
Sepulang sekolah, Eca tidak langsung pulang. Dia menunggu kelas Nehan selesai. Sudah qbel pulang sejak. Tapi kelas Nehan masih menerima siraman rohani dari wali kelas mereka. Sepertainya baru saja ada masalah di kelas itu. Dengan sabar Eca menunggu sambil menendang kerikil kecil yang ada di tanah. Sesekali dia berjalan untuk membuang suntuk. Kakinya mulai pegal tapi tidak ada tempat duduk di lapangan futsal ini. Mau jongkok, rasanya aneh seperti gaya mau buang air.
Eca mengedarkan pandangan ke arah salah satu pohon rindang yang ada di dekat lapangan. Terdapat beberapa daun berguguran. Mulai memasuki musim hujan, banyak daun yang berguguran. Barusan hujan reda dan tampak sekeliling pohon masih lembab. Padahal bersadar di bawah pohon sambil menunggu Nehan akan sangat menyenangkan. Sayang sekali, itu hanya angan-angan Eca saat ini.
Lelah menunggu, Eca memutuskan untuk berjongkok sebentar. Mungkin sekitar 30 menit Eca menanti dengan sabar. Kakinya sudah menjerit-jerit ingin istirahat. Apalah daya di sini tidak ada kursi. Eca berdiri saat melihat beberapa teman Nehan yang sudah keluar dari kelas. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari kelas Nehan, Eca mengamati satu per satu orang yang keluar. Tapi Eca tidak mendapati Nehan. Sekarang mulai jatuh rintik-rintik hujan , Eca berlari menuju kelas Nehan. Memastikan pria itu ada di dalam. Sesampainya di dalam kelas, dia tidak menemukan Nehan hanya beberapa teman Nehan yang masih tertinggal.
"permisi, Nehan ada dimana?"
"loh? Kamu gak ketemu dia Ca? Barusan dia buru-buru keluar. Takut hujan katanya."
"gak. Kami gak ketemu. Dari tadi aku nunggu dia di pohon dekat futsal."
"coba cek depan."
"oke. Makasih banyak."
"sip."
Eca segera berlari seiring dengan kuatnya air hujan yang jatuh. Rintik-rintik hujan tadi hanyalah peringatan bahwa hujan yang lebih deras akan datang. Sesampainya di teras depan sekolah, Eca tidak menemukan batang hidung Nehan.
"permisi, Nehan tadi lewat sini?"
"iya. Dia tadi langsung pergi buru-buru."
"oke makasih."
Eca menghembuskan nafas berat. Padahal dia udah menunggu Nehan daritadi. Mana dia tidak bawa payung lagi. Dia tidak bisa pergi ke tempat pemberhentian bus kalau seperti ini. Hujannya sangat deras. Sebentar aja Eca terkena air ini bisa dipastikan dia basah kuyup. Mana hari ini dia bawa laptop lagi, bisa-bisa laptopnya rusak kalau kena air.
Sambil melamun Eca menunggu hingga hujan reda. Namun 15 menit menunggu tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti sedangkan sebentar lagi jadwal bus datang. Kalau menunggu lagi akan membutuhkan waktu 1 jam untuk bus berikutnya.
Eca mulai gelisah beberapa kali dia berdecak karna hujan tak kunjung reda. Apalagi hari ini dia ada les. Bisa-bisa dia datang terlambat di les. Sekarang Eca mulai nekat, dia memilih untuk menerobos hujan. Dia akan melindungi tasnya dengan memeluknya dibagian depan. Tidak apa-apa jika dia basah kuyup asal laptopnya aman. Langkah Eca mulai maju mundur seakan memberikan ancang-ancang sebelum berlari kencang. Baru saja kakinya melangkah ke depan. Tasnya ditahan dari belakang yang membuat Eca mundur. dia menoleh untuk melihat pelakunya.
"kenapa?"
"hujan."
"emang. Terus kenapa? Aku buru-buru ini."
"kamu mau basah-basahan?"
"mau gimana lagi? Bus aku bentar lagi datang. Aku harus cepat-cepat."
"nih." sambil menyerahkan payung pada Eca.
"buat aku pakai?" Eca mulai terpesona.
__ADS_1
"enak aja! Tolong payungin aku sampai mobil itu di depan."
Runtuh sudah harapan Eca. Dia kira pria dihadapan ya ini kerasukan tiba-tiba menyodorkan payung. Ternyata ada udang dibalik batu. Dia meminta Eca jadi tukang ojek payung. Sialan.
