
"Eca, kita perlu bicara." ucap mama tegas sambil melangkah keruang tamu dan duduk di sofa.
"bentar ma. Aku lapar. Biarkan aku makan dulu."
"langsung ganti baju dan makan. Selesai makan langsung kesini. Mama tunggu."
"iya."
Eca berjalan menuju kamar sambil menerka apa yang mau dibahas mama. Masuk di dalam kamar Eca menganti pakaian dan segera keluar menuju dapur. Dia sangat semangat melihat makanan favoritnya. Ada ikan pati goreng, sambal dan lalapan. Sempurna! Eca makin semangat untuk makan. Memang benar yang dikatakan orang-orang kalau makan saat lapar-laparnya semua makanan akan nikmat. Tapi bukan hanya faktor lapar tapi makanan favorit Eca tersaji sekarang. Melihat sambal yang merah merona di ulek kasar sangat pas di campur dengan pati goreng dan nasi. Tidak lupa menutupnya dengan lalapan. Makanan enak mampu menaikan mood Eca. Dia sangat suka makan siang kali ini sampai beberapa kali dia menutup mata menikmati sensasi bercampurnya makanan dalam mulutnya. Eca makan sampai piringnya bersih. Rasa laparnya terbayarkan dengan luar biasa.
Eca menyelesaikan kegiatan makan siang. Lalu beranjak menuju ruang tamu. Ada mama yang senantiasa menunggu Eca. Tapi wajah mama tidak ada raut santai seperti biasa. Wajah itu terlihat tenang tapi tegang di saat bersamaan. Eca bisa melihat tatapan mata mama beda kali ini. Sepertinya ada hal serius yang harus dibicarakan.
"duduk."
Eca mengambil tempat duduk di depan sang mama. Tiba-tiba Eca merasa tegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa mengetahui topik yang akan dibahas mama, Eca merasa akan datang hal buruk. Tapi Eca tidak yakin juga. Tapi tatapan mata mamanya menyiratkan itu semua. Dia memang diam saat ini tapi seperti menahan diri. Apalagi jedanya cukup lama dari mama yang meminta Eca duduk. Bagaimana Eca tidak gugup kalau begini?
"bagaimana belajar kamu?"
"lancar ma."
"benaran lancar?" ucap mama menekan setiap kata-katanya.
"i-iya."
"kamu yakin belajar sungguh-sungguh selama ini. Ah tidak, selama kamu masuk kelas 12 ini?"
"i-iya ma."
"kamu ada kesulitan dalam belajar?"
"sejauh ini tidak ada yang terlalu sulit."
"bagus. Jadi bisa kamu jelas tentang ini?" kata mama sambil melempar lembaran kertas ujian di sekolah dan lembaran kuis di les ke atas meja.
__ADS_1
Eca tersentak. Dia melongokkan kepala untuk melihat nilainya. Padahal dia belum sempat lihat nilainya tapi kenapa bisa kertasnya ada pada mama. Kertas itu bahkan belum dibagikan padanya. Eca takut saat melihat nilainya yang rata-rata 50.
"i-ini."
"mama di telfon guru kamu kemarin dan tadi guru lesmu juga. Mereka memberikan kertas itu pada mama. Mereka kompak mengatakan kalau kamu tidak ada perkembangan."
Eca menundukkan kepala. Dia melipat tangan di atas paha. Eca merasa bersalah dan takut. Mama kelihatan marah. Dia memang tidak berteriak seperti biasanya. Tapi mama yang tenang saat ini lebih menakutkan bagi Eca.
"ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi tidak lama lagi. Apa aja yang kamu lakukan Eca?"
"ma, aku udah belajar tapi aku memang lemah dalam belajar."
"itu sebabnya mama kasih kamu les."
"ta-tapi aku masih belum bisa ma."
"baik. Mama ganti pertanyaan sekarang. Kamu suka apa?"
Eca menggeleng. Dia tidak tau apa yang dia suka. Perempuan itu tidak melakukan banyak hal untuk mengetahui rasa tertariknya pada suatu bidang. Dia terbiasa melakukan kegiatan menoton selama ini. Pergi sekolah, belajar seperlunya, pacaran, pergi les dan begitu seterusnya. Tapi dia tidak sungguh-sungguh melakukan kecuali pacaran.
