
Sampai di les, Eca langsung berlari ke tempatnya. Dia melihat disebelah kosong. Tumben Yuyu datang lebih lama dari Eca hari ini. Biasanya dialah yang menyambut Eca dengan senyuman.
Eca menjadi kesepian karna tidak ada Yuyu yang biasanya selalu mengobrol dengannya sebelum les dimulai. Ternyata begini rasanya jadi Yuyu jika perempuan itu datang lebih dulu. Dia pernah memberitahu Eca kalau dia kesepian karna datang terlalu awal di setiap les. Kalau dulu Eca dengan mudahnya memberikan ceramah supaya Yuyu menunggu sebentar sekarang dia berada di posisi Yuyu. Jujur, Eca kurang suka karna dia harus berdiam diri.
Yuyu tidak kunjung datang hingga bel masuk berbunyi. Bahkan Cio dan Gian juga belum datang. Mereka bertiga kompak saat ini. Hanya Eca yang kesepian di belakang. Disamping tidak ada orang, dibelakang juga tidak ada.
Hingga, 15 menit sesudah pelajaran dimulai, suara gaduh terdengar dari luar. Sontak perhatian menuju kearah pintu. Menyambut siapa pun yang membuat kegaduhan dari luar.
"permisi pak. Maaf terlambat." ucap Cio sambil memapah Yuyu.
"loh Yuyu kamu kenapa?"
"Yuyu keserempet tadi pak di depan jalan Anggrek." jelas Cio.
"kenapa kalian bisa bersama?"
"aku sama Gian tadi bareng pak. Terus lihat Yuyu ditengah jalan seperti orang linglung. Waktu ditanya katanya habis keserempet. Yaudah karna kita baik, kita bareng pak."
"yaudah masuk. Hati-hati, pegang Yuyu yang benar Cio."
"siap pak."
"pak maaf terlambat." ucap Gian membawa 3 tas. Satu dipundak dan masing-masing 1 disetiap tangan.
"kenapa tas kamu tiba-tiba jadi banyak?"
"ini Cio yang suruh pak katanya buat bantu Yuyu."
"ck, akal-akalan si Cio itu. Yaudah duduk."
"baik pak, makasih."
Mereka bertiga duduk ditempat masing-masing. Gian menaruh satu tas diatas meja Yuyu. Satu tas lagi ditangannya dia lempar kearah Cio. Yang untung saja ditangkap Cio dengan cepat.
Dari awal Cio mengusulkan untuk menenteng tas mereka berdua dengan Yuyu, Gian bisa mencium niat busuk. Gian tau kalau Cio adalah orang yang licik. Tentu saja dia memanfaatkan kesempatan untuk membantu Yuyu agar Gian mau dijadikan babu yang memegang tasnya. Kapan lagi dia bisa mengerjain Gian. Untung saja waktunya tepat kalau tidak bisa habis Cio ditangan Gian.
Sudah Gian coba untuk mengelak membawa tas Yuyu dan Cio. Tapi dasar si Cio dia memanfaatkan keadaan Yuyu yang lumayan parah. Mau tidak mau Gian mengalah. Tidak mungkin dia memperbesar masalah sepeleh, tapi harga dirinya sedikit tercubit mendengar Cio yang sesekali memerintahnya untuk berjalan lebih cepat. Kalau saja Cio tidak sedang memapah Yuyu bisa dipastikan Gian akan menendang kepala Cio saat itu juga.
"kenapa bisa parah gini sih Yu?" tanya Eca sambil memperhatikan luka goresan yang lumayan panjang di tangan kanan Yuyu.
"keserempet tadi Ca. Orangnya kenceng banget bawa motor. Udah gitu, mepet banget di trotoar. Jadilah aku keserempet sampai jatuh dijalan tadi."
"aduh Yu. Kamu lain kali hati-hati kalau ditrotoar. Ini luka kamu udah dikasih betadin?"
"oh udah kok Ca. Tadi ada ibu-ibu bantu olesin betadin di luka aku."
"syukurlah. Mana lagi yang luka?"
__ADS_1
"di lutut aku." unjuk Yuyu pada lututnya.
"yaampun Yu. Masih sakit?"
"masih ada dikit sih. Agak perih."
"kamu masih tahan?"
"iya."
"udah kamu jangan mencatat, biar aku yang catat dibuku kamu."
"gak repotin Ca?"
"enggak, tenang aja."
"makasih Ca."
Sepanjang Pak Dermawan mencatat materi, Eca juga mencatat dibukunya dan buku Yuyu secara bergantian. Gerakan tangan Eca menjadi dua kali lipat lebih cepat. Jari-jari Eca sakit sebenarnya tapi dia harus menahannya. Eca tidak mau Yuyu merasa tidak enak hati pada Eca.
Yuyu yang sedari tadi melihat Eca menulis di dua buku bergantian, menatap Eca penuh haru. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama sebelumnya. Belum ada teman yang pengorbanannya seperti yang Eca lakukan. Diam-diam dia tersenyum tulus pada Eca dan memuji kualitas pertemanan Eca dalam hati.
