
Hari ini telah berakhir ujian akhir jenjang. Eca bisa menjawab soal ujian namun terdapat lima soal yang sangat rumit menurutnya. Kelima soal itu menguras banyak waktu untuk mengerjakan. Untung saja Eca sudah lebih dulu mengerjakan soal yang lebih mudah. Dia menjawab asal kelima soal tadi. Dia tidak yakin dengan jawabannya tapi samar-samar dia seperti tau jawabannya. Keyakinan yang setengah-setengah itu membuat Eca galau saat ujian tadi.
Seleksi masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) jalur nilai rapor telah selesai sekitar tiga hari yang lalu. Nama Eca tidak termasuk dalam daftar siswa yang lewat jalur nilai rapor berdasarkan pengumuman dari pihak Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Budaya). Eca iri dengan teman-teman seangkatannya yang belajar sungguh-sungguh selama SMA dan mempersiapkan diri dengan matang untuk masuk perguruan tinggi karna rata-rata diantara mereka lewat masuk PTN jalur nilai rapor. Mereka tidak perlu tes lagi untuk masuk perguruan tinggi.
Sedangkan Eca sudah menebak kalau tidak akan lewat. Dan benar saja, dia tidak lewat seleksi masuk PTN jalur nilai rapor. Selama kelas 10 dan kelas 11, Eca tidak pernah sungguh-sungguh belajar. Syukur kalau nilainya lewat KKM (Kumulatif Ketuntasan Minimum) di rapor. Dulu dia asik santai dan pacaran dengan pujaan hati. Dia juga tidak memiliki sertifikat akademik. Nilai aja pas-pasan apalagi ikut lomba akademik. Dia juga tidak memiliki sertifikat kegiatan atau organisasi di sekolah atau di luar sekolah. Eca sangat mager mengikuti serangkaian kegiatan dan organisasi. Hanya nilai lewat KKM dan sang kekasih membuat Eca semangat pergi ke sekolah, selebihnya dia tidak peduli lagi.
Sekarang Eca sangat menyesali waktu yang dia buang dengan percuma. Coba saja kalau dia belajar dengan benar sejak kelas 10. Andaikan dia mengikuti kegiatan atau organisasi sekolah dulu. Pasti setidaknya Eca memiliki kemungkinan untuk menang masuk PTN jalur nilai rapor. Dia tidak perlu ekstra belajar di akhir-akhir sampai pernah jatuh sakit. Andai saja dia menang PTN jalur nilai rapor dia tidak perlu melakukan seleksi bersama masuk PTN. Yang mengharuskan dia bersaing dengan siswa-siswa seluruh Indonesia. Satu jurusan saja bisa diperebutkan oleh 1.000 sampai 5.000 peserta sedangkan yang diterima rata-rata kurang dari 300 bahkan ada yang kurang dari 100.
Eca membuat strategi untuk masuk PTN. Dia akan memilih universitas yang sepi peminat. Tapi dia juga mau masuk universitas top tanah air. Namun saingan di universitas top sangat banyak. Sedangkan Eca juga khawatir jika peluang kerja tamatan universitas biasa sangat jarang. Tapi biasanya peminat universitas biasa sepi peminat dibandingkan universitas top.
Saat ini, Eca sangat galau untuk memilih universitas yang akan dia pilih saat seleksi bersama yang diadakan empat bulan lagi. Dia perlu seseorang yang mampu mengeluarkan dia dari pemikiran buntunya sekarang. Sambil membawa kertas berisi nama jurusan dan universitas beserta kekurangan dan kelebihan dan tidak lupa jumlah peminatnya tahun lalu, Eca berjalan menuju kelas Gian. Dia ingin mendiskusikan hal tersebut dengan pria itu. Dia yakin Gian mampu memberikan saran terbaik untuknya.