Eca menggeleng lagi. Mama dibuat mendengus dengan keras. Mama membuang pandangannya kearah samping. Mencoba untuk mengontrol emosi. Mama merasa sia-sia menyuruh Eca les. Sia-sia menyuruh Eca untuk menjadi anak yang berhasil.
"apa kamu sungguh-sungguh belajar selama ini Ca?" ucap mama menatap Eca dengan menaruh sedikit harapan pada tatapannya.
Tapi Eca tidak dapat menjawab. Dia semakin menundukkan kepala. Sudut matanya mulai berair. Eca terus memilin jarinya. Dia takut karna saat ini dia mengecewakan mama. Kenyataan bahwa dia tidak pernah bersungguh-sungguh belajar membuat Eca semakin menunduk.
"Eca jawab mama!" tegas mama kali ini, geram dengan Eca yang memilih diam.
"tidak tau ma."
"kamu belum pernah cari universitasnya atau kamu belum dapat yang pas?"
"belum pernah cari ma." Eca memutuskan untuk jujur.
__ADS_1
Kali ini mama yang tidak menjawab. Lama sekali dia tidak menjawab. Sampai Eca merasa mamanya sudah pergi. Saat Eca mengangkat kepalanya dia melihat mama dengan wajah berpaling kearah samping dengan air mata bercucuran. Langsung saja hati Eca seperti hancur berantakan. Ini lebih sakit daripada dia memergoki Nehan dan Tia selingkuh. Seumur hidupnya Eca tidak pernah membuat mamanya menangis hanya sering membuat sang mama marah. Baru kali ini mama menangis dan itu karna Eca.
Eca tertegun dan menatap dengan tidak percaya. Mamanya yang sering marah terlihat rapuh saat ini. Bahkan air matanya terus mengalir. Seketika badan Eca merinding. Seluruh bagian dari tubuhnya kaku. Dia merasa sangat bersalah. Eca merasa sangat berdosa membuat mamanya nangis.
"ma." suara Eca bergetar.
"ma." satu air mata Eca jatuh.
"mama." Eca berlari menuju mama.
Eca tidak duduk di samping mama tapi dia duduk di lantai memeluk kaki mama. Meletakkan wajahnya diatas paha mama dan menangis kencang disana. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari membuat mama menangis, wanita hebat yang sudah melahirkan dan membesarkan Eca dengan penuh kasih sayang.
Tangis Eca semakin kencang saat mamanya tidak melepas tangan Eca justru mengusap kepala Eca dengan sangat lembut. Gadis itu mengeratkan pelukan dikaki mama. Mereka berdua menangis dengan kencang. Demi apapun Eca merasa menjadi anak durhaka sekarang.
"Eca. Mama mohon, tolong berlajar sungguh-sungguh. Kamu harus sukses sayang. Kamu dan Erna harus sukses. Kalian berdua permata mama. Mama tidak sanggup melihat kamu menderita di masa depan karna mengabaikan belajar."
"iya ma." Eca mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Eca. Kalau kamu pintar, sukses, mandiri, kamu bisa berdiri di kaki kamu sendiri. Hak-hal buruk pun tidak mampu menumbangkan kamu."
"iya ma." Eca mengangguk.
"yaudah masuk kamar. Kamu istirahat."
Eca masuk ke dalam kamar. Dia lemas. Entah mengapa emosi Eca sekan diaduk-aduk. Dan rasa bersalah masih menghinggapinya saat ini. Dia melamun dan memikirkan apa saja yang sudah dia perbuat. Hal bodoh apa yang lebih dia pentingkan. Eca menyadari dia sangat bodoh karna mengabaikan hal yang lebih penting dan berakibat buruk baginya.
Drrttt . . .
Pesan dari Nehan:
Eca, vc yuk.
Untuk pertama kalinya Eca menutup handphone dan tidak membalas pesan dari Nehan. Dia mengabaikan pesan dari sang kekasih. Memilih menaikan selimut menutupi badan untuk beristirahat. Mengikuti perkataan mama.
__ADS_1
***