Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 30


__ADS_3

Dimas datang ke rumah orangtua Vina, Karti nampak terkejut ketika melihat kunjungan menantu rahasianya secara tiba tiba itu. Dari aura wajah Dimas, bisa Karti ketahui kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya.


Dimas menyalami Karti, wanita paruh baya itu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan situasi aman terkendali.


"Ada apa tiba tiba datang ke sini?" Tanya Karti sambil berbisik.


"Vina pergi dari rumah," sahut Dimas.


"Apa katamu? Bagaimana bisa dia pergi dari rumah?" Karti syok berat. Rasa cemas dan khawatir bercampur menjadi satu dihatinya.


"Ada ke salah pahaman terjadi antara aku, Desi dan Vina," tutur Dimas.


"Semua gara gara kamu, istri satu saja tidak becus mengurus pakai acara beristri dua segala. Kamu harus mencarinya dan membawanya kembali kepadaku, kalau tidak aku akan memasukan kamu ke dalam penjara!" Ancam Karti.


"Aku pasti akan mencarinya Bu, tapi bisakah Ibu memberiku informasi alamat rumah teman Vina atau saudara Ibu lainnya?"


"Bisa, nanti sore Ibu akan datang ke rumahmu. Sekarang kamu pergi dulu dari sini, aku tidak mau suamiku tau kalau putri semata wayangnya telah kabur dalam keadaan hamil tua," usir Karti.


"Baik Bu, aku permisi dulu," pamit Dimas.


Selang beberapa lama Dimas pergi, Ayah Vina muncul dari dalam rumah. Dia merasa ada seseorang mengobrol dengan istrinya tadi, tapi kenapa sekarang tidak ada orang sama sekali? Bayu mengerutkan keningnya.


"Bu, apa tadi ada tamu datang?" Tanya Bayu.


"Bukan tamu, hanya orang asing tanya alamat saja," Karti berbohong.


"Oh... Begitu." Bayu mengangguk anggukan kepalanya.


Bayu kembali masuk ke dalam rumah, tubuh Karti melemah dan terduduk di kursi dagangannya. Dia menangis lirih, bagaimana bisa Vina nekat pergi dari rumah tanpa pamit? Sungguh, Karti sangat khawatir dengan keadaan Vina dan bayi yang ada didalam perutnya.

__ADS_1


"Kemana anak itu pergi?" Karti mengelap air matanya dan mencoba untuk menenangkan diri.


🍃🍃🍃


Karti menepati janji, dia datang ke rumah kedua untuk menemui Dimas. Dia membawa beberapa alamat dan nomor telfon saudaranya, juga teman teman dekat Vina.


Dimas mencoba menghubungi nomor itu satu persatu dan menanyakan keberadaan Vina pada mereka. Tapi hasilnya nihil, mereka semua berkata tidak tau tentang keberadaan Vina.


"Apa perlu kita lapor ke polisi?" Karti menatap wajah Dimas serius.


"Jangan, aku akan menyuruh orang orang kepercayaan ku untuk mencarinya. Ibu tenang saja, aku pasti akan segera menemukannya," Dimas mencoba menenangkan Ibu mertuanya.


"Tenang katamu? Apa kamu sudah gila? Anak semata wayang ku kabur dari rumah dengan keadaan hamil tua bagaimana aku bisa tenang?" Karti emosi.


"Apa? Vina kabur dari rumah?" Mayang muncul tiba tiba. Dia merasa begitu terkejut, saking terkejutnya dia hampir saja jatuh pingsan.


"Bagaimana bisa menantu dan cucuku pergi dari rumah? Apa semua karena Desi?" Tuduh Mayang.


"Jangan salahkan Desi Bu, semua salahku," bela Dimas.


"Cepat cari dia, kalau kamu tidak bisa menemukannya maka Ibu sendiri yang akan memotong burung kebanggaan mu itu!" Ancam Mayang.


Tak hanya Dimas saja yang merasa linu dengan ancaman itu, Karti juga ikut merasa linu. Karti baru tau kalau besannya ternyata galak juga.


"Kamu siapa?" Tanya Mayang pada Karti.


"Aku karti, Ibu dari Vina," sahut Karti.


"Ah... Besan, maafkan atas kebodohan putraku ini," Mayang memasang wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


"Iya, semua sudah suratan takdir. Anaku memiliki suami bodoh dan tidak bertanggung jawab seperti Dimas," sindir karti.


Dimas menundukkan wajahnya ke lantai, menghadapi satu singa betina tua saja sudah repot, kini Dimas harus menghadapi dua singa betina tua yang kapan saja siap menerkamnya. Apa yang harus Dimas lakukan sekarang? Dia benar benar merasa sangat bingung.


🍃🍃🍃


"Tadi suami kamu menelfon ku, dia menanyakan keberadaan mu," ucap Nirmala pada keponakannya.


"Lalu Bibi bilang apa?"


"Bibi bilang tidak tau, mana mungkin aku mengatakan kamu ada disini. Aku mana tega menyerahkan kamu pada pria nakal itu!"


"Bibi, terimakasih. Bibi memang yang terbaik,"


Vina memeluk Nirmala, wanita itu juga memeluknya balik. Sejak kecil Vina selalu disayang oleh Bibinya, bahkan melebihi Ibu kandungnya sendiri. Apapun akan Nirmala lakukan untuk kebahagiaan dan ketenangan Vina, termasuk dengan cara menyembunyikannya.


"Tapi Bi, kalau Dimas dan Ibu datang ke mari bagaimana?" Vina khawatir.


"Aku akan menitipkan kamu ke rumah temanku. Rumahnya terpencil, jauh dari tetangga. Jadi kamu akan aman disana," tutur Nirmala.


Tiba tiba Vina menangis sesenggukan, dia merasa bersalah pada Ibu dan Ayahnya, dia juga merasa rindu pada Dimas. Meski begitu, Vina tidak menyesal telah pergi jauh dari rumah.


"Aku hanya ingin hidup tenang dan tanpa masalah, itu saja. Semoga keputusanku ini benar dan membawa dampak baik untuk kami dimasa depan," ucap Vina dalam hati sambil mengelus perut buncitnya.


"Ini sudah malam, pergilah tidur. Ibu hamil harus banyak istirahat," ucap Nirmala.


"Iya Bi, sekali lagi terimakasih sudah mau menampungku,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2