
Dimas menemui Desi, dia mendekap tubuh wanita itu erat dan mencoba untuk menenangkannya. Setelah tenang, Dimas ingin meluruskan ke salah pahaman yang terjadi antara Desi dan Vina.
"Desi, cintaku padamu masih sama seperti dulu. Dengan atau tanpa Vina di tengah tengah hubungan kita, aku tetap mencintaimu," tutur Dimas lembut.
"Jadi, kamu tetap menolak untuk menceraikan dia?" Desi merasa kesal.
"Ya. Ketahuilah Desi, dia wanita baik. Dia datang ke sini khusus untuk menjenguk mu, bukan untuk membuatmu cemburu dan mengamuk," jelas Dimas.
"Seperti apapun dia, aku tetap tidak mau dimadu. Jika kamu tidak mau menceraikannya maka aku akan membuatnya pergi ke dunia lain," batin Desi.
Desi mempererat pelukannya pada Dimas, rasa nyaman menjalar ditubuhnya saat mencium aroma tubuh kekar pria itu. Beberapa hari ini, dia telah membuat masalah dan Dimas terlihat begitu tertekan karena itu.
Desi menyesal, tapi dia sengaja melakukannya agar bisa menarik perhatian Dimas dan mengalihkannya dari Vina. Dia tidak mau Dimas membagi cintanya untuk wanita lain, selamanya Dimas hanya boleh menjadi miliknya.
🍃🍃🍃
Sementara itu di dalam rumah, Vina duduk termenung. Dia harus pergi melarikan diri dari rumah itu, tapi dia mau pergi kemana? Mana mungkin dia kembali ke rumah orang tuanya, Ayahnya bisa mati mendadak melihat perut Vina yang membesar.
Tiba tiba Vina teringat pada Bibinya dikampung halaman, adik dari Ibu kandungnya. Seorang janda tanpa anak bernama Nirmala, wanita baik dan penuh kehangatan.
Jika Vina pergi kesana pasti wanita itu mau menampungnya, setidaknya sampai dia melahirkan buah hatinya nanti. Tapi dia harus membuat wanita itu mau bungkam dan merahasiakan keberadaanya dari siapapun termasuk Ayah dan Ibunya sendiri.
"Non, jangan lama lama melamun. Melamun tidak baik untuk kesehatan," ceplos Pak Agus sambil menyapu lantai ruang tengah.
"Bapak tau dari mana kalau melamun tidak baik untuk kesehatan?" Vina terheran heran.
__ADS_1
"Kalau melamun pikirannya kosong, nanti kesurupan dan bisa menyakiti diri sendiri," jelas Anton.
"Ha... Ha... Ha... Bapak bisa saja. Zaman moderen seperti ini masih percaya dengan takhayul,"
"Daripada melamun, mending Non makan saja. Non sedang ingin makan apa nanti saya buatkan,"
"Emh... Sepertinya enak malam malam begini makan yang panas dan berkuah. Buatkan aku sop ayam saja,"
"Oke, tunggu sebentar ya Nona,"
Malam semakin larut, Vina pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang barang pribadinya ke dalam tas. Besok pagi buta, saat Pak Anton belum bangun dari tidurnya, Vina akan kabur dari rumah dan pergi ke kampung halaman Ibunya.
Vina tidak boleh terus menerus ada ditempat itu, karena bisa membuat hubungan Desi dan Dimas terus merenggang. Selesai menata barangnya, Vina mengambil sebuah buku dan menulis secarik surat untuk Dimas. Isinya permohonan maaf pada Dimas dan tujuannya pergi meninggalkan Dimas.
Vina menangis, dia tak kuasa menahan kesedihannya. Membayangkan anaknya akan lahir dan tumbuh tanpa sosok seorang Ayah sangatlah menyayat hati. Apakah Vina mampu merawat dan membesarkannya seorang diri? Sementara dia hanyalah seorang wanita muda berusia 20 tahun.
🍃🍃🍃
Pagi harinya, Vina meletakan sebuah surat diatas meja kamar. Dia berjalan mengendap keluar dari rumah besar itu seperti maling yang takut oleh keraguan oleh si Tuan rumah.
Vina menyetop sebuah Taxi, dia langsung bergegas menuju terminal untuk menaiki bus antar provinsi. Vina merasa lega karena acara kaburnya berjalan lancar, mungkin juga karena Tuhan merestui niat baiknya.
Pak Anton panik saat melihat pintu kamar Vina terbuka tapi tidak ada orang didalamnya. Dia menemukan sebuah surat bertengger diatas meja dan menarik kesimpulan kalau Vina telah kabur dari rumah. Pak Anton mencari ponselnya kemudian buru buru menghubungi Dimas.
"Apa katamu? Vina pergi dari rumah?" Mata Dimas membulat sempurna saat mendengar berita buruk itu. Dia emosi, dia mengepalkan telapak tangannya dan meninju tembok.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Mayang. Sementara itu Desi hanya bisa mengamati dari jauh tanpa bisa mendengar obrolan anak dan Ibu itu.
"Vina pergi dari rumah, dia meninggalkan sepucuk surat untukku,"
"Ini pasti gara gara Desi kemarin, dia merasa bersalah dan kabur dari rumah,"
"Titip Desi sebentar ya Bu, aku mau mencari Vina,"
"Iya, semoga kamu bisa cepat menemukan dia."
Hal yang pertama Dimas lakukan adalah pergi ke rumah kedua, dia mengambil surat peninggalan Vina dan membacanya.
Untuk : Mas Dimas.
Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, lancar rejeki dan selalu dilindungi oleh Tuhan. Maaf, aku pergi dari rumah dan membawa serta anakmu. Aku tidak mau kami menjadi perusak kebahagiaan rumah tanggamu dengan Desi. Jangan cemaskan kami, aku akan menjaga anakmu dengan baik.
Dari : Vina.
"Anton, apa kamu tau rumah Ibu Karti?" Tanya Dimas pada pria yang sedang menangis di sisinya.
"Tau, tapi dia tidak akan mungkin pergi kesana. Pasti dia akan pergi ke tempat yang jauh dan orang tuanya tidak akan tau,"
"Kenapa kamu berpendapat seperti itu?"
"Karena dia tidak ingin anda menemukannya dan anaknya,"
__ADS_1
Dimas menjambak rambutnya sendiri, dia merasa stres dan frustasi. Dia merasa tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Vina dan calon Ayah yang baik untuk anaknya.
Bersambung...