Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 57


__ADS_3

Karti datang mengunjungi putrinya seorang diri, dia membawa banyak makanan dan beberapa perlengkapan bayi. Masih terlalu dini memang, tapi mau bagaimana lagi? Hasrat seorang emak emak tidaklah bisa dibendung jika sudah menyangkut soal bayi.


Karti turun dari Taxi, Pak Anton yang melihat wanita paruh baya itu kerepotan langsung sigap membantunya tanpa disuruh. Dia memang asisten pribadi yang paling pengertian didunia.


"Vina ada kan?"


"Ada, dia sedang beristirahat di dalam," sahut Pak Anton.


Kedatangan Karti disambut baik oleh Mayang, dia sedikit kaget karena besannya itu membawa banyak barang bawaan.Terutama barang barang untuk bayi dan pernak perniknya.


"Jeng, kalau mau datang ya datang saja jangan bawa macam macam," ucap Mayang.


"Aku bawa untuk calon cucuku," sahut Karti.


"Kalau untukku ada tidak?" Dion tiba tiba muncul di celah antara Mayang dan Karti.


"Tentu saja ada, banyak lagi. Ada jajan, ada mainan, baju baru juga ada," Karti mengusap rambut cucunya lembut.


"Asyik, terimakasih Nenek, Dion sayang sekali sama Nenek." Dion melompat lompat kegirangan.


Mendengar ada suara gaduh, Vina berjalan keluar. Karti syok saat melihat Vina berwajah pucat dan terlihat lemas.


"Sayang, kamu baik baik saja bukan?" Tanya karti cemas.

__ADS_1


"Aku baik baik saja Ibu, kapan Ibu datang?"


"Baru saja Ibu datang Nak,"


"Ayo, masuk kedalam."


Mereka bertiga masuk ke dalam dan menutup pintu rapat rapat.


🍃🍃🍃


Vina membuat secangkir kopi, dia memberikannya pada Dimas yang sedang fokus berkerja di ruang kerja. Meski badannya tidak sedang bugar, Vina selalu berupaya untuk meladeni suami tercintanya dengan baik.


Vina tau jika duduk terlalu lama, bahu dan leher terasa linu dan pegal. Vina sengaja memijit dua bagian itu untuk membuat Dimas merasa nyaman.


"Sama sama sayang, yang rajin kerjanya ya untuk anak anak kita,"


"Itu sudah pasti,"


Tiba tiba saja Vina teringat pada Desi dan Sarah yang katanya sudah kembali dari luar negri. Dia penasaran apakah Dimas sudah menemui dua orang itu untuk di interogasi.


Vina ingin bertanya lebih banyak tentang Desi, tapi dia takut Dimas sedikit tersinggung. Bagaimanapun Desi adalah mantan istrinya, mereka pernah memiliki kenangan indah dimasa lalu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Tanya Dimas sambil membelai wajah anggun istrinya.

__ADS_1


"Aku mau bertanya tentang Desi, apa kamu sudah menemuinya?" Tanya Vina.


"Aku sudah bertemu dengannya kemarin, aku sudah mewawancarainya tapi dia tidak mau mengaku," sahut Dimas kesal.


"Sudahlah Mas, sebaiknya jangan kita bikin panjang masalah ini," lanjut Vina. Dia tak mau Dimas dan mantan istrinya bermusuhan.


"Kamu mungkin bisa terima, tapi aku tidak bisa. Tindak kejahatan harus menerima hukuman!" Kecam Dimas.


Vina menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Tidak ada yang bisa Vina lakukan kini selain menerima dan menghormati keputusan suaminya.


"Ngomong ngomong, apa bayi di perutmu sudah bisa bergerak?" Dimas terlihat tidak sabar. Dia ingin segera menimang bayi yang ditebak olehnya berjenis kelamin perempuan.


"Belum lah, kan baru dua bulan," Vina sedikit menahan tawa.


Seperti Dimas, Vina juga berharap bayi yang ada didalam perutnya adalah perempuan. Tapi jika ternyata nanti lahir laki laki juga tidak apa apa, yang penting anaknya sehat jasmani dan rohani.


"Vino sudah mirip denganmu, anak kedua harus mirip denganku," cicit Vina.


"Tidak bisa, semua anakku harus mirip denganku. Aku penyumbang terbesar untuk keberhasilan kehamilanmu itu!" Ledek Dimas.


Malam itu, sepasang suami istri itu berdebat soal anak. Meski begitu keduanya tetap saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2