RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 40


__ADS_3

Suasana hening tercipta di ruang tamu apartemen Erna. Ada mama yang sedang duduk sambil memegang buku dengan kuat, Erna menatap Eca dengan serius mengabaikan laptop yang ada di depannnya dan Eca yang sedang memberi jeda pada pembicaraannya. Eca sudah menduga pembicaraan mereka malam ini akan menjadi hal paling serius setelah beberapa bulan berlalu.


"kamu bilang apa??" tanya Erna kembali memastikan pendengarannya.


"aku ketemu papa tadi. Dia positif HIV" tutur Eca lemah.


"aku tidak peduli Eca! Dia mendapat hasil dari perbuatannya!" cetus Erna dengan meledak-ledak. Kedua bahunya naik turun.


"tapi dia tetap papa kita kak!"


"kalau dia kena HIV, apa itu salah kita?! Dia harusnya tau perbuatannya akan menyebabkan resiko besar."


"papa sakit kak. Dia sa-sangat kurus. Aku tidak tega melihat kondisi papa."


Eca menahan sekuat tenaga emosi yang akan keluar diujung lidahnya. Matanya berkaca-kaca dengan tangan terkepal. Dia menatap Erna dengan lekat berharap sang kakak mengerti dengan keinginan Eca.


"biarkan Tia atau siapalah itu yang menjaganya. Papa harusnya mengadu nasib dengan mereka bukan dengan kita. Dia harus tau kalau apa yang dia perbuat dikeluarga kita sangat fatal! Tidak semudah itu untuk bertemu dan saling tegur lagi!"


"dia tetap papa kita kak. Apa kakak tidak kasihan dengan keadaan papa? Coba lihat papa dulu baru kakak bisa menentukan sikap." celetuk Eca putus asa membujuk Erna.


"kalau kamu mau rawat papa, rawat sendiri!" ucap Erna final.


"kak!"


"kalau kalian ingin merawat papa kalian, silahkan. Mama sudah tidak punya urusan dengannya lagi." cetus mama sebelum memilih beranjak dari sofa.


"ma," lirih Eca menatap punggung mama yang kemudian menghilang ke dalam kamar.


"pembicaraan kita selesai. Kamu kembali ke kamar dan belajar. Besok kamu masih ada kelas." kata Erna mengalihkan pandangan pada laptop dihadapannya.


"kak kumohon, kita sama-sama rawat papa ya?"

__ADS_1


"kamu tidak dengar dengan perkataan kakak tadi? Kakak rasa telingamu masih berfungsi dengan baik."


Eca menghela nafas dalam. Dia menatap Erna dengan pasrah. Memang tidak mudah membujuk anak sulung dalam keluarga mereka itu. Jika papa sosok yang suka bermain maka kakak adalah lawan yang seimbang untuk sang papa.


Keesokan harinya, Eca kembali mendatangi rumah papa. Dia tidak melihat keberadaan Tia dalam rumah tersebut. Langsung saja dia ke kamar papa sambil menenteng bubur yang sudah dibeli ketika kelasnya selesai.


"makan dulu pa."


"kapan sampainya sayang?"


"barusan. Papa bisa duduk? Eca mau suap papa."


Dibantu Eca, papa duduk bersadar pada kepala kasur. Dia tersenyum setiap Eca menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Namun tidak bisa bertahan lama karna papa tidak kuat menampung makanan lebih banyak. Dia juga tidak kuat duduk dalam keadaan lama karna benjolan yang ada di paha sebelah kiri ikut terhimpit. Setelah makan papa segera berbaring kearah kanan menghadap Eca. Tangannya tergerak mengusap surai sang anak.


"kamu makin kurus ya Ca."


"harusnya papa bilang itu pada diri sendiri."


"astaga papa! Aku tidak sekurus itu. Badan aku sehat papa! Badan aku berisi."


"tapi dibanding yang dulu kamu lebih kurus."


"yaiyalah pa. Dulukan tidak sehat. Sekarang pola hidup dan makan aku jauh lebih sehat. Jadi papa tidak usah khawatir. Yang papa khawatirkan itu, papa sendiri. Lebih baik uang ini dipakai untuk berobat papa." celetuk Eca mengembalikan atm papa.


