah kita tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Kalau mereka tidak sempat kesini, kita yang main ke sana," ucap Bayu.


"Benar ya Pak,"


"Iya Bu, Bapak yang akan antar Ibu kesana,"


Sementara itu didalam mobil, Vina terus merenungi beberapa omongan teman dekatnya. Tinggal bersama mertua itu tidak enak, banyak ributnya daripada akurnya. Sering salah paham dan lain sebagainya. Apa benar seperti itu? Vina sedikit ragu karena Ibu mertuanya selalu baik dan perhatiannya.


Vina baru tinggal beberapa minggu dengan Ibu mertuanya, dia belum tau seluk beluk dan sifat aslinya seperti apa. Waktu bisa merubah sikap dan sifat seseorang, Vina berharap dia dan Ibu mertuanya bisa saling mengerti satu sama lain.


"Vin, kenapa kamu murung? Kamu pasti sedih ya berpisah sama orangtua kamu?" Tanya Mayang.


"Iya, Bu,"


"Kamu tenang saja, kalian pasti bisa sering sering bertemu. Rumah kami kan tidak terlalu jauh,"


"Iya, Bu,"


Vina melempar pandangannya ke luar jendela, menghitung jumlah beberapa kendaraan yang berhasil menyalip mobil mereka. Menjadi seorang istri sekaligus Ibu itu terkadang ada jenuhnya juga, bahkan terkadang mereka rindu pada masa masa lajang mereka.

__ADS_1


Tapi mereka harus bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk menikah dan melahirkan seorang anak. Diluar sana, tak terhitung jumlahnya wanita yang sudah ingin menikah dan punya anak tapi belum di datangkan jodohnya oleh Tuhan.


"Vin, kamu mau tidak memegang sebuah usaha, misalnya buka toko roti, toko bunga atau yang lainya," tanya Dimas tiba tiba.


"Tentu saja mau, aku juga ingin punya penghasilan seperti saat masih lajang," sahut Vina.


"Jadi, kamu ingin punya usaha apa?"


"Aku ingin punya toko tas dan sepatu khusus wanita saja. Apa kamu mau memodali aku?"


"Tentu saja aku mau, kita lanjutkan obrolan ini dirumah nanti ya!"


"Iya."


🍃🍃🍃


"Keluarga itu selalu saja kemana mana bersama, bagaimana caranya aku bisa mencelakai Vina saja?" Gumam pria itu lirih.


Pak Anton tak sengaja melihat sosok mencurigakan tersebut, pria itu buru buru pergi ketika menyadari Anton melihat kehadirannya. Anton curiga, pria itu adalah orang jahat. Dia harus segera memeriksa seluruh vidio rekaman cctv disekitar rumah.


Usai memeriksa hasil rekaman cctv, Anton mendapati kalau sejak beberapa hari terakhir pria itu selalu berkeliaran disekitar rumah. Terkadang dia menyamar jadi pemulung, terkadang jadi pedagang asongan dan lain lain. Sepertinya ada sesuatu yang sedang pria itu incar dari rumah ini.


"Maaf Tuan mengganggu sebentar," ucap Anton.

__ADS_1


"Ada apa Pak?"


"Saya mau melaporkan, beberapa hari ini ada pria mencurigakan selalu mengawasi rumah kita,


"Bisa jadi pria itu adalah orang suruhan Sarah. Perketat keamanan rumah ini, khusus vino jangan bolehkan dia bermain diluar rumah. Untuk Vina, beri dia penjagaan setiap dia keluar rumah," perintah Dimas.


"Siap pak!"


Rasa sakit hati bisa merubah sikap seseorang. Dulu Sarah adalah sosok Ibu mertua yang baik, kini dia berubah jadi jahat. Padahal, Dimas tak bermaksud untuk merusak kebahagiaan Desi dan mengubur impiannya dalam dalam. Desi yang memulainya, kenapa juga jadi Dimas yang disalahkan?"


Sepertinya, Dimas memang harus mengatur jadwal untuk bertemu dengan mantan Ibu mertuanya. Mereka perlu berbincang dari hati ke hati untuk meluruskan segala kesalahpahaman diantara mereka berdua.


"Ada apa sayang?" Tanya Vina. Dia penasaran pada obrolan Dimas dan Pak Anton.


"Ada orang mencurigakan selalu mengawasi rumah ini beberapa terakhir, sepertinya dia orang suruhan Bu Sarah. Kamu berhati hatilah saat keluar rumah," pesan Dimas.


"Oke, aku akan berhati hati," sahut Vina.


"Apa perlu kita mencari penjaga khusus untuk menjaga anak kita?"


"Tidak perlu, anak kita tidak pernah keluar rumah. Kalaupun keluar, pasti selalu sama sama kita kan?"


"Ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


Wajah Dimas terlihat sedikit tertekan, konflik bersama dengan Ibu mertuanya membuat kepala Dimas sedikit pusing. Entah kapan semua itu akan berakhir, semoga saja tidak akan lama.


Bersambung...


__ADS_2