Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 58


__ADS_3

Desi tertidur pulas setelah selesai melakukan permainan panas. Yoga bangkit dari atas kasur, dia mengambil ponsel Desi dan membaca semua chat yang ada didalamnya.


Mr. X : Tembakanku meleset dan mengenai pundaknya, bagaimana ini?


Desi : Pergi ke luar negri, jangan kembali sebelum kasus ini mereda.


Mr. X : Untuk itu aku butuh dana tambahan Nona.


Desi : Aku akan mentransfer sejumlah uang untukmu.


Mr. X : Oke.


Tubuh Yoga gemetar, dia tak menyangka kalau seorang Desi tega melukai orang lain dengan membayar seorang pembunuh bayaran. Tapi, siapa yang telah dilukai oleh Desi? Yoga benar benar merasa penasaran.


Desi menggeliat, Yoga segera meletakan ponsel Desi kembali sebelum wanita itu berhasil membuka kedua matanya. Desi langsung mencari keberadaan Yoga saat kesadarannya kembali penuh.


"Aku disini," Yoga tersenyum manis.


"Sedang apa kamu disitu?" Desi penasaran.


"Aku mau membuka jendela agar udara di ruangan ini berganti dengan yang baru,"


"Oh...

__ADS_1


"Mau makan tidak? Aku akan carikan di luar,"


"Boleh, carikan aku lontong sayur dan martabak telur. Uangnya ambil saja di tas," ucap Desi


"Ha... Ha... Tau saja aku tidak punya uang,"


"Tau dong, bau badan pria beruang dan tidak punya uang kan berbeda," sindir Desi.


"Dasar Tante Tante sial!" Gerutu Yoga kesal.


Setelah menunggu sekitar satu jam lamanya, Yoga kembali ke apartemen dengan membawa makanan pesanan Desi. Dia menyiapkan makanan itu diatas meja tanpa disuruh terlebih dahulu.


"Sebenarnya Yoga boleh juga, dia patuh dan hot," batin Desi.


"Kenapa melamun, ayo makan. Makanannya sudah siap," ujar Yoga.


"Ngomong ngomong, kemana saja kamu selama ini? Dan apa kesibukanmu," Yoga kepo.


"Aku baru pulang dari luar negri, aku kembali untuk menata ulang sistem cafe milikku. Kamu tau kan, pengunjung setia cafe itu semakin hari semakin sedikit,"


"Ya, aku tau. Semangat ya, cuma itu yang bisa aku lakukan untuk kamu," Yoga tertawa geli.


"Dasar bujang kere!" Menggerutu lirih.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Seperti dugaan Dimas sebelumnya, kedatangan Karti kerumah mereka tidak hanya untuk menjenguk anak dan cucu saja. Dia juga ingin tau tentang perkembangan pencarian penembakan Vina tempo hari.


Karti menyeret Dimas ke luar rumah, dia mengajak sang menantu berbicara empat mata.


"Ada apa lagi Bu?" Tanya Dimas. Dia sudah mulai lelah dicerca berbagai pertanyaan oleh wanita paruh baya itu.


"Tolong carikan pengawal pribadi untuk putriku, dia sedang hamil. Aku tidak mau ada orang yang menembaknya lagi," sahut Karti.


"Ibu tenang saja ya, dia tidak aku perbolehkan keluar rumah kecuali bersamaku,"


"Oh... Begitu. Ngomong ngomong, apa kamu sudah melaporkan kasus penembakan Vina ke kantor polisi?"


"Sudah, Ibu tenang saja ya." Sahut Dimas.


Tiba tiba Vina menyusul keluar, dia penasaran dengan apa yang Ibu dan suaminya obrolkan. Kenapa mereka harus mengobrol di luar rumah? Apa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan dari Vina?


"Ibu, Mas Dimas. Apa yang sedang kalian bicarakan di luar?" Tanya Vina.


"Kami tidak sedang membicarakan apapun," sahut Karti.


Karti sangat tidak ingin Vina tau kalau dirinya memerintahkan Dimas mencari pengawal pribadi khusus untuk Vina. Dia takut Vina marah, dan mengecap Karti sebagai Ibu yang over protektif.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo masuk ke dalam, diluar dingin." Ajak Vina. Karti dan Dimas pun kembali masuk ke dalam rumah.


Bersambung...


__ADS_2