Selesai les, Eca juga membantu Yuyu menyusun bukunya ke dalam tas. Dia juga memapah Yuyu keluar. Dengan hati-hati, Eca berjalan pelan agar Yuyu tidak kesulitan berjalan. Bagaimana pun, lututnya masih sakit digerakkan. Di setiap langkah pun Yuyu masih meringis pelan. Saat Yuyu berjalan, luka di lututnya ikut bergerak dan menimbulkan rasa sakit yang lumayan hingga Eca meringis kecil.
"makanya Yu, kalau berdiri itu jangan melamun, diserempetkan jadinya." kata Cio dari arah samping disusul Gian.
"aku gak melamun Cio gembel!" geram Yuyu.
"ya namanya juga musibah. Gak kenal waktu dan gak kenal orang datangnya."
"alah musibah. Itu juga salah satu akibat dari keteledoran. Harusnya kamu lebih waspada lagi supaya bisa menghindar dari orang gila yang ugal-ugalan."
"ya mana aku tau kalau dia jalan mepet trotoar."
"mini iki tii kili dii jilin mipit tritiir" ledek Cio.
"diam Cio asu gembel!"
"diem Cio asu! Teman lagi kena musibah juga diceramahi mulu." kata Eca ikut memarahi Cio.
"ck, kalau si Eca babi yang diserempet pasti gak kenapa-napa karna lemaknya banyak yang ada tubuhnya memantul beda kalau si Yuyu kurus jadi sekali serempet langsung remuk."
"Cio asu! Sini kamu!!" teriak Eca mencoba menangkap Cio.
Dengan cepat Cio berpindah kesebelah Gian sehingga Gianlah disamping Eca sekarang. Mana berani Eca meraihnya lagi yang ada nanti Gian kena. Dan pria itu ngambek lagi. Ngambeknya Gian itu parah, mulutnya pedas. Terakhir dia melakukannya, Eca sampai nangis. Dia tidak mau lagi. Dia trauma.
"wleee gak kena." ledek Cio mengulurkan lidahnya.
__ADS_1
"sialan! Maju sini kalau berani."
"tangkap dong hahahah. . ."
"udah Ca. Gak usah ladenin orang gila." kata Yuyu.
"orang gila orang gila. Aku yang memapah kamu tadi ya Yu."
"idihhh gak sudi juga."
Cio mulai berpindah ke sebelah Eca. Belum juga Cio berbicara, Gian sudah menabok kepalanya. Otomatis Cio menatap Gian dengan protes.
"kenapa si Gian ah! sakit ini!"
"udah dua kali kakiku kamu injak karna pindah-pindah ya. Sakit dodol."
Ternyata saat Cio pindah tadi dia menginjak kaki Gian. Entah sadar atau tidak sadar dia melakukannya lumayan kuat. Gian yang tidak tahan lagi akhinya menabok bagian belakang kepala Gian. Menyadarkan pria itu bahwa dari tadi kakinya sudah sakit.
Cio tidak bisa protes lagi. Dia tidak sadar saat menginjak kaki Gian. Dia asik berbicara dengam Eca dan Yuyu dengan menggebu-gebu. Karna itu juga dia mengginjak sepatunya dengan menggebu-gebu juga yang adalah kaki Gian.
Tapi Cio tidak mau diam saja, dia akan mengerjain Gian. Siapa suruh menabok kepalanya terlalu keras. Sampai Cio merasa otaknya sedikit bergeser saat Gian menolaknya tadi.
"eh guys kata si Gian tadi kita pulangnya bareng naik mobil dia aja. Dia kasihan sama Yuyu yang hampir saingan dengan nenek kalau jalan."
"aku gak bilang itu ya." peringat Gian.
"dasar Cio gembel! tunggu aku sembuhnya!" seru Yuyu.
"udah deh Yu tenang dulu. Ini si Gian tadi katanya mau bareng kita bertiga. Dia antar masing-masing dengan selamat."
"gak ada ya"
"mulai mendung Gian. Kamu gak kasihan sama teman kamu? Ini si Yuyu lagi sakit mesti jalan lagi dia sampai pemberhentian bis. Bisa-bisa kehujanan dia. Kasihan banget nasib si Yuyu."
"ck, yaudah."
"yes!" seru Cio kegirangan.
"eh gak usah Gian, aku gak apa-apa kok. aku bareng Eca aja. Kami sama ke pemberhentian bis."
"nah karna itu kalian sama aja sama kami. Nah lihat udah mulai turunkan rintik hujannya."
Seakan semesta mendukung akal Cio. Hujan pun mulai turun. Terpaksa Eca dan Yuyu ikut bersama Cio dan Gian. Mereka masuk dalam mobil. Gian yang mengemudi dengan Cio disebelahnya. Eca dan Yuyu duduk di belakang.
"maaf merepotkan Gian." kata Yuyu masih tak enak hati.
"iya gak apa-apa. Hujan juga."
__ADS_1
Eca menatap Gian yang menatapnya juga. Dia seakan menantikan sesuatu dari Eca. Apa yang dia harapkan dari Eca? Kalimat permintaan maaf karna merepotkan juga? Eca sangat malas mengucapkanya. Dia lebih memilih melihat kearah depan.
***