
Desi ngambek, sudah dua hari dia menolak untuk makan. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas dan bibirnya kering. Dimas terus merayu itu agar berhenti ngambek dan mau memakan makanan yang telah Dimas sediakan.
Dimas merasa khawatir pada keadaan Desi saat ini, andai saja saat itu Dimas tidak menikah lagi dan pasrah dengan takdir, mungkin permasalahan dalam keluarga kecil mereka tidak akan terjadi.
"Sayang, makanlah makanan ini. Aku sendiri yang memasak spesial untukmu," rayu Dimas.
"Aku mau makan, tapi kamu harus menceraikan Vina dulu," pinta Desi.
"Aku tidak akan melakukannya, kamu tau itu. Kamu boleh meminta apapun padaku selain itu, aku akan menurutinya," ucap Dimas.
"Aku tidak mau dimadu!" Desi mengatakan kalimat itu untuk kesekian kalinya.
"Kalau tidak mau dimadu, kamu boleh pergi meninggalkan aku," ucap Dimas. Dia bosan mendengar kalimat itu dari mulut Desi.
"Kamu mengusir aku pergi demi wanita yang baru beberapa bulan menjadi istri keduamu?" Desi syok berat.
"Aku tidak mengusir kamu, kamu sendiri yang menginginkannya," Dimas membela diri.
Mata Desi berkaca kaca, berteriak dan menangis histeris. Desi menjambak rambutnya sendiri dengan kuat karena tidak tahan dengan rasa sakit yang bersarang di dalam hatinya. Desi stres berat, dia bahkan hampir lupa bagaimana caranya bernafas dengan baik. Dadanya terasa sesak dan sakit.
Dimas panik, dia mulai berpikir kalau istrinya mengalami sedikit gangguan kejiwaan. Dia menyesal karena telah mengusir Desi pergi dan memaksanya untuk menerima kehadiran Vina.
"Sayang, tenanglah. Tenangkan dirimu," Dimas memeluk Desi erat erat. Bukannya tenang, Desi malah mencakar lengan Dimas dan mendorongnya hingga terjatuh dari tempat tidur.
"Pergi dari sini, aku benci padamu!" Usir Desi dengan nada tinggi. Tak mau Desi semakin histeris, Dimas menuruti perintah wanita itu dan keluar dari dalam kamarnya.
Dimas berdiri didepan pintu, dia menangis tersedu sedu. Kenapa sulit sekali mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya, padahal Dimas sudah berusaha dengan keras.
__ADS_1
Desi dan dimas adalah korban dari keegoisan diri sendiri, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah diantara mereka berdua, semua sama saja.
Mendengar teriakan menantunya yang tiada henti, Mayang keluar kamar dan mencari keberadaan Dimas. Mayang langsung menghampiri Dimas saat melihat pria itu terduduk dilantai sambil menangis.
"Apa yang terjadi Dimas?" Mayang menyeka air mata putranya dengan jemarinya.
"Desi mengamuk Bu, dia seperti orang gila. Dan semua itu terjadi gara gara aku,"
"Bersabarlah nak, semua akan baik baik saja. Desi hanya perlu sedikit waktu untuk menerima kenyataan hidup yang harus dia jalani, tidak semua wanita bisa kuat dipoligami, Desi adalah salah satunya," ujar Mayang.
🍃🍃🍃
Keesokan harinya, kamar Desi terasa sunyi senyap. Tidak terdengar ada aktifitas manusia didalamnya, membuat Dimas merasa aneh sekaligus curiga.
Tok... Tok... Tok...
Alangkah terkejutnya Dimas saat mengetahui Desi tengah tergeletak didalam bak mandi dengan pergelangan tangan berlumuran darah.
"Desi...!" Teriak Dimas panik. Dia langsung membopong tubuh Desi dan memasukannya kedalam mobil.
"Apa yang terjadi dengan Desi?" Tanya Mayang khawatir.
"Dia mencoba bunuh diri," sahut Dimas singkat.
Ketiganya pergi ke rumah sakit terdekat, sepanjang jalan mereka terus berdoa agar Desi bisa selamat dari maut.
Tiba dirumah sakit, Desi langsung masuk ke ruang UGD dan dilayani oleh dokter profesional. Dimas dan Mayang menunggu di depan pintu wanita itu.
__ADS_1
"Sepertinya istrimu sudah gila, kalau dia selamat segera masukan dia ke rumah sakit jiwa. Ibu tidak mau dia melukai diri sendiri apa lagi orang lain," ucap Mayang.
"Ibu, jangan begitu. Dia istriku, dan aku yang telah membuatnya seperti itu secara tidak langsung," omel Dimas.
Tak berapa lama, Dokter keluar menemui Dimas dan Mayang.
"Bagaimana keadaan Istriku Dok?" Tanya Dimas dengan perasaan khawatir.
"Dia bisa selamat, tapi kondisinya sangat lemah. Dia perlu dirawat untuk beberapa hari," sahut sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk istriku Dokter," ucap Dimas lagi.
"Tentu, kami akan berusaha sebaik mungkin. Anda yang tenang ya!" Dokter mencoba menenangkan Dimas yang mulai terlihat panik.
Didalam hati, Mayang menggerutu. Dia lebih baik kehilangan Desi daripada kehilangan Vina dan calon cucunya. Bukannya tidak sayang, hanya saja Mayang sudah mulai mual dengan ulah Desi yang hanya bisa membuat anaknya tertekan dan stres. Jika terus begini, bukan tidak mungkin Dimas akan menyusul jadi gila.
Mayang beranjak pergi, tapi Dimas menahannya.
"Ibu mau kemana?"
"Aku mau menemui Vina dan calon cucuku, mereka juga perlu diperhatikan sama seperti Desi." Ujar Mayang.
Dimas merasa sedih, sudah beberapa hari ini Dimas tidak menemui Vina karena sibuk mengurus Desi. Ada rasa rindu terselip diantara rasa sedihnya itu, dia berharap semuanya segera berakhir dan mereka berdua bisa bertemu kembali.
"Bu, tolong sampaikan permintaan maaf ku padanya," pesan Dimas.
"Baik, Ibu akan menyampaikannya jika tidak lupa!"
__ADS_1
Bersambung...