Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 50


__ADS_3

Dimas mengajak Vina pergi mencari lokasi strategis untuk memulai bisnisnya. Mereka menitipkan Dion pada Mayang dan Baby sitter nya.


Hari ini perasaan Vina begitu berbunga bunga, seperti taman ditengah kota. Dia senang karena impiannya untuk memiliki bisnis sendiri segera terwujud.


Dimas dan Vina tiba di deretan beberapa ruko, tempatnya lumayan ramai, dekat dengan stasiun dan halte bus.


"Bagaimana? Kamu suka tidak dengan komplek pertokoan ini?"


"Aku suka, tapi bagaimana dengan harga sewanya?"


"Jangan pikirkan itu, itu biar menjadi urusanku. Yang penting kamu suka,"


Sepasang suami istri itu menemui salah satu pemilik ruko yang kosong, Dimas telah terlebih dahulu membuat janji temu. Setelah melewati tahap tawar menawar, sebuah kesepakatan pun terjalin. Mulai bulan ini hingga dua tahun ke depan, ruko itu menjadi milik Vina.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Dimas dan Vina buru buru pulang ke rumah. Mereka takut Dion menangis dan rewel jika ditinggal terlalu lama.


"Aku memiliki teman yang memiliki pabrik tas. Tas buatan mereka bagus, harganya juga lumayan terjangkau untuk kalangan menengah kebawah. Apa kamu tertarik untuk mengobrol dengannya?" Ucap Dimas sambil mengemudikan mobilnya.


"Boleh, siapa nama temanmu itu?"


"Namanya Tamara, dia wanita yang makan siang denganku waktu itu,"


"Oh... Wanita cantik yang membuat kamu pulang terlambat tempo hari?"


"Aku pulang terlambat bukan karena dia, tapi karena pekerjaan,"


"Masa?"

__ADS_1


"Ayolah Vina, sudahi cemburu mu. Sampai kapanpun tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu,"


Meski merasa senang dengan ucapan Dimas, Vina tetap harus berjaga jaga. Karena dia tidak tau kapan pria yang dicintainya itu akan melakukan kekhilafan, apa lagi pelakor jaman sekarang sangat canggih. Mereka bisa melakukan 1001 cara untuk menaklukan hati mangsanya.


🍄🍄🍄


Tiba rumah, Dimas langsung masuk untuk mencari keberadaan Dion. Sementara Vina tetap berada di teras karena ingin memberi makan ikan ikan hias peliharaan mertuanya terlebih dahulu.


Dor... Dor...


Terdengar suara tembakan dua kali, Vina merasakan sakit di bahunya dan kemudian dia tak sadarkan diri.


Dimas keluar dari rumah, dia mencari sumber suara tembakan itu dan menemukan Vina sudah tak sadarkan diri dengan bahu terluka.


"Vina," kaki Dimas melemah. Dia hampir saja terjatuh diatas lantai karena melihat banyaknya darah yang keluar dari luka tembak di bahu Vina.


Seluruh anggota keluarga panik, Mayang menelfon ambulan sementara Pak Anton menelfon polisi.


Mayang memberi dukungan pada Dimas, dia mencoba menguatkan hati putranya yang mulai goyang.


"Vina pasti akan baik baik saja, Ibu yakin itu. Dia wanita kuat, dia pasti akan segera membuka matanya,"


🍄🍄🍄


Di rumahnya...


Sarah tengah berpesta dengan Desi, dia senang karena Vina akhirnya bisa dilukai hingga tak sadarkan diri. Niat hati Sarah ingin melukainya saja, tapi Desi berharap Vina tidak pernah bangun lagi selamanya.

__ADS_1


Desi tidak bisa hidup bahagia dengan Dimas, maka Vina pun juga tidak boleh hidup bahagia dengan Dimas. Begitu kira kira keinginan Desi saat ini.


"Kali ini pasti Dimas akan mengerahkan pasukannya dan meminta tolong pada polisi," ucap Desi.


"Kamu tenang saja, orang suruhanku langsung kabur ke luar negri setelah menembak Vina. Selama dia tidak bisa tertangkap kita akan aman dan damai sentosa,"


"Bagaimana kalau tertangkap?"


"Tidak akan, dia pembunuh bayaran yang pintar berkamuflase," ucap Sarah penuh dengan keyakinan.


Sementara itu, Dion terus menerus menangis mencari keberadaan Vina. Bayu dan Karti dibuat pusing juga bingung bagaimana cara menanganinya.


Anak itu seolah tau jika Ibunya sedang tidak baik baik saja, ikatan batinnya dengan sang Ibu begitu kuat tanpa batas.


"Ibu... Ibu..." Teriak Dion berulang ulang.


"Bagaimana ini? Apa kita bawa saja dia ke rumah sakit?" Tanya karti pada Bayu.


"Jangan, nanti kalau dia membuat keributan disana bagaimana? Apa lagi anak kita sampai saat ini belum sadarkan diri," larang Bayu.


"Iya sih, tapi kasian Dion,"


"Sabar ya Bu, kita sedang benar benar dicoba saat ini."


Karti menangis, Bayu juga ikut menangis. Mereka berpelukan erat dan saling menguatkan satu sama lain. Hati orang tua mana yang tak sedih melihat anaknya dilukai oleh seseorang? Terlebih kalau anaknya adalah anak yang baik dan tidak pernah menyusahkan orang lain.


"Siapapun pelaku penembakan itu, Ibu sangat berharap dia tertangkap dan dihukum seberat beratnya," seloroh Karti penuh emosi.

__ADS_1


"Sama Bu, Ayah juga berharap seperti itu. Semoga saja pelakunya cepat tertangkap."


Bersambung...


__ADS_2