RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 47


__ADS_3

Sejak tadi Eca terus menampilkan senyum terpaksa setiap Dinda meminta pendapatnya. Dia tidak menikmati makan malam ini. Meskipun pemandangan cafe sangat bagus tidak kunjung membuat perasaan Eca lega. Dia malah menyesal menuruti perkataan Dinda.


Sebelumnya, mereka menunggu kepulangan Gian di depan unit Eca. Dinda langsung mengutarakan keinginan untuk makan bersama. Entah karna mau atau terpaksa, Gian mengiyakan permintaan Dinda dengan canggung. Antara canggung berinteraksi dengan Dinda atau canggung melihat ekspesi wajah Eca yang terlihat kesal.


Di sinilah mereka sekarang, di kafe dekat apartemen. Pemandangan cafe sangat menakjubkan di malam hari karena terletak di lantai 5. Menampilkan bangunan-bangunan tinggi yang berdiri kokoh di luar sana. Terdapat lampu hias yang mengelilingi kaca seperti bingkai yang memperindah pemandangan di luar.


"mas Gian kerja dimana?"


"saya bekerja di salah satu perusahaan makanan."


"udah lama kerja di sana mas?" tanya Dinda sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"lumayan, sejak tamat kuliah."


"wah pasti posisi mas udah tinggi sekarang dong!"


"begitulah."


Gian memilih meminum air sambil mencuri pandang pada Eca. Dia merasa Eca terlalu pendiam saat ini. Beberapa kali dia melihat, perempuan itu menopangkan dagu sambil menatap makanan tanpa minat. Baru beberapa suap saja yang masuk dalam mulutnya sedangkan Gian dan Dinda sudah menyelesaikan makanan hingga habis.


"oh ya, mas Gian suka olahraga ya?"


"iya."


"pantesan badan mas bagus! jadi lebih sehat. Aku mau deh punya badan bagus juga. Mas ada tips?"


"olahraga dan memperhatikan makanan."


"akhir-akhir ini aku lebih rajin olahraga loh mas. Sering bareng Eca juga. Tapi aku tidak tau apa cara aku sudah baik atau tidak. Kapan-kapan mas bisa bareng olahraga sama kita? Hehehe . . . Maksud a-aku minta tolong perhatikan gerakkan olahraga aku udah benar atau belom."


Eca segera menatap Dinda dengan horor. Padahal sudah 6 bulan Dinda berlatih bersama trainer-nya dan sekarang dia sudah bisa olahraga sendiri. Dinda sudah tidak kaku lagi dengan peralatan gym. Eca merasa terlalu berlebihan untuk meminta Gian memperhatikan dia olahraga sedangkan dia sudah tau.


"ck apanya yang mau diperhatikan?" bisik Eca sangat pelan.


Namun Gian sepertinya mendengar bisikan Eca. Sebab setelah itu dia tersenyum kecil sambil menatap Eca. Dia tidak menghiraukan perkataan Dinda lagi karna dia berfokus pada Eca.


"mas Gian? Mas Gian? Mas Gian?!"


"eh kenapa?" tanya Gian terkejut mengalihkan pandangannya pada Dinda.


"saya tanya apa mas Gian keberatan sesekali nge-gym bareng kami?"

__ADS_1


"bo-boleh kalau waktunya bisa di sesuaikan."


"saya bisa kok menyamakan jadwal saya dengan mas Gian." celetuk Dinda sambil tersenyum malu.


"he he he." tawa Gian dengan canggung.


Eca menghela nafas pelan. Sebuah sms masuk dalam ponsel. Ternyata notifikasi dari endorsan. Senyum Eca terbit saat memiliki alasan untuk pergi dari tempat ini.


"maaf Gian, Dinda, tapi aku harus balik karna masih ada video yang harus di edit. Besok deadline uploadnya. Makasih buat makanannya. Bye!"


"oke Ca, hati-hati di jalan!"


Eca mengancungi jempol. Dia melirik Gian yang sedari tadi hanya menatapnya. Pria itu masih menatap Eca sampai perempuan itu menghilang.


"namanya juga selebgram mas, sibuk." cetus Dinda kemudian meminum jusnya.


"dia selebgram?"


"iya, dia terkenal loh mas. Yah wajar sih, siapa yang tidak suka sama cewek cantik dan sexy?"


