Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 31


__ADS_3

Dua tahun berlalu sejak kepergian Vina, hari hari Dimas terasa sepi dan hampa. Dia baru saja kehilangan separuh nafasnya, separuh sumber kebahagiaan yang dia punya.


Desi melayani Dimas dengan baik, dia menyiapkan makanan, pakaian dan air untuk Dimas mandi. Desi ingin Dimas menyadari kalau dia jauh lebih baik daripada Vina.


Tapi apa yang terjadi? Pria itu selalu mengacuhkan Desi, bersikap dingin seolah olah Desi tidak ada disisinya. Desi menyerah, sekuat apapun Desi mencoba menguasai Dimas, Vina selalu ada didalam hati pria itu.


"Semua gara gara kamu Desi, putraku jadi seperti orang gila!" Sentak Mayang.


"Berhenti menyalahkan aku Bu, aku hanya sedang berusaha merebut kembali apa yang menjadi milikku," Desi membela diri.


"Kamu tidak akan pernah bisa merebut Dimas dari siapapun, dihatinya selamanya hanya ada Vina dan putranya. Sadarlah Desi, hidupmu hancur karena ide konyol mu dan kamu menyalahkan orang lain atas itu. Wanita egois yang tak tau diri!" Maki Mayang lagi.


Malas bertengkar dengan Ibu mertuanya, Desi pergi kedalam kamar dan mengurung diri. Hal yang biasa dia lakukan saat sedang marah atau sedang terpojok oleh makian mertuanya.


Pak Anton berjalan mengendap menghampiri Dimas yang tengah duduk di kursi halaman belakang. Dia ingin menyampaikan sebuah berita yang akan membuat pria galau itu terkejut hingga hilang kendali.


"Tuan, saya mendapat kabar kalau Ibu dari Nona Vina sedang sakit parah," tutur Pak Anton.


"Sakit apa dia?" Dimas penasaran.


"Sakit lambung. Nona Vina pasti sudah mendengar kabar buruk itu, dan dia akan segera pulang ke rumahnya," sahut Pak Anton.


Sebuah senyum terukir indah di wajah tampan Dimas. Akhirnya setelah sekian lama senyum itu kembali terlihat, Pak Anton merasa sedikit lega karenanya.


"Terus awasi kediaman orangtua Vina, jika kamu menemukan sosok wanita yang mirip dengan Vina segera lapor padaku," perintah Dimas.


"Baik Tuan," Pak Anton mengangguk patuh.

__ADS_1


Melihat Dimas dan asistennya memasang wajah serius, Mayang penasaran. Dia memutuskan untuk mendekati dua pria itu agar mudah mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Tutup mulutmu, jangan sampai Ibu tau soal hal ini!" Ancam Dimas pada Pak Anton. Lagi lagi Anton hanya bisa mengangguk patuh.


"Ada apa Nak? Kelihatannya kalian serius sekali?" Tanya Mayang.


"Tidak ada apa apa Bu," sahut Dimas.


"Jangan coba coba menyembunyikan sesuatu dariku, atau kamu tau sendiri akibatnya!" Mayang memberikan sebuah peringatan. Dia memang paling tidak suka ada rahasia diantara Ibu dan anak.


"Aku tidak merahasiakan apapun," Dimas mencoba meyakinkan Ibunya.


"Sudah makan belum?" Mayang bertanya lagi.


"Sudah tadi,"


Dimas merasa kasihan pada Ibunya, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Semoga saja tebakan Pak Anton kali ini benar, Vina akan kembali dan dia bisa bertemu lagi dengan Istri juga anaknya.


🍃🍃🍃


Siang hari, untuk mengusir rasa jenuh Desi pergi ke kafe miliknya untuk minum kopi dan makan makanan manis kesukaannya. Posisinya saat ini dirumah begitu sulit, Ibu mertua tak menyayanginya lagi dan sang suami acuh tak acuh padanya.


Memang benar, awal mula permasalahan itu adalah perbuatan dari Desi sendiri. Tapi bagi Desi mencoba menutupi kekurangan diri sendiri bukanlah sebuah kesalahan.


Haruskah Desi menyerah? Haruskah dia mundur saja dalam mempertahankan rumah tangganya dengan Dimas. Mencintai seseorang dan bertepuk sebelah tangan sangatlah menyakitkan, Desi sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup bersama Dimas.


Tak disangka, Yoga datang ke cafe Itu. Dia mendapati Desi tengah merenung dan melamun seperti orang yang sedang bingung.

__ADS_1


"Kakak Ipar, sedang apa kamu disini?" Tanya Yoga kepo.


"Ini cafe milikku, jadi aku tidak butuh alasan untuk datang ke tempat ini," sahut Desi ketus.


"Galak sekali, pantas Kakak lebih memilih Vina daripada Kakak Ipar," sindir Yoga pedas.


"Kamu benar, aku banyak kekurangannya, sementara Vina? Entah kenapa Denis hanya bisa melihat kekuranganku saja, tanpa mau melirik kebaikan yang pernah aku lakukan padanya," Desi mengeluh. Matanya berkaca kaca menahan butiran air mata agar tidak jauh membasahi kedua pipinya.


"Sudahlah, tinggalkan saja pria yang sudah tidak menginginkan kamu lagi. Mungkin jodoh kalian berdua memang hanya sampai disini saja," Yoga mencoba memberi nasihat.


Ya, memang benar yang dikatakan Yoga. Untuk apa Desi terus berharap perhatian dari Dimas, sudah jelas jelas dia tidak menginginkan Desi lagi. Jika Desi terus bertahan, sama halnya dia mempermalukan dirinya sendiri dan mengharap sesuatu yang tidak pasti.


"Aku memang berencana meminta cerai darinya, aku sudah lelah dengan hubungan kami yang tidak pernah membaik selama dua tahun terakhir," curhat Desi.


"Sabar ya, semoga Kakak Ipar segera mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya,"


"Ya, semoga saja."


Tik... Tik... Tik...


Meski ditahan air mata itu akhirnya jatuh juga. Desi menangis sesenggukan, beberapa pengunjung yang tak sengaja melihatnya merasa Iba dan penasaran.


"Kakak Ipar, tolong jangan menangis disini. Mereka menatapku seolah olah Kakak menangis karena aku," celetuk Yoga.


"Maaf, aku tidak bisa menahannya. Rasanya sakit sekali, bercerai setelah menikah dua belas tahun rasanya sungguh berat," Desi menyeka air matanya dan mencoba untuk menenangkan diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2