
Desi mondar mandir di teras rumah menunggu kepulangan Ibunya. Wanita tua itu sudah pergi sejak pagi hari untuk menghadiri acara arisan bersama genk sosialitanya.
Meski sudah tua, gaya pergaulan Sarah masih seperti anak muda. Bahkan bisa dibilang lebih parah dari anak anak muda masa kini. Saat arisan, genk dari Sarah tak segan menyewa brondong seksi untuk menari dan menyanyi bersama mereka.
Desi mengetahui kebiasaan buruk Ibunya itu, tapi dia tidak bisa melakukan apapun selain diam. Karena Sarah adalah sosok wanita yang tak mau mendengar nasihat orang lain, walaupun itu dari anaknya sendiri.
Lama menunggu, akhirnya Sarah pulang juga. Tubuhnya terlihat sempoyongan saat turun dari Taxi, jelas wanita tua itu sedang mabuk.
"Ibu, kenapa jam segini baru pulang?" Omel Desi.
"Acaranya seru, jadi kami terbawa suasana sampai kebablasan. Tau tau langit sudah gelap saja," ujar Sarah.
"Tadi Dimas menelfon, dia mengancam akan memasukan Ibu kedalam penjara kalau Ibu masih nekat melukai Vina. Memang apa yang sudah Ibu lakukan pada Vina?" Desi penasaran.
"Aku hanya membuatnya sedikit cidera saja," sahut Sarah santai.
"Sebenarnya aku tidak peduli pada apapun yang Ibu lakukan ke Vina, tapi bermainlah dengan cantik. Jangan sampai Ibu Mayang dan Dimas tau kalau Ibu yang telah melakukannya,"
"Aku juga sudah berhati hati, tapi ternyata pria itu cepat tanggap juga. Sudahlah, jangan bahas dua orang brengsek itu lagi. Ibu mau istirahat dulu,"
Sarah mendorong Desi agar minggir dari depan pintu, Desi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita akhir zaman itu. Semakin tua bukannya insyaf malah semakin jadi. Seolah lupa kalau liang kubur dan segala hukumnya sudah menanti.
Desi mengikuti Sarah dari belakang, dia mengawasi wanita itu hingga masuk kedalam kamar dan berbaring ditempat tidurnya. Desi takut yang sudah sudah terjadi lagi, karena mabuk Sarah tidak bisa membedakan mana kamar tidur mana kamar mandi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Meminta Ibu untuk berhenti meneror keluarga Dimas atau malah membantunya?" Desi berada diambang kebimbangan.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Vina merasa lelah menghabiskan sebagian waktunya ditempat tidur. Dimas sama sekali tidak membolehkannya untuk keluar kamar dan melakukan aktifitas apapun. Padahal, semua luka yang di derita Vina sudah sembuh.
Pintu kamar terbuka, Dimas datang sambil membawa segelas susu untuk istri tercintanya.
"Berhenti memperlakukan aku seperti seorang bayi!" Oceh Vina.
"Berhenti protes dan lakukan apapun yang aku perintah!"
"Dasar tukang memaksa!"
"Cepat minum ini, atau aku yang akan meminumkannya dengan menggunakan..." Dimas memotong omongannya.
Vina tau apa yang dimaksud oleh Dimas, dia langsung meraih segelas susu itu dan menenggaknya sampai habis.
"Sekarang tidurlah," ujar Dimas. Dia hendak pergi dari kamar itu tapi Vina menahannya.
"Ada apa lagi?" Tanya Dimas.
"Jangan memperpanjang masalah dengan Tante Sarah, aku tidak mau hubunganmu dengan Desi semakin keruh," pinta Vina.
"Aku pria terhormat yang bertanggung jawab atas keselamatan keluargaku. Selama aku masih bernafas, aku tidak akan membiarkan siapapun mencolek dirimu atau lainnya," ucap Dimas tegas.
Vina terdiam, pria keras kepala itu mana mungkin bisa diperbaharui. Vina hanya pasrah saja menyikapi kelakuan suaminya. Dalam hati Vina berharap hubungan Dimas dan keluarga mantan istrinya tidak semakin memanas.
Dalam hati Dimas berpikir, yang dikatakan Vina ada benarnya juga. Tidak baik membalas keburukan orang lain dengan keburukan, tapi Dimas paham betul bagaimana Sarah. Jika Dimas diam saja makan Nenek tua itu akan semakin semena mena pada Vina.
"Kenapa kamu melamun Dimas? Di dapur pula," tanya Karti.
__ADS_1
"Vina melarang aku untuk memberi pelajaran pada Ibu Sarah,"
"Dia memang gadis baik, tapi kali ini aku tidak setuju dengan Vina. Kamu harus memberi teguran ringan pada Sarah, kalau tidak aku sendiri yang akan mengajaknya berkelahi,"
"Ibu tidak perlu mengotori tangan Ibu sendiri, biar aku saja. Aku pasti akan memberi wanita itu pelajaran,"
"Bagus, itu baru mantu yang terbaik."
🍃🍃🍃
Cerita kembali pada Desi...
Pagi hari, saat Sarah baru bangun tidur. Dia kembali mengajak Ibunya berbincang membahas tentang Dimas dan keluarganya. Kesadaran Sarah sudah pulih, tapi dia tetap tidak menerima masukan dan saran dari putrinya itu.
Sarah tidak peduli jika dia harus masuk kedalam penjara, yang jelas air mata putrinya harus dibayar dengan penderitaan keluarga itu. Putrinya adalah segala galanya bagi Sarah, tidak ada yang boleh menyakitinya siapapun itu.
"Bu, bisa tidak Ibu bertanya dulu kepadaku kalau ingin melakukan sesuatu? Mintalah saranku, jangan beraksi sendiri," ceramah Desi.
"Ibu sudah tua, Ibu tidak perlu pendapat dari orang lain," sahut Sarah.
"Bu, aku tidak mau Dimas menjebloskan Ibu kedalam penjara. Pokoknya kalau Ibu mau melakukan apapun pada Vina minta saja bantuan padaku, agar aman dari mata mata Dimas," ujar Desi.
"Ibu rasa semenjak kasus kemarin gerak gerik kita selalu diawasi. Untuk sementara ini Ibu puasa mencelakai Vina, sambil menunggu Dimas lengah," ucap Sarah.
"Nah, begitu lebih baik. Kita tidak boleh grasak grusuk dalam melakukan sesuatu," Desi menepuk pundak Ibunya pelan.
Bersambung...
__ADS_1