"enak aja! Pakai sendiri! Kamu kira aku tukang ojek payung?!" murka Eca.
"ya udah kalau gak mau. Paling tidak kamu tidak basah sampai depan sana."
"cuman sampai depan sana! Apanya yang harus di banggakan?!" tanya Eca jengkel.
"yaudah kalau tidak mau." pria itu melangkah pergi sambil memegang payungnya.
"Gian tunggu!!"
"apa?" kata Gian kelewat santai. Dia menyeringai kecil sebelum berbalik.
"ya-yaudah mana payungnya?" kata Eca menahan malu.
Disituasi seperti ini, Eca harus menekan gengsinya. Meski jaraknya tidak terlalu jauh. Tapi keamanan laptopnya yang paling penting. Setidaknya dia baru mulai basah setelah melewati mobil itu bukan saat melewati teras sekolah. Hal itu bisa mengurangi intesitas terkena air hujan.
"ini." Gian tidak bergerak sedikitpun padahal dia sudah berjalan dua langkah dari teras sekolah.
"mudurin dikitlah Gian. Aku bisa kena hujan."
Benar-benar Gian menguji kesabaran Eca. Kalau dia tidak memerlukan payung sialan itu sekarang bisa dipastikan Eca akan memaki Gian. Sumpah serapah sudah berkumpul dalam mulutnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkannya.
Dengan penuh sabar, Eca berlari cepat kearah Gian. Mereka satu payung. Badan mereka terpaksa bersentuhan kalau Eca tidak mau kena air hujan. Badannya yang lebar memakan banyak tempat. Untung Gian tidak jijik badannya bersentuhan dengan Eca.
"oke. Makasih Gian. Aku cabut ya." Eca bersiap lari.
"payungnya bawa aja. Udah kena tangan kamu. Aku gak mau pake lagi."
"i.ya. Ma.ka.sih" ucap Eca aambil menahan gemertak digigi.
Eca berjalan menjauh dari mobil itu, dia menahan diri sekuat tenaga akan sikap Gian yang keterlaluan. Setelah dirasa cukup jauh dari mobil Gian barulah dia menumpahkan serapahnya.
"Gian anjing! Gian gak punya otak! Sialan. Dia kira aku virus apa? Kenapa kalau aku sudah pegang payung ini?? Apa tadi katanya dia gak mau pake payung ini karna aku udah pegang?! Ha! Benar-benar" gerutu Eca selama perjalanan ke tempat pemberhentian bus.
Barulah Eca diam setelah sampai di dalam bus. Meskipun hatinya masih panas. Dia mencoba mengontrolnya. Dia tidak mungkin melampiaskan amarahnya dalam bus. Dikira gila nanti dia oleh penumpang yang lain. Bagaimanapun harga diri itu penting.
Eca mengeluarkan handphone dan mengirim pesan kepada Nehan. Dia ingin memastikan keberadaan pria itu. Dan memberitahu bahwa dia sudah menunggunya daritadi.
Eca:
lagi dimana? Aku udah nungguin kamu tadi tapi kamunya pulang duluan.
__ADS_1
Tidak lama handphone Eca bergetar. Tanda pesan masuk datang. Pesan itu dari Nehan.
Nehan:
Sorry Ca. aku kira kamu udah deluan karna kelas kami terlambat pulang. Sekarang kamu dimana?
Eca:
dalam bus
Nehan:
Kamu baru pulang?
Eca:
Iya.
Nehan:
Kok baru pulang sih Ca?
Eca:
Aku nunggu seseorang tadi eh tau-taunya ditinggal.
Nehan:
Sorry Ca. Aku benaran gak tau. Kalau tau aku bareng kamu tadi. Gak mungkin aku ningggalin pacar aku.
Eca:
Kamu barusan ninggalin pacar kamu. Padahal aku udah nungguin kamu lama.
Nehan:
Iya, maaf Ca. Aku gak tau tadi. Hati-hati di jalan ya. Kabari kalau udah sampai.
Eca:
hmmmm.
Eca mematikan ponselnya. Dia menutup mata. Sepertinya dia ngantuk. Suasana hujan deras sekarang sangat mendukung untuk tidur. Tidak sengaja kaki Eca menyenggol payung. Dia lalu mendirikan payung tersebut. Dia baru ingat payung Gian. Payung yang diberikan pria itu dengan cara tersombong yang pernah Eca alami. Tapi karna payung ini, Eca selamat dari hujan deras. Seragamnya terlindungi dan laptopnya aman dari hujan.
***
__ADS_1