"tidak, kamu ambil saja. Seluruh harta papa memang untuk kalian. Papa cari uang juga demi kalian. Jadi kamu ambil saja. Cepat simpan sebelum Tia melihat."


Akhirnya Eca menerima atm dengan pasrah. Dia takut menolak tangan papanya yang terlalu kurus. Salah salah Eca bisa melukai pria di depannya.


"kata sandinya tanggal lahir mama." lirih papa membuang tatapan ke arah lain.


Eca menatap papa dengan sendu. Meskipun berpisah Eca yakin kalau papa masih mencintai mama. Bahkan jika tidak sadar diri, mungkin papa akan menolak bercerai dengan mama. Terkadang Eca merasa kasihan dengan papa yang masih sulit lepas dari bayang-bayang mama. Papa bahkan masih menggunakan kalung pemberian mama saat ulang tahun papa yang ke 50 tahun.

__ADS_1


"papa masih menyukai mama ternyata."


"selamanya. Penyesalan terbesar papa adalah melukai hati istri papa."


Eca melihat papa yang mengepalkan tangan kuat. Tidak lama, dia mengusap matanya yang berair dengan tangan bergetar. Eca sangat jarang melihat papa menangis tapi sekali Eca melihatnya dia akan takjub. Eca menebak papa sedang membayangkan waktu kebersamaan papa dan mama ketika pria itu menatap kosong ke atas. Cukup lama papa melamun. Entah memikirkan mama atau yang lain.


"andaikan papa tidak melakukan kesalahan fatal, pasti mama dan papa masih bersama. Kita juga masih bersama. Dasar Bodoh! bodoh!!" tutur papa sambil memukul kepalanya dengan kuat.


Eca menahan tangan papa dan memeluknya dengan erat. Dia mengusap punggung papa dan membisikkan kalimat penenang. Bagaimanapun Eca tidak tega melihat papa yang melukai diri sendiri dalam keadaan sedang sakit. Eca juga merasa sedih yang luar biasa. Dia mengiyakan kebodohan papa dalam hati. Kalau bukan papa bodoh karna selingkuh pasti keluarga mereka tidak hancur. Eca memang sangat membenci papa tapi disisi lain dia sangat mencintai pria dalam pelukannya.


"Eca, ada yang mau papa bilang."


"apa pa?" Eca melepaskan pelukannya.


"ini berkas pemindahan harta papa atas nama kamu, Erna dan mama. Simpan ini baik-baik. Papa tidak mau hasil jerih payah papa selama ini direbut semua oleh Tia. Dia bisa saja memanipulasi wasiat dengan memanfaatkan keadaan papa. Sebenarnya papa tetap memberikan dia sebagian kecil sebagai bentuk tanggungjawab perbuatan papa kepadanya. Kamu tidak marah kan?"


"baiklah."


"pa- uhuk!"


Pembicaraan papa terputus saat dia terbatuk. Ditangannya terkumpul darah yang keluar dari dalam mulut. Eca panik dan membersihkan darah yang keluar dengan tangan bergetar. Dia takut dengan kondisi papa yang sedang batuk darah apalagi darah yang keluar tidak kunjung berhenti.


"pa . . . Kenapa darahnya tetap keluar?" tanya Eca mulai terisak.


"kita ke rumah sakit ya?"


Papa sudah tidak sanggup menjawab karna dia langsung pingsan. Dengup jantung Eca semakin kuat berdenyut. Dia panik dan tidak tau harus melakukan apa. Berulang kali dia memanggil papa tapi tidak kunjung dijawab. Dia mencoba menenangkan diri dengan mengambil nafas dan mengeluarkannya dengan dalam. Barulah dia berpikir jernih dan memesan mobil melalui aplikasi dalam ponsel.


Disepanjang perjalanan Eca terus berdoa sambil memegang papa. Ketakukan dan kepanikan yang luar biasa bercampur jadi satu. Perasaannya semakin tidak karuan saat tidak sengaja memegang perut papa yang ada benjolan. Tangannya langsung terlepas. Dia tidak berani membuka baju papa untuk melihat benjolan tersebut. Dia takut perasaannya semakin kacau jika melihatnya.


____bersambung____

__ADS_1


__ADS_2