Eca menunggu disamping kelas Gian. Dia memperhatikan satu per satu siswa yang keluar dari kelas Gian. Tapi tidak ada tanda-tanda Gian akan keluar. Tepat saat Eca melonggokkan kepalanya di depan pintu terdapat sosok yang berdiri menghalangi pandangan Eca.
"ngapain?" tanya perempuan itu dengan ketus.
"ada Gian? Aku mau bicara sama dia."
"dia lagi sibuk." kata Rani hendak menutup pintu tapi Eca menahannya.
"bisa panggil dia sebentar? Ada yang mau aku bicarakan dengannya."
"dia sibuk!" jawab Rani menatap Eca dengan jengkel.
"sebentar aja. Coba tanya dia dulu." ucap Eca sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Rani memutar matanya dan berkata, "bentar!". Perempuan itu masuk lagi dan menutup pintu dengan kencang. Tepat di depan wajah Eca.
"sialan! Kalau bukan karna aku minta tolong udah kujambak rambutnya!" dumel Eca.
Tidak lama, Rani membuka pintu lagi. Suara deritan pintu yang terbuka membuat pandangan Eca teralihkan pada perempuan yang sedang bediri di depannya. Menatap Eca dengan senyum miring diwajah.
"dia tidak mau diganggu."
"kamu udah bilang kalau aku yang mau bicara? Ini Eca yang mau bicara?"
"ck! Emang kamu siapa sampai dia harus ba-nget temui kamu?"
"a-aku."
"pergi sana! Dia lagi sibuk. Tidak mau diganggu!" seru Rani setelahnya menatap sekilas Eca dari bawah sampai atas lalu mendengus kesal.
Rani menutup pintu tepat di wajah Eca sekali lagi. Eca mengepalkan tangannya dan mengangkat ke udara membayangkan menonjok muka Rani yang sangat menyebalkan tadi. Dia kesal bukan main dengan cara bicara Rani yang sangat angkuh. Dia juga kesal dengan Gian yang tiba-tiba tidak boleh diganggu.
__ADS_1
"dasar perempuan gila! Tidak ada otak! mau ku acak-acak rambutnya!! Gian juga sombong! Gak bisa diganggu!" dumel Eca disepanjang jalan.
Belum sepenuhnya Eca melewati pagar sekolah, ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Mungkin saja itu seseorang yang ditunggunya dari tadi. Eca berhenti dan menoleh ke belakang. Dia melihat pria itu sedang menunduk dan ngos-ngosan karna mengejarnya.
"C-ca . . ."
Ternyata dia salah. Bukan dia yang sedang di tunggu Eca. Mungkin Eca terlalu banyak berharap kali ini. Dia menatap pria itu sampai selesai mengatur nafas dan bicara dengannya.
"bisa kita bicara di depan sana Ca?"
"kenapa?"
"ada yang mau aku bilang. Bentar aja kok. Mau ya?"
"yaudah."
Mereka melangkah kearah toko yang ada di depan sekolah. Disamping toko itu terdapat pohon yang dibawahnya di buat bangku panjang dari kayu. Bangku itu bisa diduduki oleh lima orang dewasa dengan ukuran badan sedang. Eca duduk dibangku, memberi jarak dengan duduk Nehan.
"apa kabar Ca?"
"kalau kamu hanya mau tanya itu aku pergi." ucap Eca sambil berdiri.
"tunggu dulu, please." kata Nehan sambil memegang lengan Eca.
"a-aku butuh bantuan kamu."
"apa??"
"ha-hanya kamu harapan terakhirku saat ini." kata Nehan pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"iya, apa?! Berhenti basa-basi!" seru Eca jengkel.
Nehan diam sejenak. Memikirkan kalimat yang tepat untuk dikatakan dengan Eca. Dia tidak mau Eca marah lagi. Dia sedikit asing dengan sikap Eca yang acuh padanya saat ini. Sebelumnya Eca tidak pernah membentaknya. Eca adalah satu-satunya mantan Nehan paling sabar sejauh ini.
