RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 25


__ADS_3

Pagi ini cuaca sangat cerah. Langit berwarna biru dengan matahari yang muncul dari arah timur. Matahari pagi ini cukup hangat dengan angin yang berhembus pelan. Suara dedaunan yang saling bergesekan ikut menjadi saksi kegiatan empat orang yang saat ini asik mengoleskan sunscreen di bawah pohon rindang.


Sejak tadi Yuyu meneror Eca, Gian dan Cio untuk mengaplikasikan sunscreen lagi. Dia tidak mau pulang dari main voli kulit mereka belang. Yuyu sangat perhatian yang berkaitan dengan sinar matahari dan dampak buruknya jika terpapar lama. Dia memprediksi minimal 1 jam atau bahkan lebih mereka main voli dipinggir pantai. Sehingga proteksi kulit harus lebih ekstra.


"ayo guys!!" seru Cio berlari menuju bibir pantai sambil membawa bola.


"tunggu!" Eca juga ikut berlari di belakang Cio.


Yuyu dan Gian berjalan santai menuju pinggir pantai. Saat mereka sudah berkumpul semua, mereka mulai bermain voli. Eca dan Gian setim sedangkan Yuyu dan Cio menjadi lawan tim mereka.


Yuyu mulai melakukan servis. Dia melakukan servis bawah. Rambutnya ikut bergerak saat angin ikut berhembus. Sesekali kali dia menyingkirkan rambut yang menghalangi penglihatannya.


Yuyu melakukan servis cukup kuat. Eca langsung berlari memposisikan badan untuk menangkap bola dari Yuyu. Eca berhasil dan membuang bola kearah depan. Cio dengan gesit menangkap bola dan melakukan pukulan kuat tapi Gian mampu menahannya. Gian melakukan balasan dengan pukulan kuat. Menargetkan tempat kosong yang mungkin saja susah dijangkau oleh Yuyu dan Cio. Tapi Yuyu berhasil menangkap arah pukulan Gian. Dengan semangat membara, dia memukul kuat kearah depan wajah Gian. Refleks Gian terkejut dan terlambat menangkap bola. Kini satu poin pada tim Cio dan Yuyu.


"yes!!"


"keren Yu! Itu baru kawanku!" kata Cio sambil bertos ria dengan Yuyu.


"wleee. . ." ejek Cio kearah Gian dan Eca.


"ck! aku akan membalasmu Cio sialan!" kata Eca sambil memandang Cio dengan sengit.


Gian dan Eca mulai terbakar api semangat saat poin mereka tertinggal dari Cio dan Yuyu. Setelah bermain cukup sengit akhirnya Eca dan Gian dapat mengimbangi poin. Hingga akhirnya lebih unggul dari Yuyu dan Cio.


Eca sangat senang berhasil membuat kalah Cio. Dia melompat-lompat kegirangan. Tidak lupa berselebrasi dan berlari ke arah Gian. Entah keberanian dari mana dia memeluk Gian dengan erat.


"kita menang Gian!!" seru Eca sambil menutup mata dan memeluk pinggang Gian.


Gian yang awalnya kaku akhirnya membalas pelukan Eca. Pria itu bahkan mengangkat badan Eca. Kaki Eca tidak menapak diatas pasir lagu. Badannya ikut berputar saat Gian memutarkan badannya sambil memeluk Eca. Mereka berdua tertawa bahagia.


"ck! Buruan pelukkannya aku aku lapar." kata Cio sambil melempar segenggam pasir ke arah punggung Gian.


Eca dan Gian seakan sadar. Mereka lalu memisahkan diri dengan canggung. Wajah Eca memerah. Gadis itu memalingkan wajah kesamping, tidak sanggup menatap wajah Gian. Dia malu.


Sama halnya dengan Eca, Gian juga ikutan canggung. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencuri pandang ke arah Eca yang sedang memalingkan wajah ke arah matahari terbit. Dipenglihataan Gian, Eca nampak bersinar. Entah karna cahaya matahari mengenai Eca atau dia terlihat cantik saat ini. Gian tidak tau dengan pasti.


"ah elah! berhenti lihat-lihat! Aku lapar!" seru Cio dengan kesal sambil melempar pasir ke arah Gian.

__ADS_1


Namun bukan Gian yang kena malah badan Eca. Mengetahui Cio yang melakukannya secara otomatis Eca mengambil pasir dan mengejar Cio. Dia melempar ke arah Cio tapi salah sasaran dan mengenai lengan Yuyu. Tidak mau ikutan kalah Yuyu mengejar Eca dan memegang pasir. Saat merasa Eca dekat dengan jangkauannya, Yuyu langsung melempar pasir kearah Eca. Dengan gesit Eca berlindung dibalik badan Gian. Sehingga pasir mengenai wajah Gian.


"kamu curang Eca!!" seru Yuyu dengan berlari berusaha menyelamatkan nyawa-nya dari Gian yang sedang mengejarnya sambil menggenggam pasir.


Aksi kejar-kejaran diantara mereka berempat tak terhindarkan. Mereka saling melemparkan pasir kemudian berlari menyelamatkan diri masing-masing. Mereka juga tertawa saat ada yang terjatuh dan memohon-mohon untuk keselamatan dirinya.


Cio yang terlalu semangat berlari, terjatuh ke dalam air laut. Gian, Yuyu dan Eca mengetawai Cio. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat muka Cio yang mengerucut karna tidak sengaja meminum air laut yang sangat asin.


