Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 47


__ADS_3

Vina pergi ke supermarket terdekat untuk belanja bulanan, dia pergi seorang diri sekaligus untuk me time. Sudah lama dia tidak menghibur dirinya sendiri dengan berbelanja, wanita memang paling suka dengan acara belanja dan menghabiskan uang suaminya.


Disana, dia tak sengaja bertemu dengan Yoga dan Desi. Mereka berjalan berdekatan sambil sesekali bercanda dan tertawa, dari sorot mata mereka tersirat ada hubungan yang tak biasa. Mungkinkah mereka berdua berpacaran? Vina tak menyangka Desi akan secepat itu move on, dengan Yoga adik mantan suaminya sendiri. Aneh bukan?


"Desi..." Panggil Vina. Desi dan Yoga menoleh seketika, mereka berdua kaget tapi mencoba untuk tetap tenang.


"Vina, sedang apa kamu disini?" Desi gugup.


"Belanja bulanan, kalau kalian?" Tanya Vina.


"Kami... Kami juga sedang belanja bulanan," ucap Yoga terbata.


"Bagaimana keadaanmu? Aku dengar dari Ibu kamu baru saja mengalami kecelakaan," tanya Yoga.


"Itu kamu tau, kenapa tidak menjengukku?" Sindir Vina.


"Aku sedang sibuk," kilah Yoga.


"Sibuk apa?"


"Sibuk belajar lah, kamu kan tau aku calon Dokter," Yoga mulai sewot.


"Oh... Begitu. Aku kesana dulu ya, silahkan nikmati lagi kebersamaanya." Vina menepuk pundak Yoga seperti sedang meledek.


Desi merasa kesal, kenapa juga mereka harus bertemu saat dia sedang bersama Yoga. Bagaimana kalau Vina mengadu pada Dimas kalau Desi jalan dengan adik tirinya? Duh, malunya bukan kepalang.

__ADS_1


Walaupun Desi tau Dimas tidak akan peduli padanya lagi, tapi jalan dengan adik ipar sendiri padahal belum lama bercerai itu sangat tidak normal. Harusnya Desi minta bantuan temannya untuk mendapatkan kekasih bule, agar Desi tidak kesepian dan memiliki teman main lain selain Yoga.


"Dimas tidak perlu tau hal ini, kalau tau nanti dia marah bagaimana? Mereka berdua belum lama bercerai, dan isi hati seseorang tidak ada yang tau." Gumam Vina lirih.


selesai belanja, Vina pergi kesebuah restoran cepat saji untuk membeli ayam goreng dan soda. Dia tak sengaja melihat Dimas suaminya sedang makan siang bersama dengan seorang wanita cantik, mereka terlihat akrab, sepertinya rekan bisnis. Tapi sepertinya wanita itu sedikit genit dan nakal pada Dimas, apa perlu Vina menemui Dimas?


Hari ini Vina benar benar apes, sudah bertemu dengan Yoga dan Desi, dia juga harus memergoki Dimas sedang makan siang dengan wanita lain.


Ah, sudahlah. Berpikir positif itu lebih baik daripada berpikir negatif, pikiran negatif hanya akan memperumit suatu hubungan dan mental seseorang. Akhirnya Vina memutuskan untuk pulang kerumah, dia tidak jadi membeli ayam goreng dan soda.


🍃🍃🍃


Meski berusaha untuk bersikap tenang dan santai, nyatanya Vina masih terus memikirkan kejadian siang tadi. Siapa wanita yang makan siang bersama dengan Dimas? Apa selama ini Dimas diam diam suka makan dengan wanita lain diluar sana?


Rasa cemburu dan pikiran buruk mulai menggerogoti Vina, hingga dia tidak fokus dalam melakukan sesuatu termasuk pekerjaan rumah tangga.


"Ah, maaf. Aku sedang banyak pikiran," ucap Vina.


"Kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Karti.


"Aku...." Vina merasa bimbang untuk curhat pada Ibunya.


"Ayo, katakan saja!" Desak Karti.


"Aku melihat Dimas sedang makan siang bersama wanita lain," tutur Vina.

__ADS_1


"Jangan cemburu dulu, siapa tau dia rekan bisnis atau sekertaris Dimas. Mereka makan diluar pasti agar bisa ke ih rileks dalam membicarakan soal pekerjaan," Karti mencoba mendinginkan isi pikiran Vina yang sedang mendidih.


"Iya, harusnya aku percaya padanya," Vina menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


Dimas pulang telat, sebagai permohonan maaf pada Vina dia membelikan dua porsi martabak dan beberapa camilan lain. Vina sedikit cemberut, dia takut Dimas pulang telat karena asyik berduaan dengan wanita yang bersamanya tadi siang.


"Hey, kamu kenapa?" Tanya Dimas.


"Kamu dari mana? Kok telat?" Tanya Vina balik tanpa menjawab pertanyaan Dimas.


"Aku ada banyak kerjaan di kantor," sahut Dimas.


"Di kantor atau di restoran cepat saji?" Sindir Vina.


"Loh, kamu kok bisa tau? Tadi kamu ada di restoran itu ya?" Tebak Dimas.


"Iya," Vina memonyongkan bibirnya. Dia kesal karena Dimas sudah membohonginya.


"Kenapa tidak menghampiri aku?"


"Aku takut mengganggu kamu dengan wanita itu,"


"Vina, jangan cemburu ya. Dia itu rekan bisnisku," Dimas mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Mana aku tau, aku kan tidak kenal dengannya. Siapapun dia aku tidak peduli!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2