
Desi merasa hatinya hancur berkeping keping, kesepakatan yang telah Desi dan Dimas buat diawal ternyata berakhir dengan cara tragis dan tidak sesuai harapan. Desi merasa kecewa pada Dimas, pria itu jatuh hati pada wanita bayarannya dan menginginkan Desi agar bisa menerimanya.
Mana ada wanita yang mau dimadu? Mana ada wanita yang ikhlas cinta dari suaminya terbagi? Sekalipun surga menjadi jaminannya, Desi tetap tidak mau menerima Vina sebagai madunya.
Desi sangat ingin menggugat cerai sang suami, tapi dia mandul. Apa masih ada pria yang mau menikah dengan wanita mandul diluar sana? Kenapa takdir terasa begitu sangat mempermainkan hidup Desi, Desi merasa tidak kuat untuk menanggung beban itu lagi.
"Apa bisa kita bicara?" Mayang berdiri didepan pintu kamar Desi yang terbuka.
"Ibu mau bicara apa? Apa Ibu mau mengusir aku pergi dari rumah ini?" Tanya Desi.
"Sejahat jahatnya aku mana tega aku mengusir menantuku sendiri," ucap Mayang.
Mayang masuk ke kamar Desi, dia menarik kursi meja rias dan duduk diatasnya. Dia memandang wajah Desi lekat lekat, jelas sekali Desi sedang stres dan tertekan saat ini. Mayang juga bisa memahaminya, karena dulu dia pernah dipoligami sebelum akhirnya meminta cerai pada sang suami.
"Kamu masih mencintai Dimas bukan? Terimalah keputusannya, belajarlah berdamai dengan dirimu sendiri. Aku tidak mau kamu menyesal seperti aku," Mayang mencoba memberi nasihat.
"Bicara memang mudah Bu, tapi menjalaninya sulit," ucap Desi.
"Ibu tau semua terasa sulit dan tak adil untukmu, tapi coba jalani saja dulu. Nanti lama lama juga hatimu akan bisa menerima. Lagi pula, aku dengar dari Dimas kalau Vina adalah wanita baik, siapa tau kalian bisa bersahabat,"
"Bersahabat? Aku tidak sudi bersahabat dengan pelakor!"
__ADS_1
"Dia bukan pelakor, dia gadis baik baik yang dipaksa menjadi pelakor oleh kalian berdua,"
Desi terdiam, benar semua berawal dari kesalahan dan keteledorannya, tapi dia tetap tidak terima jika Dimas ingin menjadikan Vina madunya. Sudah pasti Vina akan menjadi kesayangan Dimas dan Mayang, karena dia bisa melahirkan anak dan memberikan keturunan.
Bisa jadi suatu saat nanti, Dimas dan Mayang akan membanding bandingkan dirinya dengan Vina. Mengungkit kekurangannya dan mengabaikannya. Lebih baik Desi tetap menolak Vina dan meminta Dimas untuk menceraikannya. Tak apa jika dia tidak bisa mendapatkan anak itu, yang penting dia masih bisa memiliki Dimas seutuhnya.
"Pikirkan omongan Ibu baik baik Desi, pria tidak suka dikekang. Dia akan pergi meninggalkan kamu jika kamu terus seperti itu, tidak sayang kah kamu pada pernikahan kalian yang telah berjalan sepuluh tahun?" Tutur Mayang lagi.
"Bu, berhenti menceramahi aku. Aku sedang ingin sendiri saat ini," usir Desi secara halus.
Mayang pergi meninggalkan Desi seorang diri di kamarnya, dia langsung mencari keberadaan Dimas yang ternyata sedang duduk termenung di bangku teras.
Saat ini, Dimas sedang dihantui oleh rasa bersalah. Dia telah merusak hidup dan kebahagiaan dua wanita sekaligus, yaitu hidup Desi dan Vina. Andai waktu bisa diputar, Dimas akan memilih hidup melajang karena menjadi seorang suami itu ternyata tidak mudah.
"Dia masih sangat terpukul," sahut Mayang.
"Bagaimana kalau dia terus memintaku untuk meninggalkan Vina? Atau malah dia menuntut cerai dariku?" Dimas merasa khawatir.
"Soal itu, hanya kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Jangan bertanya kepada Ibu, Ibu juga pusing karena ulah kamu,"
"Maafkan aku Bu, aku tidak bermaksud membuat Ibu susah,"
__ADS_1
🍃🍃🍃
Vina baru saja selesai menyiapkan kamar untuk calon untuknya. Tentunya dibantu oleh Pak Anton asisten kesayangan dirumah itu.
Tempat tidur baru, sofa baru, lemari pakaian baru dan beberapa pernak pernik lainnya termasuk mainan mobil-mobilan berwarna biru. Vina tersenyum lebar, dia senang karena akhirnya Dimas mencintainya dan tidak jadi memisahkan Vina dengan bayinya.
Tapi tiba tiba dia teringat pada nasib Desi, wanita itu pasti merasa sangat terpukul karena keputusan Dimas yang tiba tiba berubah haluan. Sudah beberapa hari Dimas tidak pulang ke rumah kedua untuk menjenguk Vina dan calon anak mereka, mungkinkah mereka berdua sedang bertengkar karena Vina?
Suatu hari nanti, Vina harus menemui Desi dan mengajaknya berbicara. Vina tidak bermaksud merebut Dimas darinya, dia hanya meminta sedikit waktu dan perhatian Dimas untuk calon anaknya saja. Selebihnya, Dimas adalah milik Desi, selamanya.
Vina sadar diri, menjadi istri kedua harus menerima segala sesuatu berbau sisa. Seperti sisa waktu, sisa perhatian dan sisa cinta dari istri pertama Dimas. Tapi dia tidak masalah, yang penting dia masih bisa memiliki Dimas walaupun tidak sepenuhnya.
"Nona, kenapa anda melamun?" Anton datang menghampiri Vina sambil membawa nampan berisi satu gelas jus dan camilan.
"Ah, tidak. Aku tidak kenapa napa, hanya sedikit deg degan karena usia kandunganku sudah semakin tua," Vina berbohong.
"Nona pasti takut ya akan menghadapi persalinan? Istri saya dulu juga begitu. Tapi dia tetap berusaha santai dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan, agar persalinan berjalan lancar, Ibu dan bayinya juga sehat," ucap Anton.
"Wah, sepertinya aku harus belajar banyak dari istri Bapak ya,"
"Semangat Nona, anda pasti bisa melewati semuanya dengan baik," Anton mencoba memompa semangat Nona mudanya yang terlihat mulai mengendur.
__ADS_1
"Oke, terimakasih atas saran dan dukungannya Pak," Vina mengukir senyum manis.
Bersambung...