RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 7


__ADS_3

Kali ini Eca berangkat les cukup semangat karna kemarin malam, dia sudah menyusun roster. Tumben-tumbenan kemarin dia mencari materi yang akan dibahas hari ini di les. Dia sudah membaca secara garis besar. Eca tidak mau hanya planga-plongo selama les seperti hari pertamanya disana. Dia trauma. Apalagi kalau Cio sampai meledeknya bisa malu lagi dia. Terutama dia tidak mau dianggap remeh oleh Gian. Penghinaan Gian kemarin sangat membekas diingatan Eca. Mulai hari ini Eca menyatakan perang dengan Gian. Dia tidak mau terlihat bodoh di depan pria itu. Meskipun dia tidak tidak pintar tapi dia tidak bodoh juga pikirnya.


"ma, aku berangkat les ya."


Tidak ada jawaban dari mama padahal dia yakin yang duduk di sofa ruang tamu saat ini adalah mamanya. Wanita itu terlihat menatap handphonenya lama. Dia tampak serius dan sesekali mengernyitkan dahinya.


"ma! Aku mau berangkat"


"ah iya. Hati-hati dijalan" jawab mamanya yang terkejut.


Aneh, mama-nya tidak seperti biasanya. Apa ada gosip baru yang muncul di handphone? Biasanya sang mama akan sangat serius ketika ada gosip yang sedang hangat di sosial media. Mau bagaimana lagi, jiwa kepo-nya udah melebihi rata-rata. Tapi kali ini terlihat raut mama agak syok. Eca penasaran sebenarnya, tapi dia juga harus berangkat les sebelum ditinggal bis.


Sesampainya di dalam kelas, sudah ada Yuyu di kursi sambil melambai pada Eca. Dia tersenyum dengan lebar. Eca menjadi semangat untuk sampai di kursinya.


"akhirnya kamu datang Ca. Aku kesepian tau."


"hehehe . . . Ini aku udah datang kok. Tapi kamu selalu datang cepat ya?"


"mau bagaimana lagi kakak aku itu orangnya tepat waktu jadinya berangkat ke les aku disuruh datang lebih awal. Kalau tidak dia gak akan antar aku les."


"oho gitu. Bagus dong kamu jadi gak harus buru-buru."


"iya sih. Tapi sepi juga kalau datang terlalu awal."


"kamu hanya perlu menunggu sebentar kok" kata Eca sambil menunjukkan jari jempol dan telunjuk dengan jarak yang dekat.


"iya sih. Oh iya tadi Cio datang cari kamu. Tapi gak tau kemana anak itu sekarang."


"hello everybody. Hello Eca bab-ikkkkk" seru Cio sambil memainkan nada pada suku kata terakhir.


"nah panjang umur. Dia langsung nongol." kata Yuyu.


Saat Cio hendak melewati kursi Eca. Langsung saja Eca mengambil kesempatan untuk memukul bagian samping tubuh Cio. Dia juga tidak menghiraukan rengekan Cio yang mengadu kesakitan.


"selamat sore anak-anak!" seru guru dari depan.


"selamat sore Miss!"


Tok tok tokk . . .


"maaf Miss, saya terlambat."

__ADS_1


"silahkan duduk Gian"


"terimakasih Miss."


"Baik anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang Asas Black. Ada yang tau bagaimana proses Asas Black berlaku?"


Sebagian murid menunjukkan tangannya ke atas. Termasuk Yuyu, Eca, Cio dan Gian. Guru mengedarkan pandangannya. Memilih murid yang ingin dia berikan kesempatan untuk mengungkapkan jawabannya.


"baik, anak baru silahkan berikan pendapatmu." kata guru sambil menunjuk ke arah Eca.


Otomatis semua pandangan mengarah kepada Eca. Tiba-tiba saja Eca terserang ketakutan. Dia tidak biasa mendapatkan perhatian seperti ini. Bahkan di kelasnya sekalipun Eca tidak pernah mau memberikan jawabannya sekalipun ada yang dia tau. Dia terlalu malu. Tapi entah mengapa kali ini dia ikutan mengangkat tangan. Kalau tau begini, lebih baik dia tidak mengangkat tangan. Lalu dia melirik Yuyu disebelah yang dari tadi memberikan kode padanya.


"tidak apa-apa. Katakan saja." bisik Yuyu.


