Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 46


__ADS_3

Mayang diam diam mengajak Sarah bertemu, dia ingin bicara empat mata dari hati ke hati dengan wanita itu. Siapa tau dengan melakukan pendekatan Sarah jadi segan menyakiti atau menyenggol Vina lagi.


Mayang sengaja tidak memberi tau Dimas jika dia mengajak mantan besannya untuk bertemu. Dia tidak mau diceramahi apa lagi dilarang larang oleh pria itu. Hari ini tidak ada yang boleh mengganggu pertemuannya dengan Sarah, apapun yang terjadi.


"Sudah lama menunggu?" Sarah menyunggingkan senyum kecil.


"Lumayan, kenapa kamu datang terlambat? Grogi ya mau ketemu mantan besan," sindir Mayang.


"Untuk apa grogi, aku akan tidak punya salah sama kamu. Harusnya kamu dong yang grogi, karena kamu sudah punya salah sama aku,"


"Tidak punya salah? menyuruh orang untuk melukai menantuku adalah sebuah kesalahan besar!" omel Mayang.


"Mendukung perceraian Dimas dan Desi juga sebuah kesalahan besar, kamu ingat itu juga,"


"Mereka bercerai karena memang belum berjodoh, jangan kekanakan Sarah,"


"Siapa yang kekanakan? Aku atau kamu?"


Mayang dan Sarah bertengkar hebat, beberapa orang disekitar mereka menyaksikan kejadian tersebut dan ada pula yang sampai merekamnya. Itulah manusia, bukannya melerai malah menjadikan perkelahian orang lain sebagai topik berita agar viral.


Beberapa waktu berlalu usai keributan yang terjadi antara Mayang dan Sarah, vidio mereka tersebar luas dan Viral. Mayang bersikap cuek, acuh tak acuh, tapi Dimas tak bisa menahan emosinya dan mengomeli Mayang sampai berbuih.


"Bu, aku sudah pernah bilang pada Ibu. Jangan temui Ibu Sarah lagi dan membuat keributan dengannya," oceh Dimas.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud ribut sayang, aku hanya ingin menasehatinya saja. Tapi kami malah bertengkar dan saling terbakar emosi," seloroh Mayang. Dia sama sekali tak menyesal apa lagi merasa malu karena beritanya Viral.


Karti keluar dari dalam rumah sambil membawa beberapa cangkir minuman hangat, dia berusaha bersikap netral dan tidak memihak siapapun baik itu Dimas atau Mayang sang besan. Dia takut salah bicara dan menambah keruh suasana.


"Jeng, yang aku lakukan tidaklah salah bukan?" Mayang mencari pembelaan. Mau tidak mau Karti harus menjawabnya.


"Kalau dilihat dari kacamata seorang Ibu atau mertua, aku rasa tidak salah. Tapi kalau dilihat dari mata anak atau menantu, aku tidak tau..." Karti meringis. Mayang cemberut karena jawaban dari Karti tidak sesuai harapan.


"Sudah lah, jangan bahas soal ini lagi. Lebih baik kita semua pergi ke ruang makan, sudah waktunya makan siang," ujar Dimas.


"Ya, baiklah." Mayang berujar pasrah.


🍃🍃🍃


Vina merebahkan tubuhnya diatas kasur, dia memegang ponselnya dan membuka akun media sosial miliknya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat berita viral antara Ibu mertuanya dengan seorang wanita. Mungkinkah wanita itu adalah Sarah Ibu dari Desi? Apa mereka bertengkar gara gara aku?


"Apa yang sedang kamu lihat? Wajahmu serius sekali," tanya Dimas yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku sedang melihat berita tentang Ibumu," sahut Vina.


"Jangan merasa bersalah, semua terjadi bukan karena kamu. Tapi karena mereka berdua sama sama merasa benar,"


"Kamu tidak membela Ibu?"

__ADS_1


"Aku tidak membela siapapun,"


"Sekarang Ibu kamu mana?"


"Dia sedang ada di ruang tengah main sama Vino, malam ini dia akan menginap disini,"


"Kalau begitu aku mau siapkan kamar untuk dia dulu."


Vina pergi ke kamar sebelah untuk membereskan kamar tamu. Dia mengganti sarung bantal dan sprei dengan yang baru. Agar ruangan itu wangi Vina menaruh pengharum ruangan dan menyalakan kipas angin yang ada disana.


Begitulah seharusnya perlakuan seorang menantu pada Ibu mertuanya, memperlakukan dengan baik dan perhatian seperti pada Ibu kandungnya sendiri. Tapi Mayang juga sangat baik dan sayang pada Vina, sama seperti putri kandungnya sendiri.


"Semoga saja dia bisa merasa nyaman dan betah selama menginap disini," ucap Vina lirih.


"Tentu saja aku akan merasa nyaman dan betah disini, apa lagi masakan kamu rasanya enak sekali," Mayang muncul dibelakang Vina.


"Eh, Ibu. Silahkan masuk Bu, waktunya istirahat siang," ucap Vina.


"Terimakasih, kamu memang menantuku yang paling baik dan pengertian,"


"Terimakasih atas pujiannya Bu,"


Mayang masuk kedalam kamar, dia menaruh tas dan barang bawaannya yang lain. Dia memperhatikan kamar tersebut dengan seksama, kecil, tidak ada AC, tapi sangat bersih dan nyaman untuk ditinggali.

__ADS_1


"Aku senang, putraku tidak salah memilih istri,"


Bersambung...


__ADS_2