Rahim Sewaan Tuan Kulkas

Rahim Sewaan Tuan Kulkas
Bab 59


__ADS_3

Vina pergi ke minimarket dekat tempat tinggalnya, dia membeli beberapa keperluan anak dan keperluan pribadinya. Tak disangka disana dia bertemu dengan Riska sahabat lamanya yang sudah beberapa tahun tidak bertemu.


"Riska," panggil Vina. Wanita itu menoleh dan tersenyum ketika melihat sosok Vina. Keduanya saling menghampiri, berpelukan dan bersalaman satu sama lain.


"Bagaimana kabarmu Vina?" Tanya Riska.


"Kabarku baik, kabarmu sendiri bagaimana?"


"Baik juga,"


Riska memperhatikan penampilan Vina saat ini, rambut tertata rapih, make up tebal. Pakaian, tas dan sepatu bermerek. Rupanya Vina sudah sukses menjadi istri pria kaya, mana mungkin wanita miskin seperti Vina bisa tiba tiba menjadi kaya kalau tidak menikah dengan pria kaya?


Dulu Riska pernah memandang Vina sebelah mata, tapi kini Riska tidak berani melakukannya.


"Sudah punya anak berapa sekarang?" Tanya Riska.


"Sudah mau dua," sahut Vina.


"Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Vina balik.


"Aku belum menikah," Riska sedikit menundukkan wajahnya.


"Oh, semoga kamu bisa cepat bertemu jodoh ya,"


"Iya, terimakasih."


Riska buru buru menjauhi Vina, dia merasa saat ini dia dan Vina tidak sepadan lagi. Dia juga tidak mau Vina banyak bertanya tentang kehidupannya saat ini, karena dia yang dulu tidak seperti dia yang sekarang.


"Aneh sekali, kenapa Riska seperti sedang menjauhi aku ya? Apa aku ada salah dengannya? Ah, jangan jangan dia tersinggung dengan kata kataku tadi," gumam Vina panjang lebar.

__ADS_1


Hujan tiba tiba saja turun begitu deras saat Vina hendak keluar dari tempat perbelanjaan. Vina tertahan di teras, sementara Pak Anton hanya bisa mengawasinya dari dalam mobil karena tidak membawa payung.


Yoga muncul entah dari mana, hari itu mungkin hari keberuntungan Vina karena berhasil bertemu secara tak sengaja dengan dua sahabat lamanya.


"Vin, kamu disini?" Sapa Yoga.


"Iya, kamu dari mana?" Tanya Vina.


"Dari rumah mau ke toko ini, kamu sendirian?"


"Tidak, ada Pak Anton di dalam mobil,"


"Kakakku mana mungkin mengizinkan kamu pergi sendirian," Yoga menggerutu.


Lama tak bertemu, meski telah beranak satu Vina terlihat masih langsing dan cantik. Dia memang pandai merawat diri, sama seperti Desi.


Angin berhembus kencang, Vina menggigil kedinginan sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Dengan sigap, Yoga melepas jaketnya dan memakaikannya pada Vina.


"Aku pria sejati, mana mungkin aku tega melihat wanita hamil muda kedinginan," ucap Yoga.


"Kelihatan jelas ya?"


"Jelas sekali." Yoga mengukir senyum.


Parahnya, kejadian itu dilihat langsung oleh Pak Anton. Dia melaporkannya pada Dimas dan membuat Dimas salah paham pada adik tirinya itu. Dimas menggebrak meja, dia melayangkan beberapa tinju ke udara.


"Pria sial itu, selain hobi menggoda mantan istriku dia juga hobi menggoda istriku!" Ucap Dimas kesal.


🍃🍃🍃

__ADS_1


Pulang dari kantor, Dimas melonggarkan dasi dan melempar Tasnya ke sofa.


"Vina, dimana kamu?" Panggil Dimas. Vina lari tergopoh gopoh saat suami tercintanya mencarinya.


"Hey, jangan lari. Kamu itu sedang hamil, harus hati hati!"


"Ah, iya. Ada apa?"


"Lain kali, jika bertemu dengan Yoga jauhi dia. Pura pura saja tidak kenal,"


"Iya, baiklah." Vina mencoba untuk patuh agar pria posesif itu tidak mengamuk seperti reog. Dimas memang baik, lembut dan perhatian, tapi saat sedang cemburu dia lebih seram dari pada hantu.


"Sudah makan belum? Aku siapkan ya?" Tawar Vina.


"Aku mau mandi, temani aku mandi ya," bujuk Dimas.


Mayang muncul dari ruang tengah, pipi Vina langsung memerah. Dia yakin Ibu mertuanya telah mendengar segalanya.


"Sudah besar manja sekali, tidak mau kalah dengan anakmu," sindir Mayang.


"Biarkan saja, bukannya istri itu tugasnya hanya mengurus anak dan menyenangkan hati suami?" Balas Dimas. Dia seolah tidak terima disamakan dengan anak kecil.


"Aku permisi dulu mau menyiapkan air hangat," Vina beranjak pergi. Sementara Dimas dan Ibunya masih saling sindir menyindir.


"Ayah, ada apa?" Dion merasa tidak nyaman mendengar Ayah dan neneknya ribut kecil.


"Itu Ayahmu kekanakan sekali," celetuk Mayang.


"Ibu..." Dimas ngambek saat diadukan pada anaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2