"eee . . . As-asas black berlaku ketika proses pencampuran es dengan air." jawab Eca gugup.


"air apa?"


"eeeee . . ."


Tiba-tiba Eca blank. Dia tidak bisa menjawab lagi. Seketika materi yang dia baca tadi hilang. Seakan terganti dengan kegugupannya yang luar biasa. Tangannya sudah dingin dan keringat menghinggapi dahinya.


Eca sedikit bersyukur karna Miss Tika mau mengapresiasi dirinya. Sekarang dia tersenyum kecut kearah Yuyu. Seakan mengadu akan suasana yang dihadapinya. Yuyu tersenyum dengan lebar.


"kerja bagus Eca!"


"makasih. Tapi aku gugup banget tadi karna dilihatin banyak orang jadinya aku lupa selanjutnya."


"gak apa-apa. Kamu sudah lebih berani."


"Eca babi yang ku kenal biasanya pemberani. Bahkan nyolot." bisik Cio dari belakang.


Eca menoleh kebelakang dan mengarahkan kepalan tangannya pada Cio. Saat hendak berbalik lagi, dilihatnya Gian yang tidak meliriknya sekali pun. Dia fokus melihat ke depan dan mendengar penjelasan Miss Tika.


"baik, ada yang tau rumus Asas Black?"


"saya Miss."


"baik Cio, silahkan."


"sigma Qlepas sama dengan sigma Qditerima."

__ADS_1


"ya betul! Bagus Cio!"


Eca melirik Cio dengan takjub. Kalau teman-taman di kelas melihat dia sekarang, sudah pasti mereka terkejut. Karna Cio di kelas adalah orang yang abai dengan mata pelajaran. Sebelas dua belas dengan Eca di dalam kelas. Benar-benar tidak terduga.


"sekarang Miss kasih soal. Jika 0,5 kg balok es (suhu -20 derajat C) dicampur dengan 1 kg air hangat (suhu 80 derajat C). Jika kalor jenis air \= 1 kal/gr derajat C, kalor jenis es \= 0,5 kal/gr derajat C dan kalor lebur es \= 80 kal/gr, maka campuran air tersebut itu akan seimbang (air semua) pada suhu? Oke, silahkan hitung, kalau sudah selesai silahkan unjuk tangan."


"baik Miss."


Nah pada bagian ini, Eca benar-benar tidak tau. Mau pake rumus apa. Dan apa penjabaran rumusnya. Dia sangat bingung. Dilihatnya Yuyu yang mulai menuliskan rumus.


"Yu, kita pake rumus apa ya?"


"sigma Q lepas sama dengan sigma Q diserap."


"emmm tapi aku gak tau apa sigma Q lepas hehhehe. . ." Eca tertawa canggung.


"gak apa-apa. Jadi, setelah menulis rumus ini, kamu lanjut tulis. Qa \=Q1+ Q2 +Q3. Lalu m air kali C air dikali (80-T) \= m es . .."


"siap Miss." seru Gian dari arah belakang.


Penjelasan Yuyu pun terpotong. Gian sudah selesai padahal Yuyu masih menjelaskan rumus pada Eca. Yang lain pun masih menghitung. Belum sampai 2 menit sejak Miss Tika memberikan soalnya.


"oke, Gian. Silahkan"


"jawabannya 23,3 derajat Celcius."


"ya betul! Berikan tepuk tangan untuk Gian."


Semua orang bertepuk tangan. Eca menatap Gian dengan kagum pada kecepatannya mengerjakan soal. Bahkan jawabannya benar. Sekarang Eca merasa jaraknya sangat jauh dengan Gian. Jarak kemampuan mereka bagaikan jarak dari sabang sampai merauke ada berkilo-kilo meter. Oke, Eca mulai berpikir lebay.


"Gian memang pintar sih" bisik Yuyu dari samping.


"iya. Dia terkenal anak ambis di sekolahku."


"dia hanya terlalu rajin belajar."


"ya. Aku mengakui. Aku sering mendapati dia belajar."


Eca menghela nafas pelan. Kalau melawan Gian. Otomatis dia kalah. Perbandingan berpikir mereka sangat jauh. Jika Gian sudah melangkah 20 kali maka Eca baru melangkah 1 kali. Eca tersenyum kecut memikirkannya.


***

__ADS_1


__ADS_2