Gian menganggukan kepalanya. Dia juga menginyakan karna itu faktanya. Lalu Gian berkata, "dia membuat video tentang apa?"


"seputar kecantikan, make-up, skincare, yah semacam itulah mas."


"tapi Eca emang beneran cantik banget mas. Dia sangat cocok dengan pekerjaan itu."


Gian menganggukkan kepala sekali lagi. Dia menerang apa saja kehidupan Eca yang sudah dia lewati selama beberapa tahun ini. Penampilan Eca sudah berbeda jauh dari yang dia ketahui waktu masih SMA. Dia tidak mengira bahwa Eca akan memilih jalan menjadi selebgram, dia pikir perempuan itu akan bekerja di kantor. Ternyata banyak banyak hal dilewati Gian, dia kesal tidak mengetahui banyak hal tentang perempuan itu.


"Sorry Dinda sepertinya aku mau kembali ke apartemen. Kalau kamu masih di sini atau pulang bareng?"


"pulang aja yuk mas. Aku tidak ada kegiatan lain juga."


"oke."


Dinda dan Gian keluar dari kafe. Di sepanjang perjalanan, Dinda asik bercerita. Namun Gian tidak terlalu memperhatikannya karena saat ini pikirannya sedang melayang pada Eca. Dia kembali teringat pada Eca yang hanya makan sedikit tadi. Gian segera membuka ponsel dan memesan kebab serta jus secara online.


Dinda dan Gian berpisah karna mereka hendak pergi ke unit masing-masing. Tidak lupa Dinda memberikan senyum perpisahan dengan lebar. Gian baru merasa lega saat Dinda sudah tidak berapa disekitarnya lagi. Dia masih belum terbiasa dengan orang baru.


Saat makanan pesanan Gian sampai, dia lalu mengetuk puntu unit Eca. Beberapa kali mengetuknya barulah Eca membuka pintu. Gadis itu mengernyit melihat kedatangan Gian di depan apartemennya.


"kenapa?"

__ADS_1


"kamu hanya makan sedikit tadi. Ini aku pesan makanan dan minuman."


"makasih tapi aku lagi kerja belum tentu sempat."


"tidak apa-apa kamu kerja aja." turur Gian membuka pintu Eca lebih lebar.


"eh kamu mau kemana?" ucap Eca menahan baju Gian dari belakang.


"kamu tidak lihat? Aku mau masuk."


"ngapain masuk? Keluar keluar!"


"udah kamu kerja aja aku tidak ganggu kok. Justru aku mau bantu kamu. Cepat tutup pintunya."


"kamu ngapain ke unit cewek malam-malam begini?!" tanya Eca memasang raut wajah tidak bersahabat.


"aku tidak bakal apa-apain kamu Ca. Udah ayo sini duduk." celetuk Gian menarik pergelangan tangan Eca dan menuntun untuk duduk di kursi sebelumnya.


"kamu lihat ini? aku lagi kerja."


"iya aku tau. Kamu lanjutkan aja mengeditnya."


"oke. Jangan ganggu aku dan keluar selesai aku makan."


"ck ancaman itu lagi."


"apa kamu bilang??"


"tidak tidak hehehe . . ."


Gian duduk di sebelah Eca. Dia membuka bungkus kebab. Tidak lupa dia menusukan pipet pada jus jeruk. Kemudian dia menyodorkan kebab di depan mulut Eca. Membuat gadis itu meliriknya dengan bingung.


"buka mulutnya Eca."


"kapan kamu beli ini?"


"tadi. Ayo buka mulutnya."


Gian menyuapi Eca sampai dua kebab habis. Sesekali dia menyodorkan jus supaya tidak seret. Lalu Gian membersihkan mulut Eca dengan tisu. Dia membersihkan bungkusan makanan dan meletakkannya ke tempat sampah.


Gian kembali lagi ke tempatnya, di sebelah Eca. Dia meletakkan kepalanya dia atas tangan yang terlipat dia atas meja. Dia menatap Eca yang sangat berkonsentrasi. Sesekali dahi gadis untuk mengernyit atau dia menggaruk kepala saat ada yang salah. Semua ekspresi wajah Eca membuat senyum Gian terukir tersebunyi dalam lipatan tangan.

__ADS_1


"cantik." lirih Gian pelan sebelum memejamkan mata.


____bersambung____


__ADS_2