RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 46


__ADS_3

Sore ini Eca memutuskan ke gym. Biasanya dia akan berolahraga di siang hari untuk menghindari Gian. Berhubung dia tidak perlu menghindari Gian lagi, dia kembali pada jadwal harian semula.


Eca sedang mengangkat beban sambil mendengarkan musik pada airpods. Suasana hatinya sedang baik sekarang. Dia semangat mengangkat barbel yang cukup berat. Keringat pun mulai membanjiri kaos yang dikenakan.


Pandangannya tidak sengaja bertubrukan dengan Dinda. Dia tersenyum pada Dinda yang melambaikan tangan. Setelah mengalihkan tatapan, senyum Eca langsung hilang. Entah mengapa sejak Gian memberikan makanan pada gadis itu, Eca menjadi sedikit enggan.


Eca juga semakin dingin ketika berbicara dengan Gian. Entah mengapa dia seperti itu, dia juga tidak paham dengan dirinya sendiri. Otaknya berusaha menganggap bahwa kejadian tersebut adalah hal biasa. Wajar jika ada tetangga yang memberikan makanan ke tetangga lain. Namun Eca tidak bisa memungkiri perasaannya sedikit tidak nyaman.


"balik lagi sore kamu olahraganya?" ucap Dinda berpindah di sebelah Eca sambil mengangkat barbel.


"iya." tutur Eca sambil tersenyum kecil.


"aku pindah ke treadmil dulu ya." sambung Eca segera berpindah.


"o-oke!" seru Dinda sambil mengernyitkan dahinya.


Eca mulai berlari dengan kecepatan pelan. Lama kelamaan kecepatannya bertambah. Keringat bercucuran dari dahi. Sesekali dia mengusap wajah dengan handuk kecil yang bertengger di leher. Wajahnya memerah dipenuhi keringat.


Eca menoleh ke samping saat merasakan seseorang berjalan di sebelahnya. Ternyata Dinda udah berpindah dan bersiap untuk lari. Sama seperti Eca, Dinda juga berlari dengan cukup kencang. Seakan tidak mau kalah, Eca menambah kecepatan, Dinda pun semakin menambah kecepatan untuk menyeimbangi Eca. Akhirnya mereka secara bersamaan menurun kecepataan saat dirasa tidak dapat menahan kelelahan. Mereka memilih untuk berlari santai saja.


"gila! Kamu hebat banget Ca. Aku udah hampir mau mati tadi demi menyeimbangkan kecepatan kamu."


Eca melepas satu airpondsnya. Dia menyimpan di dalam saku. Kemudian menoleh pada Dinda dan berkata, "kamu tidak perlu menyamakan kecepatanmu denganku. Lakukan saja semampumu."


"tapi aku penasaran apakah aku bisa mengikuti kecepatan olahraga seorang Eca hehehe . . ." cetus Dinda.


"kamu bisa kelelahan Dinda. Tidak perlu dipaksa. Kamu masih pemula juga, pelan-pelan saja dulu."

__ADS_1


"hehehe. . . siap! Jujur aku tidak sabar ingin punya badan kayak kamu Eca. Badan kamu benar-benar impian aku!" kata Dinda menatap badan Eca dengan mata berbinar.


Eca tersenyum hangat pada Dinda. Dia menurunkan kembali kecepatan menjadi jalan santai. Dia menoleh dan berkata, "kamu pasti bisa asal konsisten. Tidak perlu terburu-buru. Semua butuh waktu. Semangat ya!"


"makasih Eca! Kamu sungguh panutanku!"


Dinda ikut menurunkan kecepatan. Dia menyelaraskan kecepatan dengan Eca. Supaya mereka bisa berbicara lebih nyaman.


"oh ya Ca, mas Gian itu udah punya pacar belum?"


"mana aku tau. Emang kenapa?" tanya Eca penasaran.


"hehehe. . . Tidak apa-apa" tutur Dinda tersenyum malu-malu sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.


Melihat tingkah laku Dinda yang berbeda membuat Eca menatap Dinda curiga. Dia menekan tombol off pada treadmil. Dia menoleh pada Dinda yang masih tersenyum.


"mu-mungkin."


"aku iri sama kamu. Andaikan unitku ada di sebelah unitnya, pasti kami udah sering bericara." ungkap Dinda sambil menekan tombol off.


Dinda turun dari treadmil. Dia menatap ke depan pada dinding kaca yang menampakkan pemandangan jalanan yang cukup padat. Dia tersenyum kecut.


"kamu mau kita tukaran unit?" tanya Dinda sambil menatap Eca dengan penuh harap.


"eh?"


"hahaha. . . Aku bercanda. Muka kamu tegang banget."

__ADS_1


"kamu suka sama Gian?" tanya Eca hati-hati.


"aku tidak tau. Tapi Gian adalah tipe aku banget. Udah ganteng, tinggi, badannya bagus lagi. Siapa sih perempuan yang tidak terpesona?" kata Dinda dengan tersenyum lebar.


Eca terkejut melihat reaksi Dinda. Eca seratus persen yakin, ekspresi itu adalah pertanda jatuh cinta. Eca sedikit terganggu melihat senyum berbinar Dinda yang entah sedang membayangkan apa hingga dia masih tersenyum. Kalau bisa diibaratkan seperti ada kupu-kupu yang menari mengelilingi perempuan itu sangking bahagianya dia.


"aku punya misi untuk memastikan perasaan aku sama Gian! Kamu maukan bantu aku?"


"e-eh? A-aku."


"aku mohon, please. . ." ucap Dinda dengan memelas, dia sampai melipat tangan di depan dada.


Eca menjadi serba salah. Jelas saja dia tidak mau membantu Dinda. Itu ide yang konyol. Namun dia tidak enak menolak Dinda yang sudah memohon dengan penuh harap padanya. Diposisi ini Eca jadi serba salah.


"kamu tidak kasihan sama aku yang sudah lama menjomblo Ca? Hitung-hitung kamu dapat pahala bantu anak yatim."


"astaga Dinda jangan berkata begitu! Baiklah, aku akan bantu tapi semampuku saja. Setelah itu aku tidak mau ikut campur lagi."


"makasih Eca, kamu adalah malaikat penolongku!" tutur Dinda sembari memegang tangan Eca dengan mata berkaca-kaca.


"kalau begitu, ayo kita ajak mas Gian makan bersama malam ini!!"


"apa?!!"


Dinda tidak menghiraukan keterkejutan Eca. Dia langsung menyeret gadis itu keluar dari ruangan gym. Dinda tidak sabar menanti makan malam yang menyenangkan bersama Gian. Membayang hal tersebut membuat senyum lebar terukir diwajahnya.


____bersambung____

__ADS_1


__ADS_2