
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Tapi Eca tidak bisa langsung pulang. Saat istirahat pertama Nehan memintanya untuk menunggu dia pulang. Ada hal yang ingin dikatakan oleh Nehan.
Sudah lima belas menit sejak bel pulang sekolah tapi Nehan tidak kunjung datang. Eca menunggu di dalam kelas, dia malas menunggu pria itu di luar. Biar saja Nehan yang ke kelasnya. Sesekali pria itu perlu mendatanginya jangan Eca terus yang ke kelasnya.
"sorry Ca lama."
"iya" balas Eca pelan saat melihat ada perempuan yang berdiri di sebelah Nehan.
"Masuk Tia. Kamu tunggu sebentar ya. Ada yang mau aku omongin sama Eca." ucap Nehan sambil menatap Tia.
"kenapa?" ucap Eca dengan nada tidak bersahabat. Kehadiran Tia membuat dia kesal.
"kamu mau keluar nanti sore sama aku? Kita udah lama gak kencan."
"hm." Eca melempar pandangan kearah jendela di sebelahnya.
"maksudnya Ca?"
"kayaknya aku gak bisa."
"kenapa?"
"aku les."
"oh gitu." kata Nehan dengan sendu.
"besok bisa?" kata Nehan lagi mulai semangat.
"gak bisa juga. Aku les."
"bukannya besok kamu kosong?"
"les aku udah nambah."
Nehan menghembuskan nafas pelan. Dia tidak tau lagi bagaimana caranya untuk mengajak Eca keluar. Dia perlu pergi berdua supaya dia bisa mencairkan hubungan mereka yang mendingin akhir-akhir ini. Bukannya Nehan tidak peka dengan perubahan Eca yang mulai mengabaikannya. Chat dan telfon diabaikan, ketemuan di sekolah, Eca sering menghilang terkesan menghindari.
"kamu susah banget ya Ca diajak ngomong akhir-akhir ini." ucap Nehan dengan suara pelan.
"aku sibuk."
Hening tercipta. Nehan tidak membalas perkataan Eca lebih tepatnya tidak bisa membalas. Eca masih tidak memandang Nehan sedangkan pria itu menatapnya dengan sendu. Tia yang mengambil duduk cukup jauh dari mereka menonton dengan santai. Dia memperhatikan interaksi keduanya.
"bagaimana kalau besok kamu nunggu aku pulang sekolah, aku mau kasih kamu hadiah. Besokkan universary kita. Aku rencana mau ajak kamu jalan maunya sore ini tapi gak apa-apa aku bisa ganti pakai hadiah. Nanti aku beli bareng Tia." jelas Nehan dengan semangat.
"kenapa harus sama dia?" ucap Eca sambil menatap Tia lurus.
"dia bantu aku pilih kadonya. Kalian sama-sama perempuankan? Jadi lebih mudah buat pilih yang cocok buat kamu."
"aku gak mau." ucap Eca masih menatap Tia. Saat ini mereka saling bertatapan.
__ADS_1
"ta-tapi Ca." kata Nehan merasa tidak enak hati.
"aku bilang aku tidak mau."
"dia teman aku Ca."
"oh teman."
"iya teman."
"teman apa teman?" kali ini Eca menatap Nehan dengan tajam.
"i-iya cu-cuma teman."
"gak usah gagap begitu Nehan hahaha . . .kamu seperti ketahuan selingkuh saja."
"e. . . Mana ada." kata Nehan gugup. Tiba-tiba sekujur tubuhnya menegang. Jari-jarinya pun dingin.
"hei, kamu temannya Nehan?" tanya Eca pada Tia.
"iya." jawab Tia dengan berani. Sekali pun dia tidak takut dengan provokasi Eca.
"hanya teman?" Eca makin semangat memprovokasi kalau lawannya kuat.
"menurut kamu?" tanya Tia mulai menantang.
"Ca!" bentak Nehan tanpa sadar.
Eca menatap Nehan sedih. Ternyata Nehan lebih memilih 'temannya'. Nehan yang menyadari raut wajah Eca sedih, merasa bersalah. Dia salah karna membentak Eca. Seketika dia menyesali tindakannya barusan.
"gak usah kasih hadiah! Aku gak butuh!" bentak Eca sambil berdiri.
"maaf Ca. Maaf udah bentak kamu. Aku gak sengaja tadi." Nehan menahan tangan Eca.
Eca tidak menjawab. Tidak kunjung juga melepas tangan Nehan dari pergelangan tangannya. Dia ingin menampakkan pada Tia kalau Nehan masih mencintainya. Pria itu masih tergila-gila padanya. Dia ingin Tia cemburu. Karna dia tau bahwa sebenarnya perempuan itu menyimpan perasaan pada kekasihnya.
