RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 34


__ADS_3

Eca kembali memeriksa perlengkapan yang dia bawa untuk tes masuk perguruan tinggi di salah satu universitas negeri. Dia sangat semangat sekaligus gugup mengikuti seleksi pertama masuk perguruan tinggi. Sejak kemarin Eca berdoa untuk keberhasilan. Dia menaruh harapan yang besar pada ujian kali ini. Mama tidak henti-hentinya mengingatkan Eca untuk memeriksa barang bawaan sejak semalam. Eca cukup lega melihat reaksi mama yang sudah mulai tampak kembali seperti biasa, berbeda dengan beberapa hari ini yang murung terus. Memang yang berkaitan dengan ujian masuk universitas membuat mamanya semangat. Dia berharap hasil ujian ini mampu membuat mamanya bahagia walau hanya sedikit.


Eca melangkah sambil membawa botol minum. Pergi menuju ruang tamu untuk berpamitan dan mohon doa kepada sang mama. Namun dia mengernyit melihat papa yang sudah kembali dan tengah berlutut di depan mama.


"pa?"


"ah Eca. Kamu cepat berangkat. Semangat ujiannya!" potong mama dengan cepat.


Eca menatap mama kebingungan saat melihat sudut mata mama yang berair. Dia buru-buru mengusap mata dan memberikan senyum terpaksa pada Eca. Tentu saja gadis itu curiga. Apa yang sudah terjadi diantara kedua orangtuanya? Namun Eca tidak bisa berbuat banyak saat mamanya memberi gerakkan untuk segera pergi.


Eca melangkah pergi dengan pelan. Kepalanya masih memikirkan sekiranya apa alasan papa berlutut di depan mama dengan wajah penuh penyesalan, dan mengapa mama menangis? Eca membuka pintu dan menutupnya. Dia berdiri di depan pintu dengan ketakutan entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres. Dia memajukan kakinya selangkah tapi hatinya memerintah untuk kembali lagi ke dalam rumah. Dia membuka pintu dengan gerakkan yang sangat pelan. Mencoba mengelabui orang-orang di dalam bahwa tidak ada seseorang yang masuk. Jujur Eca sangat takut, setiap langkah yang diambilnya terasa berat. Setiap tarikan nafasnya membuat dia tercekik. Dia gugup bukan main, takut ketahuan mama jika dia kembali ke dalam rumah. Sudah kepalang tanggung, Eca sangat penasaran.


"aku tidak bisa sama kamu lagi mas. Lebih baik kita cerai."


Deg!


Eca menahan nafas mendengar kalimat mama. Langkahnya otomatis berhenti. Seluruh tubuhnya seperti tersiram air dingin. Badannya bergetar merasakan gejolak yang mulai bereaksi dalam tubuh. Tubuhnya tidak mampu menopang lagi, dia mencoba memegang lemari sepatu dengan kuat.


"aku minta maaf. Sungguh aku minta maaf. Kumohon maafkan aku kali ini. A-aku ma-masih sayang kamu." ucap papa lemah sambil terisak.


"kalau kamu sayang aku, kamu tidak akan menghamili perempuan sialan itu!!" teriak mama dengan nyaring.


Mata Eca terbelalak. Dia terjatuh pelan. Dia menggelengkan kepalanya menyangkal fakta yang sedang didengar. Dengan tertatih-tatih dia berdiri dan keluar dari rumah.


"tidak... Tidak. Aku salah dengar. iya aku sa-salah dengar." ucap Eca dengan nafas tidak beraturan.


Eca melangkah cepat menuju bis. Sepanjang perjalanan dia mencoba menolak fakta yang dibicarakan kedua orangtuanya. Dia seperti orang gila yang terus menggeleng dengan badan bergetar. Beberapa orang di dalam bis menatapnya aneh dan menghindar darinya. Dia sudah seperti orang kesurupan yang asik dengan dunianya sendiri.

__ADS_1


Hingga kertas ujian dibagikan pikiran Eca masih tertuju pada percakapan kedua orangtuanya. Dia memegang penanya dengan kuat. Tidak satupun instruksi dari pengawas yang sudah dilakukannya, mulai dari menulis nama lengkap, identitas serta menjawab soal dengan tepat. Dia menatap kertas ujian tapi pikirannya berkelana di rumah. Dia tidak mau kedua orangtuanya bercerai. Kedua orangtuanya tidak boleh bercerai!


Eca meletakkan penanya dengan kuat. Atensi semua orang beralih padanya. Pengawas mendekat dan melihat kertas ujiannya.


"ada masalah?" tanya pengawas sambil melihat tangan Eca yang terkepal dengan kuat.


Perempuan itu menggeleng. Dia lalu berdiri dan berlari keluar dari ruang ujian. Dia terus berlari dengan air mata yang terus mengalir. Tidak mempedulikan tatapan bertanya orang-orang yang melihat aksinya. Dia ingin pulang ke rumah. Dia tidak kembali menggunakan bus tapi dia berlari. Dengan air mata yang terus bercucuran dia berlomba dengan matahari yang terus beranjak naik.


