
Pagi hari, Vina mengajak putranya berjalan jalan disekitar rumah. Sekedar untuk menyapa para tetangga dan membeli beberapa bungkus nasi uduk.
Tiba disebuah pertigaan jalan, sebuah sepeda motor sengaja menyerempet Vina hingga jatuh tersungkur ke aspal. Beruntung, gandengan tangan Dion terlepas dan bocah itu tidak ikut terjatuh.
Bukannya menolong, pengendara sepeda motor yang memakai masker dan helem hitam itu malah langsung melarikan diri. Beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung menolong Vina dan juga anaknya.
Dimas melarikan sang istri kerumah sakit, dia panik karena Vina mengalami luka di bahu dan dagu serta tak sadarkan diri.
"Ibu... Ibu..." Panggil Dion sambil menangis. Hati Dimas semakin perih mendengar rengekan pilu dari putra semata wayangnya itu.
"Sebaiknya Anda dan keluarga menunggu diluar saja, biar kami tangani pasien dulu," ucap seorang Dokter perempuan.
"Oke Dok." Sahut Dimas patuh. Dimas, Karti dan Bayu menunggu diluar pintu UGD dengan hati yang was was.
Ditempat lain...
Sarah sedang tertawa terbahak bahak, dia senang karena telah berhasil meneror Dimas dengan membuat istrinya cedera ringan. Setelah ini, Sarah yakin kalau hidup Dimas tidak akan bisa tenang lagi.
"Sebagai permulaan, aku memberikan pelajaran ringan untukmu Vina. Tunggu hukuman yang lainnya dariku. Aku akan menyiksamu hingga kamu mati secara perlahan. Ha... Ha... Ha..." Sarah tertawa lepas seperti orang gila.
Kembali kepada Dimas dan keluarga Vina, setelah menunggu selama satu jam akhirnya pintu UGD terbuka. Vina sudah sadarkan diri, dia dipindahkan keruang rawat inap VIP.
"Sayang, kamu baik baik saja kan?" Tanya Dimas.
"Aku baik baik saja, jangan khawatir," sahut Vina.
"Apanya yang baik baik saja? Babak belur seperti itu kok!" Karti sewot karena khawatir.
__ADS_1
"Sepertinya orang itu sengaja menargetkan aku sebagai korban tabrak lari," celetuk Vina.
"Aku akan meminta Pak Anton untuk menyelidikinya. Kamu tenang saja, aku pasti akan segera menangkap dalang dibalik semua ini!" Ucap Dimas penuh emosi.
"Tentu saja kamu harus segera menemukan orang itu Dimas, Ayah ingin menghajarnya dengan tangan Ayah sendiri," sambung Bayu.
"Sabar Ayah, jangan terbawa emosi. Jangan suka main hakim sendiri, kita serahkan saja semuanya ke pihak berwajib." Ucap Karti.
Mendengar kabar menantu kesayangannya mengalami kecelakaan, Mayang langsung pergi kerumah sakit. Dia diantar oleh Anton asisten pribadi kesayangan Dimas.
Tiba dirumah sakit, Mayang langsung mencari keberadaan Vina. Dia syok saat mendapati dagu dan tangan kanan Vina diperban. Mayang memeluk Vina, dia menunjukan kesedihannya yang mendalam.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Tanya Mayang.
"Aku baik baik saja," sahut Vina.
"Mana Dion?"
Mayang terdiam sesaat, dia menebak nebak kalau ada kemungkinan seseorang ingin mencelakai Vina. Tapi siapa orang itu? Apa salah Vina padanya?
🍄🍄🍄
Anton mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyelidiki kasus tabrak lari Vina. Dia tidak mau Dimas murka dan memotong gajinya begitu saja.
Setalah melakukan penyelidikan selama hampir dua hari, Anton menemukan sebuah titik terang. Pria pelaku tabrak lari Vina adalah orang suruhan Sarah, Ibu dari Desi.
Mengetahui kenyataan itu, Dimas naik darah. Begitu juga dengan Mayang dan Karti Ibu mertuanya. Mereka menuntut Dimas untuk membalas dendam, tentunya agar memberikan efek jera.
__ADS_1
Damar menghubungi nomor Desi, dia ingin bicara dengan Ibu Sarah lewat nomor itu.
Tut... Tut... Tut...
Bunyi telfon tersambung, tak lama suara Desi muncul dari balik speaker ponsel Dimas.
"Ada apa kamu menelfon ku?" Tanya Desi. Sudah hampir kepedean karena mantan suaminya menghubunginya duluan.
"Mana Ibumu?" Tanya Dimas to the point.
"Dia sedang tidak ada dirumah, kenapa memangnya?" Desi penasaran.
"Sampaikan padanya, jangan coba coba untuk menyentuh Vina lagi. Atau aku akan mematahkan leher dan tangannya!" Ancam Dimas.
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu berkata kasar seperti itu pada Ibuku?" Desi kebingungan.
"Ibumu sudah membayar orang untuk mencelakai Vina, jangan kira aku tidak memantau gerak geriknya. Aku tidak menyangka kalau mantan Ibu mertuaku adalah orang yang jahat!"
Desi syok berat, bagaimana bisa Ibunya bertindak gegabah seperti itu? Sampai sampai Dimas bisa mengetahui tindakan buruk yang telah dia lakukan. Apa sulitnya bermain dengan rapih? Kalau dia tidak bisa, harusnya dia minta tolong pada Desi.
"Jangan berburuk sangka Dimas, Ibuku mana mungkin seperti itu!" Desi membela sang Ibu mati matian agar Dimas bimbang.
"Percuma kamu mencoba menutup nutupinya, semua bukti sudah ada di tanganku. Tinggal menunggu waktu saja sampai aku menyerahkannya kepada polisi," ucap Dimas.
Desi ketakutan, dia tidak mau Ibunya masuk penjara. Bagaimanapun caranya, Ibunya harus bisa lepas dari ancaman Dimas.
Klik...
__ADS_1
Dimas mematikan telpon begitu saja, bahkan tanpa pamit pada Desi. Desi harus segera mencari Ibunya dan memperingatkannya agar berhenti bermain main dengan Vina. Ancaman Dimas begitu mengerikan, bahkan lebih mengerikan daripada kematian.
Bersambung...