
Dua minggu tak bertemu dengan Vina membuat hati Dimas dilanda rindu berat. Tidur sulit nyenyak, makan tidak enak. Setelah berpikir lumayan lama akhirnya Dimas memutuskan untuk datang ke tempat tinggal Vina dan putranya.
Pagi itu, Dimas ditemani Pak Anton pergi menuju kediaman Vina di kota X dengan mengendarai mobil pribadi. Banyak sekali barang bawaan yang Dimas bawa, termasuk makanan, pakaian baru dan mainan anak anak.
Hati Dimas terasa berdebar kencang saat membayangkan pertemuan pertamanya dengan putranya. Apakah anak itu mirip dengan Ibunya? Atau mirip dengan dirinya? Atau malah mirip dengan Nenek Kakeknya? Dimas tak henti hentinya tersenyum.
"Tuan, anda pasti sudah tidak sabar lagi ya bertemu dengan putra anda?" Tanya Pak Anton.
"Iya, aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin sekali memeluknya dan bermain dengannya,"
"Saya yakin Tuan kecil sangat mirip dengan anda,"
"Harusnya begitu, gen warisanku sangat unggul dan tidak ada duanya,"
"Ha... Ha... Ha... Tuan ini, pandai sekali berbicara," Pak Anton menggeleng gelengkan kepalanya.
Ada sedikit rasa takut dihati Anton, bagaimanapun mereka datang tanpa minta izin terlebih dahulu pada Vina. Bagaimana kalau kedatangan mereka di tolak? Kan tidak lucu sudah datang jauh jauh tapi diusir ketika sampai ke tempat tujuan?
Jika ketakutan Anton sampai terjadi, Tuan mudanya pasti akan merasa sangat kecewa. Dia akan sakit hati dan melakukan hal buruk untuk menjebak Vina dan putranya agar mau ikut bersamanya. Anton tau betul bagaimana Dimas, pria itu paling tidak suka ditolak. Apalagi oleh seorang wanita seperti Vina.
"Tuan, apa Nyonya Mayang tau kita akan pergi ke rumah Nona Vina?" Tanya Anton lagi.
"Tentu saja tidak, kalau sampai dia tau dia pasti akan minta ikut dan merepotkan kita di perjalanan. Aku bilang padanya kalau kita akan melakukan perjalanan bisnis," ucap Dimas.
"Jadi maksud anda, anda telah membohongi Nyonya besar?" Anton panik.
"Iya, aku terpaksa membohonginya," Dimas meringis.
__ADS_1
"Kalau dia tau, pasti dia akan memarahi kita habis habisan," Anton memasang ekspresi wajah takut.
"Jangan bahas soal itu lagi, kita pikirkan hal itu belakangan." Dimas menganggap enteng kebohongannya.
Anton menggeleng gelengkan kepalanya, dia harus mencari cara agar tidak ikut dimarahi oleh Nyonya Mayang saat kebohongan Tuan Dimas terbongkar. Tapi dengan cara apa? Mungkin Anton harus pasang badan saja jika tau tau dijadikan kambing hitam oleh Tuannya, memang sudah nasibnya menjadi bawahan bukan?
"Apa kota X masih jauh?" Tanya Dimas.
"Tentu saja masih, kita belum keluar daerah Jawa Barat. Sebaiknya Tuan tidur saja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai," seru Anton.
"Mana mungkin aku bisa tidur? Jantungku terus berdetak kencang seperti genderang mau perang," ucap Dimas sewot.
"Huft... Kalau begitu saya putarkan lagu dangdut koplo saja ya, siapa tau Tuan jadi mengantuk," ucap Anton.
"Memutar lagu dangdut koplo? Bukannya tidur, nanti aku malah bergoyang tanpa henti." Dimas setengah menahan tawa begitu juga dengan Anton.
Mata Vina terus kedutan, sepertinya dia akan menerima tamu jauh. Tapi siapa? Ditempat itu Vina tidak punya teman, dia juga tidak punya saudara lain selain Bibinya.
"Vin, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Nirmala.
"Emhm... Tidak ada," sahut Vina.
"Aku pikir kamu sedang memikirkan Dimas," goda Nirmala.
"Bibi, apaan sih," pipi Vina bersemu merah.
"Idih, malu malu meong tuh," goda Nirmala lagi.
__ADS_1
Sedang asing saling menggoda tiba tiba saja terdengar suara mobil parkir di halaman rumah mereka. Nirmala bingung, siapa tamu yang datang ke rumahnya dengan membawa mobil semewah itu?
"Ada tamu, kamu lihat sana," perintah Nirmala.
"Tidak ah, Bibi saja," Vina menolak.
Nirmala keluar rumah, seorang pria berjas hitam turun dari mobil dan berjalan dengan gagahnya. Nirmala melongo, dia kagum melihat pemandangan itu. Sekilas Nirmala merasa sosok itu mirip dengan cucunya, jangan jangan dia?
"Permisi Tante, Vina ada?" Sapa Dimas.
"Ada. Tapi anda siapa ya?" Tanya Nirmala.
"Saya Dimas, suami Vina," sahut Dimas.
"Di... Dimas?" Nirmala terbata. Pria setampan itu di tolak oleh Vina dan diabaikan begitu saja? Apa Vina sudah terkena rabun senja?
Mendengar namanya disebut, Vina keluar dari rumah sambil menggendong Dion. Alangkah terkejutnya Vina saat melihat sosok Dimas tengah berdiri di teras rumah, terlebih tak lama Pak Anton keluar dari mobil sambil membawa koper berukuran besar.
"Sayang, apa dia putraku?" Dimas menghampiri Vina yang masih mematung didepan pintu.
"Iya, dia Dion anak kita."
Dimas hendak menggendong Dion, Vina melarangnya. Tapi entah kenapa Dion tiba tiba menangis dan minta digendong oleh Dimas. Ikatan batin Ayah dan anak memang tidak bisa dibohongi, seperti apapun usaha Vina untuk menjaga jarak antara mereka berdua pasti tidak akan berhasil.
"Berikan dia padaku, dia minta ikut denganku," ucap Dimas.
"Vina, biarkan Dimas menggendongnya." Perintah Nirmala.
__ADS_1
Bersambung....