
Vina tiba tiba saja merasakan mual dan pusing saat bangun tidur, dia juga merasa tubuhnya lemas dan tak bertenaga.
"Apa yang terjadi padaku? Jangan jangan aku sedang hamil," batin Vina.
Vina duduk di kursi meja makan, dia menyeruput teh manis hangat dan sepotong roti untuk mengganjal perutnya sebelum melakukan aktifitas rumah tangga. Desta menghampiri Vina, dia melihat ada yang sedikit berbeda dari Nona mudanya.
"Non, anda kenapa? Apa Anda sakit?" Tanya Anton.
"Tidak, aku tidak sakit. Hanya sedikit mual dan pusing saja, mungkin asam lambungku naik,"
"Atau mungkin Nona sedang isi lagi?"
"Bisa jadi, tapi jangan bilang ke siapa siapa dulu ya. Aku belum mengeceknya secara mandiri,"
"Oke Nona. Sebaiknya Nona istirahat saja, biar saya yang mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak," pinta Anton..
"Baiklah, aku minta maaf karena akan banyak merepotkan Bapak,"
"Siap Nona!"
Vina menyentuh perutnya, masih datar dan tidak ada pergerakan disana. Wajar saja, dia baru telat datang bulan dua minggu, dan Dimas pasti akan senang jika mengetahuinya. Dia sangat ingin memiliki anak lagi dan bercita cita memiliki anak banyak.
Menjelang siang...
Mual dan pusing Vina sedikit berkurang, agar tidak lemas dia mengkonsumsi jus dicampur madu buatan Anton, sama seperti dulu. Pria tua itu merawat vina dengan kesungguhan dan ketulusan.
"Ibu, temani aku main," ajak Dion. Dia menarik ujung rok yang dikenakan Vina.
"Mainnya sama Mbah saja yuk, Ibu sedang tidak enak badan," ucap Anton.
"Siapa yang sedang tidak enak badan?" Tanya Mayang yang muncul tiba tiba.
"Nona Vina," sahut Anton.
"Sakit apa kamu Vin?" Tanya Mayang lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tau,"
"Kita periksa ke dokter ya,"
"Nanti saja menunggu Mas Dimas pulang kerja,"
"Ya sudah kalau begitu, istirahatlah, biar Dion dengan Ibu," Mayang menggendong Dion dan membawanya menjauh dari Vina sementara.
🍃🍃🍃
Dimas pulang kerja, dia terlihat lelah. Tapi Vina mendekatinya dan mengajak dia ke Dokter.
"Mas, temani aku ke Dokter yuk," ajak Vina.
"Kamu sakit? Sakit apa?"
"Aku tidak tau, makannya kita periksa dulu baru tau aku sakit apa,"
"Aku sedang malas kemana mana, tubuhku lelah sekali. Kamu minta antar Pak Anton saja ya,"
Pada akhirnya sama seperti dulu, Vina harus pergi ke Dokter seorang diri. Meski kini ada Dimas di sisinya, tidak ada jaminan dia akan selalu ada untuknya. Dimas tau Vina marah padanya, tapi mau bagaimana lagi? Moodnya sedang tidak begitu baik hari ini.
Dimas pergi ke kamar Dion, dia melihat Pak Anton ada disana, dia terkejut karena Vina memilih pergi sendiri tanpa membawa pengawalan.
"Vina kemana?" Tanya Dimas.
"Saya tidak tau, dari tadi saya disini dan Nona tidak pernah memanggil saya," sahut Anton.
"Dia nekat sekali, pergi sendiri tanpa membawa seorang penjaga,"
"Sebaiknya Tuan Susul Nona saja, takut terjadi apa apa. Kita tidak tau kapan Nona Desi dan Ibu Sarah kembali, apa lagi sekarang Nona Vina sepertinya sedang hamil lagi," celetuk Anton. Dia reflek menutup mulutnya dengan tangan karena kelepasan.
"Apa katamu? Vina sedang hamil?" Dimas sedikit terkejut.
"Sepertinya begitu. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas dan tadi pagi dia muntah muntah terus," tutur Anton.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Dimas langsung pergi ke rumah sakit terdekat untuk menyusul Vina. Dia begitu sangat terburu buru, sampai sampai dia tidak memiliki waktu untuk ganti baju. Tak masalah jika pria bergaya sepertinya keluar rumah hanya mengenakan kaos dan celana kolor saja bukan?
🍃🍃🍃
Rumah sakit...
Setelah melakukan proses pemeriksaan yang panjang, Dokter mengatakan kalau Vina sedang hamil. Dia senang bukan main karena ada kecambah kecil yang sedang bertumbuh di dalam perutnya. Selesai diperiksa, Vina langsung pergi ke apotik untuk menebus obat.
Disana dia bertemu dengan Dimas, dia sendang mencari keberadaan Vina kesana kemari.
"Apa yang dia lakukan? Masa ke rumah sakit hanya mengenakan kolor dan kaos saja," gerutu Vina malu.
"Sayang..." Dimas langsung buru buru menghampiri Vina saat melihat sosok wanita cantik itu.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apa positif?"
"Kamu tau dari mana mas?"
"Dari Pak Anton,"
"Dia ember sekali, padahal aku memintanya untuk menutup mulut,"
"Kenapa harus disembunyikan? Ini berita besar. Jangan bilang kamu tidak mau menerima kehadiran anak itu?"
"Bukan begitu, aku hanya ingin memberi kejutan pada Ibumu saja Mas,"
Dimas memeluk Vina erat, dia mencium kening wanita itu juga pipi kanan dan kirinya. Dia akan menjaga Vina jauh lebih baik dan ketat mulai hari ini, dia tidak mau terjadi apa apa pada calon anak keduanya.
"Ayo pulang, kita mampir beli makanan dulu. Kamu sedang ingin makan apa?"
"Aku sedang tidak ingin makan apa apa,"
"Tapi tetap saja kita harus beli stok makanan sehat banyak,"
"Ya, terserah kamu saja!"
__ADS_1
Bersambung...