Eca jatuh di dekat taman. Kaki dan tangannya tergores cukup banyak. Namun tidak dia perdulikan, dia kembali berlari. Tidak menghiraukan kakinya yang berdenyut-denyut karna terus berlari. Tidak juga mempedulikan tangan dan kakinya yang perih. Jauh dari pada itu semua, hatinya lebih perih mendengar penyataan mama tadi pagi.


Sesampainya di rumah, dia berdiri di ruang tamu dengan ngos-ngosan. Keringat membanjiri dan wajah memerah terkena hamparan sinar matahari. Tidak lupa dengan luka-luka menghiasi kaki dan tangan. Dia lalu menangis melihat mama yang meraung sambil memeluk dirinya yang meringkuk disebelah meja. Ada juga papa yang menangis tidak jauh dari mama sambil memukul kepalanya berulang kali.


"ja-jangan cerai."


Kedua orangtuanya terkejut melihat Eca. Mereka mengira gadis itu sedang ujian sekarang. Terlalu cepat untuk kembali ke rumah menyelesaikan soal yang sampai ratusan.


"jangan cerai!!!" Eca terduduk dan meraung dalam pelukan papa.


***


Malam ini terasa sangat mengerikan dalam hidup Eca. Mereka semua berkumpul dengan berbagai emosi yang melingkupi. Perkumpulan mereka berempat sangat jarang terjadi. Harusnya ini menjadi momen membahagiakan. Namun tidak lagi. Kebahagiaan itu susah diraih saat ini. Seperti mimpi Eca yang mustahil terwujud.


"aku setuju dengan mama. Kalian harus cerai!" ungkap Erna dengan tegas menatap papa dengan tajam.


"tidak!" Eca menggelengkan kepalanya.


"jangan egois Eca! Mama sudah menderita selama ini! Berapa lama lagi mama harus menanggungnya?! Biarkan mama lepas dari neraka ini!!"

__ADS_1


"semua masih bisa dibicarakan dengan baik-baik kak!!"


"apa lagi yang dibicarakan?! Membicarakan papa yang seperti ini menghamili perempuan murahan itu?!!"


"Erna!!" bentak papa sambil menggebrak meja.


"jangan membentak anakku!!!" sembur mama lebih keras.


Mereka lalu terdiam. Amarah masih melingkupi mereka. Papa baru menyadari kesalahannya yang sudah membentak Erna. Dia menatap putri sulungnya dengan tatapan bersalah tapi Erna membuang pandangannya dengan air mata mengalir. Dia kecewa dengan papanya. Ini adalah pertama kalinya papa membentaknya. Dia tidak percaya papa tega melakukannya.


Di ujung sofa tempat Erna duduk, Eca meringkukkan badannya untuk meredam isakan. Dia tidak menyangka semuanya akan menjadi runyam. Dia hanya ingin orangtuanya tetap bersama.


"mama sudah tau perselingkuhan papa sejak setahun lalu." mama mulai membuka kembali pembicaraan.


Ketiga orang lainnya menatap mama dengan terkejut. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan mama barusan. Fakta yang baru diungkapkan sang mama. Mereka merasakan emosi yang berbeda-beda, yang semakin menambah luka di hati masing-masing.


"mama bertahan selama setahun ini untuk kamu Eca. Tinggal kamu yang belum bekerja. Mama tenang karna Erna sudah dapat penghasilan sendiri. Sedangkan kamu masih SMA dan saat itu kamu bahkan lemah disetiap pelajaran. Mama berfikir kalau mama menghakimi papamu saat itu bisa jadi kami sudah bercerai dan sekolah kamu berantakan. Mama mencoba bertahan setiap harinya meskipun selalu menyakitkan melihat laporan perselingkuhan papa dari orang suruhan mama." mama memberikan jeda pada pembicaraannya untuk menenangkan diri sejenak.


"waktu mama memaksa kamu belajar dan ikut banyak les, itu semua mama lakukan supaya kamu bisa pintar dan masuk perguruan tinggi sehingga peluang kerja untuk kamu kedepannya lebih besar. Mama pikir semua dapat berjalan seperti yang mama harapkan. Tapi mama salah, masalah justru meledak tidak tertahankan. Mama minta maaf. Kali ini mama menyerah. Mama tidak sanggup hidup bersama orang yang menghamili perempuan lain. Sekuat apapun mama mencoba menguatkan diri tapi mama benar-benar tidak bisa. Maaf" lalu mama menunduk dan mulai meneteskan air mata.


"maaf ma" lirih Eca beranjak memeluk mama dengan erat.


Berulang kali Eca mengucapkan maaf. Air matanya tidak terbendung lagi menahan sakit yang luar biasa menjalar di hati. Dia tidak menduga selama ini mama sudah berkorban sungguh banyak padanya. Dia sudah salah dengan meminta mempertahankan hubungan diantara keduanya. Buktinya mama tersakit begitu banyak. Setiap harinya selama setahun ini. Eca tidak ingin egois lagi. Dia ingin mengurai tali tak kasat mata yang menjerat leher mama selama ini.


~Tidak selamanya yang rusak mampu diperbaiki. Terkadang membuangnya adalah pilihan terbaik.~ RECYCLE LOVE


***

__ADS_1


__ADS_2