"a-aku mau pinjam uang Ca." ucap Nehan sangat pelan. Hingga hanya samar-samar suaranya terdengar.
"apa yang kamu bilang?"
Nehan menarik rambutnya sebentar. Sebenarnya dia tidak sanggup mengatakannya. Dia sangat malu harus berhadapan mantan dengan alasan meminjam uang. Tapi apa boleh buat, tinggal Eca harapannya. Dia sudah usahakan dengan yang lain tapi tidak berhasil.
"aku mau pinjam uang kamu"
"ha?? Buat apa?" tanya Eca menaikan alisnya tinggi sambil menatap Nehan dengan tidak percaya.
__ADS_1
"aku lagi butuh banget Ca. Aku punya utang sama beberapa orang tapi aku tidak bisa bayar. Mereka udah mencari-cari aku selama tiga hari ini."
"kenapa kamu tidak minta sama orangtua kamu?"
Bukan apa-apa, tapi Eca tau kalau Nehan berasal dari keluarga yang mapan. Apa yang diinginkan oleh pria itu bisa terkabul. Orangtuanya sangat memanjakan Nehan. Bahkan pria itu dengan terang-terangan pernah menyombongkan bapaknya yang kaya pada Eca. Tapi sekarang dia meminjam uang pada Eca? Jelas saja Eca tidak percaya. Dia takut kalau ini hanya bual-bualan Nehan.
"papa aku tidak memberi uang lagi karna aku ketahuan menjual mobilku."
"astaga! Kenapa kamu sampai jual mobil? Buat apa??"
"aku pakai untuk main slot" jawab Nehan lemah.
"apa?!! Kan sudah aku bilang berhenti main slot Nehan!! Kamu bodoh apa?!"
Nehan menaikkan alisnya. Maksud kalimat Eca seperti mengandung arti lain. Apa dia salah menanggapi?
"maksud aku, kenapa kamu main slot?? Itukan judi!" tambah Eca meluruskan perkataannya.
"ya gimana? Udah terlanjur Ca."
Eca berdecak kesal. Sangat gampang bagi Nehan mengucapkan terlanjur. Tidak taukah dia kalau slot itu judi yang sudah diatur oleh programmer. Dia tidak menyangka kalau Nehan masih lanjut bermain slot. Dia kira pria itu sudah berhenti sejak lama.
"aku kira kamu udah berhenti saat itu." kata Eca pelan.
"aku menyesal Ca. Apalagi aku ditagih-tagih rentenir."
"rentenir??!!" seru Eca sambil membelalakkan matanya.
"makanya aku pinjam uang kamu Ca. Tolong bantu aku Ca. Aku udah capek lari-lari dari rentenir sialan itu."
"kamu memang bodoh."
"iya, aku mengakui"
Eca mulai menimbang-nimbang, apakah dia meminjamkan uang pada Nehan atau tidak. Jujur dia ragu. Tapi dia kasihan melihat Nehan yang sudah putus asa apalagi sampai dikejar-kejar rentenir. Ini bukan karna mereka pernah pacaran tapi secara manusiawi dia kasihan pada Nehan tapi dia juga jengkel dengan sifat pria itu.
"aku cuma punya uang 300 ribu disini. Kamu pake dulu." sambil menyerahkan uang yang dia ambil dari dalam dompet.
Nehan menoleh ke arah Eca dan memeluknya erat. Dia sangat lega setidaknya Eca mau membantunya meskipun nominalnya sangat kecil dari yang dia harapkan. Tapi dia bersyukur masih dipinjamkan. Dia akan mencoba mencari cara lain untuk membayar para rentenir itu nanti.
Sedangkan di seberang jalan, terdapat Gian yang menyaksikan adegan pelukan Eca dan Nehan dari jendela mobil. Pandangan mata Gian merosot. Dia mengepalkan tangan dan melempar pandangan ke depan.
"jalan pak." ucapnya pada sopir.
__ADS_1
***