RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 39


__ADS_3

Suasana hening dalam kamar menjadi saksi dari dua orang yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Eca mencoba menerka-nerka penyebab papa terjangkit HIV. Papa juga sibuk menerka reaksi Eca saat mendengar ceritanya nanti. Keduanya sama, sama-sama tidak sanggup untuk menghadapinya.


"se-sejak kapan?" suara Eca bergetar seiring dengan tangannya yang ikut bergetar di atas pangkuan.


"papa tidak tau pastinya kapan. Tapi sejak diperiksa 3 bulan lalu dokter mengatakan positif."


Eca menghela nafas gusar. Dia menopang kening dengan tangan sebelah kiri. Tangan sebelah kanan digigit di mulut. Dia menatap papa dengan pandangan yang sulit dijabarkan. Terlalu banyak hal yang terlintas dalam pikirannya saat ini.


"Tia sudah tau?"


"dia yang mengantar papa ke dokter."


"papa kena dari Tia?"


"dia kena dari papa."


"apa?!!"


Eca terkejut dengan pernyataan papa. Kedua matanya melebar sempurna. Jika bukan dari Tia lalu papa dapat dari mana? Masa dari mama?


"bukan hanya sama Tia papa selingkuh. Tapi hanya Tia yang hamil."


Kedua mata Eca seakan mau keluar dari tempat. Dia menggelengkan kepala menatap papa tidak percaya. Dia seperti tidak mengenal sosok yang sedang berbaring lemah dihadapannya.


"aku tidak tau kalau papa seberengsek itu!"


"ma-maaf. Papa salah." lirih papa menundukkan kepalanya lebih dalam.

__ADS_1


"bagaimana dengan mama?!"


"papa selalu memakai pengaman dengan mama dan kami sudah lama tidak melakukannya sebelum kamu lulus SMA. Mungkin sejak dia tau papa selingkuh mama-mu tidak pernah mau lagi disentuh papa."


"syukurlah. Mama ternyata tidak bodoh." ucap Eca dengan lega.


"Jadi Tia?!" tanya Eca lagi.


"iya dia positif dan anak yang dikandungnya juga."


Eca terkejut sampai menutup mulutnya. Entah karma atau lagi apes, Eca cukup simpati dengan kandungan Tia. Namun dia tidak perduli dengan Tia, perempuan itu cukup dewasa untuk memahami resiko dari perbuatan yang dilakukannya.


"tapi kenapa papa cepat sekali drop?"


"percaya atau tidak percaya, berpisah dengan kalian bertiga sangat membuat papa hancur. Papa stress karna berpisah dengan kalian. Tidak bisakah kita kembali seperti dulu lagi Eca? bisa minta mama untuk kembali sama papa lagi?" tangis papa pecah diakhir kalimatnya.


Melihat papa yang menangis tersedu-sedu membuat Eca ikut meneteskan air mata. Dia bisa mengerti dengan keinginan papa yang ingin mereka kembali bersama. Eca juga terkadang memikirkan hal yang sama. Kembali pada masa-masa sebelum papa diangkat menjadi direktur, keluarga mereka jauh lebih harmonis. Mendapatkan jabatan yang lebih tinggi buktinya tidak menambah kebahagian justru menjadi petaka dalam keluarga mereka.


"sudah terlalu terlambat. Jalani saja hidup papa yang sekarang. Mama sudah jauh lebih bahagia. Sebaiknya aku tidak boleh berlama-lama di sini. Mama akan sedih jika tau aku menemui orang yang pernah menyakitinya." kata Eca sambil berdiri.


"tidak bisakah papa ketemu kamu saja? Papa mohon. Tinggal kamu harapan papa." lirih papa menatap Eca dengan pandangan memohon.


"Eca tidak suka melihat Tia!! Kalau papa mau ketemu denganku, jangan sampai aku melihat Tia!" seru Eca menatap papa dengan tajam.


"ta-tapi"


"papa tidak sanggupkan?? Sampai kapanpun papa masih memikirkan wanita murahan itu!"

__ADS_1


Eca mengambil langkah lebar. Dia memilih untuk meninggalkan kamar papa. Dia kecewa dengan papa yang masih memikirkan Tia. Padahal wanita itu tidak pernah memikirkan papa setidaknya untuk merawat dengan rapi saja, Tia tidak mau repot-repot.


"dia sedang hamil Eca. Papa tidak tega mengusirnya." ucap papa menghentikan tangan Eca yang sedang memegang gagang pintu.


"tapi papa tega selingkuh dengan mama."


Eca lalu keluar dari kamar. Dia marah dengan papa yang masih mempedulikan Tia. Sampai kapanpun Eca membenci Tia. Karna Tia, menjadi alasan dia dan Nehan berpisah, karna Tia juga papa dan mama-nya berpisah.


Saat akan melewati ruang tamu, Eca melihat Tia sedang menonton tv dengan kaki diangkat di atas meja. Tidak lupa dia memakan kacang kulit dan membuang sampahnya sembarangan. Bisa Eca lihat ruang tamu yang layaknya kapal pecah.


"papamu sangat menyusahkan! Lebih baik bawa dia pulang dan urus!" cetus Tia saat penglihatannya menangkap Eca.


"lebih baik kamu yang angkat kaki. Ini rumah papaku!"


"ck dia harus bertanggungjawab atas bayi ini. Kalau bukan karna dia, aku tidak akan terjebak dirumah sialan ini!"


"pergi saja tidak ada yang melarangmu!"


"hahaha. . . Kamu pikir aku bodoh? Rumah ini harus jatuh dulu ketanganku sebagai kopensasi karna papamu membuat aku hamil!"


"kamu tidak akan dapat apa-apa. Aku pastikan itu!"


Eca kembali berlari ke dalam kamar papa. Nafasnya terputus-putus karna berlari melewati tangga. Dia membuka pintu kamar papa dan masuk ke dalam.


"aku mau ketemu dan merawat papa tapi dengan syarat jangan kasih harta sepersenpun untuk Tia. Bagaimana pa?"


"ba-baiklah."

__ADS_1


Papa terpaksa mengiyakan permintaan Eca. Dia tidak ingin putri bungsunya marah lagi. Jauh dilubuk hati dia ingin lebih sering bertemu dengan Eca setidaknya dia bisa bertemu dengan satu dari tiga perempuan yang paling dia sayangi. Meskipun dia masih kasihan dengan Tia. Untuk urusan Tia dia bisa memikirkannya nanti.


____bersambung____


__ADS_2