"gak apa-apa sayang. Jangan diulangi lagi ya." ucap Eca sambil mengelus pipi sebelah kanan Nehan.
Bisa Eca lihat dari sudut matanya, Tia mulai menahan kesal. Eca semakin tersenyum dan menepuk pelan pipi Nehan. Sang kekasih yang mendapat perlakuan seperti itu menjadi kegirangan. Dia senang karna mengira Eca tidak marah lagi. Nehan bahkan menahan tangan Eca di pipinya.
"aku pulang dulu ya."
"ayo barengan." kata Nehan mengandeng tangan Eca keluar kelas di susul oleh Tia di belakang.
Sepanjang berjalan menuju tempat pemberhentian bis, Nehan tidak melepas tautan tangan mereka. Sesekali dia mengayunkannya karna sangat bahagia. Dia bahkan senyum-senyum tidak jelas sambil sesekali mencuri pandang pada Eca. Sedangkan Eca menahan jijik saat berpegangan tangan dengan Nehan. Dia selalu dihantui bayangan Tia dan Nehan ciuman tapi Eca harus menahannya. Dia tidak akan membiarkan Tia menang. Karna dialah yang harus menang.
"oke bye, Ca. Hati- hati dijalan ya."
"iya."
__ADS_1
"jangan lupa balas chat aku kalau sempat!" seru Nehan melihat Eca mulai naik ke dalam bis.
Eca duduk disamping kaca. Dilihatnya dua orang dengan raut wajah yang sangat bertolak belakang. Si pria dengan senyum sumringah sambil melambai ke arah Eca. Sedangkan si perempuan memasang raut kesal. Eca hanya tertawa pelan. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran dua manusia itu.
Eca merasa tidak ada lagi perasaan sejatuh-jatuhnya pada Nehan, yang ada hanya perasaan jijik. Dia tidak lagi galau dengan kisah cinta mereka. Sejak dia menangisi kedua orang itu, saat itu juga perasaannya luruh seiring dengan jatuhnya air mata.
Sibuk belajar membuat perhatiannya teralihkan. Ternyata perintah sang mama untuk menambah waktu lesnya adalah pilihan yang tepat. Tidak ada waktu untuk menangisi Nehan lagi atau mengenang kisah cinta mereka. Yang ada dia semakin mengunakan logika-nya untuk melihat situasi dengan baik dan dapat mengambil tindakan yang tepat. Tidak sia-sia dia belajar sungguh-sungguh akhir-akhir ini. Buktinya kemampuan berpikir Eca semakin terasah termasuk dalam urusan cinta.
***
"ma, ada yang mau Eca omongin."
"kenapa Ca?"
"aku gak keberatan kalau waktu belajar aku bertambah. Tapi bisa gak sih guru les aku ditukar. Jangan si Gian."
"kenapa? Dia anaknya pintar kok."
"dia emang pintar ma tapi dia jahat. Dia sering marahi Eca waktu belajar."
"itu karna kamu gak ngerti-ngerti. Coba kalau ngerti pasti gak dimarahi."
"tapi ma dia kemarin bahkan menjitak kening aku. Sampai merah."
"alah cuman itu pun. Udah naik kamar sana. Ingat nanti kamu les"
"hufff iya iya." ucap Eca lemas.
Bicara dengan mama sia-sia saja. Mama itu keras kepala. Kalau dia bilang A ya pokoknya harus A apapun akan dia lakukan untuk mewujudkannya. Eca hanya bisa pasrah.
Eca berjalan menuju kamar. Membuka pintu dan berjalan menuju meja belajar untuk meletakkan tas. Di ambilnya handphone dari dalam tas. Ternyata ada pesan. Eca membuka pesan dari nomor baru.
0812xxxxxxx:
Ini materi untuk besok. Pelajari malam ini.
Eca bingung siapa pemilik nomor baru ini. Main perintah-perintah aja. Tidak ada kalimat perkenalan diri lebih dulu. Hanya perintah dilanjutkan link materi dibawahnya. Eca yang tidak tau siapa pemilik nomor baru lantas membalasnya.
Eca:
Maaf. Ini siapa?
0812xxxxxxx:
Gian.
Saat itu juga Eca mau mengumpat rasanya. Ternyata si guru lesnya yang galak. Bukannya memperkenalkan diri lebih dulu dia malah kasih perintah. Emang dia pikir Eca bisa menebak siapa yang mengirim pesan? Nasib sial Eca punya guru les seperti Gian.
***
__ADS_1