RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 42 | Hidup terus berjalan


__ADS_3

Berhari-hari Eca menatap kosong pada pusara sang papa. Setiap pulang kuliah dia akan ke tempat peristirahatan terakhir pria cinta pertamanya. Masih dengan tatapan kosong dan airmata mengering di pipi. Tidak ada niatan untuk menghapus. Biarkan dunia menjadi saksi betapa terpuruknya dia karna di tinggal papa.


Selalu saja Eca gagal menahan air mata setiap melihat gundukan tanah di depannya. Seolah memiliki banyak stok air mata. Air mata akan mengalir turun seperti tanpa beban tanpa hambatan. Bermenit-menit sudah Eca duduk dengan mata merah dan gembung. Tidak ada yang bisa menghentikannya.


Setiap ke tempat ini, pikirannya akan terlempar pada masa dia kecil sampai remaja. Bagaimana mereka menghabiskan waktu akhir minggu bersama dengan mengunjungi beberapa tempat wisata saat cuaca cerah. Namun saat cuaca tidak mendukung mereka memutuskan main kemah-kemahan di halaman belakang rumah, lengkap dengan mendirikan tenda.


Di sana mereka menyiapkan tempat tidur, makanan dan boneka kesukaan Eca dan Erna. Papa dan mama berada di ujung sedangkan kedua putri berada di tengah. Merasakan hawa dingin yang masuk dalam tenda dan berbalut pelukan hangat kedua orangtua. Mereka juga akan tertawa bersama saat Eca mengeluh sesak karna eratnya pelukan mama dan papa. Hal yang menjadi bagian favorit dalam hidup Eca sampai saat ini.


Rasa bahagia yang dia rasakan akan dengan cepat berubah ketika kenangan saat papa terbaring sakit muncul begitu saja. Eca mengingat hari-harinya saat menemani papa perawatan. Melihat papa yang mengeluh kesakitan karna tidak sanggup melawan penyakit. Menyaksikan papa tersenyum lemah dan mengucapkan kata-kata romantis. Hingga hari terakhirnya dia tersenyum bahagia dapat melihat ketiga perempuan yang dia sayang. Semua terasa menyesakkan dada.


Andai waktu dapat diulang, Eca ingin kembali ke masa kecil. Merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua. Merasakan waktu dan perhatian penuh yang dilimpahkan bagi mereka anak-anak. Andai Eca dapat membatalkan promosi papa menjadi direktur supaya papa lebih punya waktu untuk keluarga. Andai Eca dapat menahan papa dari godaan rasa kurang puas. Namun semua menjadi lebih sakit seperti palu menghantam dada dengan kuat saat keadaan tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Pada akhirnya kita ditinggalkan oleh banyak penyesalan.


Eca sekali lagi memandang pusara dan menaburkan bunga di atasnya. Dia menenangkan diri sejenak sebelum berdoa. Setelah puas memandang, Eca memutuskan untuk berbalik. Saat berbalik dia melihat seseorang berdiri di samping pohon sambil mengenakan baju dan kacamata hitam. Sosok itu juga memandang ke arahnya.


"turut berdukacita." ucap perempuan itu pelan.


Eca tidak menggubris. Dia melewati perempuan tersebut dan berjalan keluar dari wilayah kuburan. Saat hendak menghidupkan motor, seseorang memanggilnya dari belakang.


"tu-tunggu Eca!"


"be-begini, apa papamu menitipkan wasiat untukku kepadamu?" sambungnya.

__ADS_1


"kamu baru muncul dan menanyakan wasiat?!" tanya Eca dengan jengkel.


"aku harus memiliki bagian dari wasiat karna papamu harus bertanggungjawab pada anak ini!"


"betapa murahannya kamu Tia! Meskipun aku tau papaku bersalah tapi bagaimana bisa kamu menyerahkan dirimu begitu saja padanya?! Apakah kamu tidak memikirkan resikonya?!!"


"kamu enak terlahir dari ayah yang sangat menyayangimu! Sedangkan aku tidak pernah merasakannya! Aku selalu dipukul setiap ayahku kalah judi atau aku harus menyerahkan diriku saat ayahku mabuk! Saat bertemu papamu yang memiliki jiwa kebapakan, aku langsung menyambut dengan suka cita karna untuk pertama kali aku bisa merasakan sosok ayah. Apakah salah aku boleh merasakannya sedikit saja? Tapi aku salah. Pada akhirnya papamu hanya mau tubuhku." jelas Tia dengan tangisan yang pecah.