Tidak ingin hanya basah seorang diri, dengan semangat Cio menyiram kearah mereka bertiga. Dan berakhir dengan mereka berempat bermain air dan kejar-kejaran. Mereka saling membalaskan satu sama lain.


Tidak terasa waktu bermain mereka yang diperkirakan satu jam menjadi tiga jam. Mereka memutuskan kembali ke vila karna udah kelaparan. Tenaga mereka banyak terkuras habis saat bermain kejar-kejaran.


Saat kembali ke vila, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Mereka memesan makanan secara online. Menunggu 45 menit hingga makanan pesanan mereka diantar. Kali ini mereka memesan lebih banyak makanan. Alasannya karna energi mereka terkuras banyak jadi mereka memerlukan banyak makanan untuk mengembalikan tenaga.


Cio yang dari tadi merengek, segera membuka makanan. Tangannya sampai ditabok oleh Yuyu karna lupa menyuci tangan. Setelah menyuci tangan mereka menikmati makanan mereka dengan damai.


"enakkk" ucap Cio lalu menggigit tahu goreng dengan ukuran besar.


"keselek baru tau rasa!"


"serius deh Ca. Kamu harus coba tahu gorengnya. Maknyus!!"


"iya. Cobain nih." Cio menjulurkan tahu goreng ke arah Eca.


Eca melihat sebentar. Tangan kanannya masih memegang makanan. Tidak sopan kalau mengambil dengan tangan kiri. Dia pun memajukan badan ke arah Cio dan menggigit tahu menggunakan mulutnya langsung. Dari penglihatan orang lain Cio terkesan menyuapi Eca.


"wih tanganmu udah tidak berfungsi?" tanya Cio setengah meledek.


Eca menggeleng dan mengarahkan mulutnya kearah tangan kanannya yang masih memegang makanan. Siap untuk masuk ke dalam mulut Eca. Cio yang paham maksud Eca, hanya menganggukkan kepala.


"ayam bakarnya juga enak Ca. Cobain." kata Gian sambil memasukkan potongan ayam bakar kemulut Eca saat perempuan itu selesai menelan makanan.


Melihat Gian yang tiba-tiba menyuapinya menimbulkan semburat merah di pipinya. Tadi waktu dengan Cio dia tidak merasakan apa-apa. Tapi dengan Gian dia merasa malu dan jantungnya berdebar lebih cepat.


Diam-diam Yuyu memperhatikan interaksi Eca dan Gian. Dia senyum-senyum sendiri. Gian yang cemburu dan Eca yang malu adalah perpaduan yang lucu dimatanya.


Selesai makan mereka duduk di ruang tamu sambil menonton. Sebenarnya mereka mulai mengantuk tapi tidak mungkin langsung tidur. Mereka perlu memastikan makanan mereka sudah turun lebih dulu.

__ADS_1


"aku masih tidak menyangka kalau Cio dan Gian adalah sepupu." kata Yuyu memulai percakapan.


"kamu tidak pernah nonton TV? Waktu kakak Gian menikah tahun lalu kan masuk berita. Anak Bapak Hari penjabat kementerian keuangan. Nah, dalam video itu ada aku yang lagi berdiri di samping bapak ku. Itu kami keluarga dari pihak Bapak Hari."


"aku tidak nonton berita."


"makanya kurang update! Nih lihat." ucap Cio sambil menunjukkan handphone-nya.


Disana ada berita tahun lalu saat pernikahan kakak Gian. Gian, Cio, Bapak Hari dan keluarga yang lain memakai seragam yang sama. Di sana juga dijelaskan bahwa keluarga dari pihak Bapak Hari adalah keluarga terpandang karna berasal dari jajaran pejabat.


"wah benar juga. Jadi bapak mu jabat apa Cio?" tanya Yuyu penasaran.


"bapak ku bukan pejabat. Dia punya bisnis kecil-kecilan. Kalau kamu dengar ada salah satu saudara Bapak Hari yang tidak masuk pemerintahan itu adalah Bapak ku."


"kenapa tidak ikut seperti Bapaknya Gian dan yang lain?" tanya Eca.


"kurang minat disitu kata bapakku."


"kalau kamu Yu?" tanya Cio.


"bapakku manager di salah satu perusahaan makanan."


"wow keren."


"kalau kamu Ca?"


"bapakku Direktur di perusahaan otomotif."


"keren juga bapakmu Ca."


"iya sih. Tapi dia jarang pulang ke rumah. Kalau pulang pun selalu larut malam." jelas Eca dengan sedih.


"sibuk kali Ca. Apalagi dia pemimpin. Wajarlah." kata Yuyu sambil memegang pundak Eca.


Eca merenung memikirkan papanya yang terlalu sibuk. Sering keluar kota untuk tawaran produk dengan pelanggan atau pun pengembangan produk. Papa Eca harus ikut menangani karna dia tidak mau jika apa yang dikerjakannya tidak berjalan sesuai target. Tapi akibatnya waktu dengan keluarga sedikit.


Eca memejamkan mata sebentar. Mengingat papa yang bekerja keras untuk keluarga membuat Eca sedih. Demi keluarga, papa rela jarang pulang. Bahkan biaya liburan mereka saat ini pasti uang dari papanya yang diberikan kepada mama. Eca bangga dengan papanya namun dia sedih juga karna pria itu harus bekerja lebih keras demi keluarga mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2