
Seminggu berlalu, sikap Vina pada Denis masih saja dingin. Walaupun dingin, Vina masih menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Dia tetap melayani Dimas dan menyiapkan segala keperluan Dimas, hanya tidak memakai senyum saja.
Mayang merasa ada yang tidak beres dengan sikap menantunya, biasanya dia banyak bicara dan bercanda tapi beberapa hari ini dia menjadi lebih pendiam dan sedikit bicara. Pasti ada sesuatu yang terjadi, Mayang harus segera mencari tau.
Selesai makan malam, seperti biasa seluruh anggota keluarga berkumpul di depan tv. Mayang memanfaatkan momen tersebut untuk mewawancarai menantunya.
"Vina, kamu kenapa? Sepertinya sedang banyak pikiran," ucap Mayang so tau.
"Ibu perhatian sekali padaku, Ibuku saja tidak bisa menebak kalau aku sedang ada pikiran," Vina menoleh kearah Karti yang sedang sibuk bermain dengan Dion.
"Jadi, kamu sedang ada masalah apa nak?" Desak Mayang. Dia memang selalu ingin ikut terlibat jika anak dan menantunya memiliki masalah.
"Dimas Bu, kemarin aku memergoki dirinya sedang makan siang sama wanita lain. Pulang telat, alasannya banyak kerjaan di kantor, padahal jalan sama wanita cantik itu," tutur Vina.
Mayang melempar pandangan pada Dimas, wanita itu mengangkat kedua tangannya keatas dan menggelengkan kepalanya. Mayang tau Dimas tidak bermain dibelakang, dan Vina hanya salah paham saja.
"Kamu tenang saja ya Vina, kalau dia macam macam Ibu sendiri yang akan memotong barang miliknya dengan gergaji," ancam Mayang.
"Terimakasih ya Ibu," Vina mengukir senyum.
Samar samar, Karti mendengar curhatan anaknya pada sang mertua. Dia mendekati dua wanita itu dan ikut nimbrung bersama mereka, sementara Dion dia berikan kepada Kakeknya.
__ADS_1
"Nak, kamu ingat hal ini. Cemburu boleh, berlebihan jangan. Jangan sampai rasa cemburu mu itu membuatmu terus curiga pada suamimu, nanti dia bisa jengah dan kesal sama kamu loh," Karti menasehati putrinya. Dia lebih lama membina rumah tangga jadi punya lebih banyak pengalaman.
"Iya Bu, Vina tau," ucap Vina.
"Menjalin rumah tangga memang tidak mudah, ada saja cobaan dan godaannya. Tapi Ibu yakin, kalian berdua bisa melewatinya dengan baik,"
"Amin... Semoga saja."
🍃🍃🍃
Di tempat lain...
Sarah mengancam akan memotong bayaran pria itu, tapi Sarah tidak benar benar melakukannya. Dia mau pria itu mencelakai Vina lagi tapi dengan upah yang lebih murah dari sebelumnya.
"Bu, saya ini penjual jasa bukan penjual roti. Mana bisa main potong tarif begitu saja,"
"Ayolah, hitung hitung untuk langganan,"
"Mencelakai uang kok untuk langganan, apa Nyonya tidak takut ditangkap polisi? Mending sekalian habisi saja!"
Sarah berpikir, dia tidak tega jika Vina dihabisi begitu saja. Dia hanya ingin membalas dendam karena Vina telah menjadi penyebab perceraian Desi dan Dimas, bukan untuk melenyapkannya.
__ADS_1
"Jangan habisi dia, tembak saja bagian tangan atau kaki agar dia cacat. Aku akan membayar mu dengan tarif lama," ucap Sarah.
"Nah, begitu dong. Aku kan jadi semangat mengerjakan tugasnya,"
🍃🍃🍃
Di kamarnya, Dimas terus menerus merayu dan menggoda Vina agar tersenyum padanya. Tapi hasilnya nihil. Vina terus saja cemberut, dia malah semakin kesal pada Dimas.
Emosi Vina saat ini sedang tidak stabil, apa lagi dia sedang haid hari kedua. Perutnya nyeri, pinggangnya pegal, kepalanya pusing bukan main.
"Sayang, aku akan membelikan apapun yang kamu mau asal kamu mau tersenyum padaku," rayu Dimas untuk kesekian kali.
"Benarkah? Kalau begitu belikan aku rasa Hermes,"
"Itu syarat yang cukup gampang, besok kita pergi kesana ya,"
"Serius?"
"Ya, aku serius. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan senyummu lagi,"
Vina dan Dimas berpelukan. Itulah wanita, suka memanfaatkan situasi dan kondisi untuk mendapatkan apa yang dia mau. Bukan wanita namanya kalau sendirinya berbuat salah tapi memaksa suaminya yang minta maaf duluan. He... He... He...😁✌️
__ADS_1