Eca memandang Tia terkejut. Dia tidak pernah mendengarkan cerita dari Tia sebelumnya. Dia tidak menduga akan mendengar cerita versi Tia hari ini. Dia kembali menatap Tia yang menangis sambil menundukkan kepala. Pandangannya beralih pada perut Tia yang tampak menonjol. Barulah pandangan Eca sedikit melembut, bagaimana pun dia sedang menghadapi perempuan yang tengah berbadan dua.


"tetap saja kamu salah. Caramu salah Tia."


"kamu tau aku anak papaku?! Sejak kapan?"


"aku sering melihat kalian di tempat wisata berlibur satu keluarga. Kalian sangat harmonis. Aku menatap kalian dari jauh sendirian dan aku selalu iri melihatnya. Aku ingin merebut pria-pria yang mencintaimu dengan itu aku merasa puas. Kehampaan kasih sayangku seakan terbayar saat melihat wajah menderitamu seperti diriku."


"kamu gila! Apa kamu puas sudah melakukan semua itu?!!!" teriak Eca dengan murka.


Wajah Eca memerah menahan amarah. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Nafasnya memburu selaras dengan jantungnya yang memompa dengan cepat. Jika Eca sedikit lebih berani bisa dipastikan dia akan menampar Tia dan mengacak-acak rambut perempuan itu. Namun Eca masih berusaha menahan diri saat melihat perut Tia.


"tidak. Ternyata aku tidak bahagia. Aku justru mendapat karma. Aku dan anakku positif HIV. Kamu pasti senangkan?!" cetus Tia menatap Eca dengan tajam.

__ADS_1


"itu hasil dari perbuatanmu sendiri. Tidak ada urusannya denganku!"


Tia menghela nafas dalam. Dia mengacak dan menarik rambutnya kuat. Dia juga berteriak dengan kencang. Seakan tidak ada yang bisa menahannya, perempuan itu semakin kuat berteriak melampiaskan seluruh perasaan kesal dan amarahnya.


"bisakah kau diam?! Ini masih wilayah kuburan, jangan sampai mayat di sini keluar semua karna teriakanmu!"


"hahahah!! Aku tidak sanggup menghadapi ini semua Eca. Aku tidak kuat menghadapi penyakit ini. Aku ingin mengakhiri semua."


"pertimbangkan anakmu. Ingat, dia tidak bersalah. Jangan jadikan dia korban dari keegoisanmu."


"kamu mudah mengatakannya! Tapi aku yang merasakannya! aku hampir mati setiap penyakitku kambuh ditambah tubuhku semakin lemah karna anak ini!" seru Tia kemudian memukul perutnya.


"hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak Eca menahan tangan Tia dengan cepat.


Eca memandang Tia lekat. Tia tampak menunduk dan menangis kencang kemudian terdiam dan menatap perutnya dengan tajam. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Eca. Dia bisa merasakan emosi Tia sangat tidak stabil. Daritadi perempuan itu meninggikan suara kemudian memelankan suara kemudian meninggikannya lagi, terus seperti itu. Eca menerka sepertinya ada yang salah dengan Tia.


"ini kunci lemari pakaian paling bawah di kamar papa. Isinya wasiat untukmu. Pergunakanlah itu untukmu bertahan hidup dan cobalah ke psikiater, kurasa kau sangat membutuhkannya. Aku harap setelah ini kita tidak bertemu lagi. Selamat tinggal."


Eca meninggalkan Tia. Dia menghidupkan motor dan membawanya pergi menjauh. Sepanjang perjalanan Eca memandang jalanan yang cukup ramai. Sesekali dia melihat kearah awan yang berwarna jingga. Sayup-sayup dia mendengar suara kendaraan dari balik helm. Meskipun hari ini tampak biasa seperti sebelumnya tapi perasaan Eca tampak berbeda setelah berbicara dengan Tia tadi.


____bersambung____

__ADS_1


__ADS_2