Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 28


__ADS_3

Mayang datang mengunjungi Vina lagi, kali ini dia membawa satu kantung penuh makanan. Ada roti, buah, susu hamil dan aneka cemilan lainnya. Vina yang sedang asik memberi makan ikan hias di samping rumah tidak tau kalau Ibu mertuanya datang, sampai Anton yang tengah berdiri disampingnya memberi tahu.


"Nona, Ibu mertua anda datang," ucap Anton.


Vina bangkit dari duduknya, dia menoleh kebelakang dan mendapati Mayang sudah ada didekatnya.


"Apa kabar menantuku?"


"Baik Bu, Ibu sendiri bagaimana?"


"Baik juga. Ini Ibu bawa oleh oleh buat kamu,"


"Terimakasih Bu,"


"Sama sama."


Vina mengajak Ibu mertuanya masuk ke dalam rumah, Anton langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan kudapan. Wajah Mayang terlihat sedikit murung, tidak seperti kemarin. Vina merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang mengganggu pikirannya.


"Apa ada masalah dengan Dimas Bu?" Vina mencoba menebak.


"Desi sekarang ada dirumah sakit, dia mencoba bunuh diri dikamar mandi pagi tadi," tutur Mayang.


"Apa? Kenapa dia bisa melakukan hal sebodoh itu? Apa semua ini karena aku?" Vina merasa sangat terkejut dan syok.


"Tidak, itu tidak benar. Semua yang terjadi pada Desi bukan karena kamu, tapi karena kebodohan dia sendiri," bela Mayang.


Vina menangis, dia merasa dirinya terlalu egois karena ingin memiliki Dimas setelah berhasil mengandung anaknya. Dia telah merusak kebahagiaan rumah tangga Dimas dan istrinya, Vina harus segera melakukan sesuatu untuk mengakhirinya.


Hal yang perlu Vina lakukan saat ini adalah mengunjungi Desi, meminta maaf padanya atas kesalahan yang pernah Vina lakukan baik secara langsung atau tidak langsung. Vina siap jika nanti dia akan diusir atau dijambak oleh Desi.

__ADS_1


"Bu, apa Ibu bisa mengantar aku ke rumah sakit? Aku ingin menjenguk Desi," ucap Vina.


"Bisa, tapi jangan lama lama disana ya. Ibu takut dia akan membawa pengaruh buruk pada kandungan mu,"


"Iya Bu."


🍃🍃🍃


Tiba dirumah sakit...


Vina langsung masuk kedalam sebuah ruang rawat inap, dia melihat Dimas sedang menggenggam tangan Desi sambil menundukkan wajahnya, sementara Desi masih terbaring lemah dan memejamkan mata.


"Mas Dimas," panggil Vina. Dimas menoleh, dia bangkit dari duduknya dan memeluk Vina erat.


"Sedang apa kamu disini?"


"Aku ingin menjenguk istrimu,"


"Hanya sebentar, aku hanya ingin tau keadaan Desi. Apa dia baik baik saja?"


"Dia baik baik saja, saat ini dia sedang tidur setelah minum obat,"


"Syukurlah, semoga dia segera pulih,"


"Kamu kesini dengan siapa?"


"Dengan Ibu, dia menunggu diluar. Katanya dia tidak tahan jika terlalu lama mencium bau obat,"


"Bagaimana kabarmu? Maaf, aku belum sempat menjenguk mu,"

__ADS_1


"Tidak apa apa mas, aku bisa mengerti. Teruslah bersama Desi hingga sembuh dan pulih seperti sedia kala."


Dimas mengelus pucuk kepala Vina, kemudian menciumnya. Tak diduga Desi membuka mata dan melihat pemandangan menyesakkan itu.


Desi duduk, dia mengambil bantal dan melemparkannya kearah Vina dan Dimas.


"Teganya kalian bermesraan didepan orang yang sedang sekarat!"


"Desi," Dimas mendekati wanita itu untuk mencegahnya mengamuk. Sementara Vina hanya diam terpaku seperti sebuah manekin.


"Kalian berdua pasti senang kalau aku mati," Desi menunjuk kearah Vina dan Dimas.


"Nona, tidak ada yang senang dengan kematian anda. Semua orang disini menyayangi anda dan sangat berharap anda cepat sembuh," ucap Vina.


"Alah, bohong kamu! Sebaiknya kamu pergi dari sini, pergi!" usir Desi.


Dimas menghampiri Vina, pria itu menggandeng Vina dan membawanya pergi dari ruang rawat Desi. Sepanjang lorong Vina menangis, dia merasa bersalah kepada Desi. Wanita yang awalnya ceria, ramah dan murah senyum, tiba tiba berubah menjadi seperti orang gila.


"Semua salahku, tidak seharusnya aku merubah haluan dan menginginkan Dimas menjadi milikku. Aku harus pergi meninggalkan Dimas, aku tidak boleh menjadi perusak rumah tangga orang lain," ucap Vina di dalam hati.


Mayang turun dari mobil, dia menghampiri Vina dan Dimas yang sedang berjalan ke arah mobilnya. Mayang melihat Vina menangis, hatinya teriris perih melihat pemandangan memilukan itu.


"Bu, tolong antar Vina pulang ke rumah ya," pinta Dimas.


"Iya, Ibu akan mengantarnya. Tapi, kenapa dia menangis?" Mayang berpura pura tidak tau.


"Dia dimarahi oleh Desi," sahut Dimas.


"Sayang, yang sabar ya. Desi memang orangnya seperti itu, mudah marah dan kasar. Sebaiknya kita pulang saja dari sini," Mayang mengelus elus pundak Vina pelan. Vina mengangguk, dia menyeka air matanya dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Dimas terus menatap kepergian Vina dan Mayang, dia merasa kasihan pada dua wanita itu. Mereka ikut terkena dampak dari perbuatan yang Desi dan Dimas lakukan.


Bersambung...


__ADS_2