RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 9


__ADS_3

Makanan yang tersaji di atas meja sangat menggiurkan. Seberapa pun menggodanya makanan di depannya, Eca masih bisa menahan diri untuk memotret makanan tersebut. Entah mengapa memfoto makanan yang cantik sebelum dimakan merupakan ritual tersendiri baginya. Sedangkan Erna disampingnya hanya berdecak kecil melihat kelakuan adeknya. Barulah mereka makan setelah Eca puas memotret di beberapa angle.


Saat ini mereka berdua jalan-jalan ke mall. Erna mengajak Eca sebagai bayaran karna sudah ditinggal kerja di luar kota selama seminggu. Hitung-hitung Erna bersedekah kepada Eca. Erna senang-senang aja mentraktir Eca makan karna adiknya sangat lahap makan sehingga uang yang di keluarkan tidak mubajir tapi Erna juga khawatir disaat bersamaan karna berat badan Eca.


"Ca, banyakin makan saladnya. Biar pencernaan kamu lancar makan ini semua." Erna menggeser mangkok salad pada Eca.


"iya kak. Biarin aku nikmati ayam ini dulu."


Erna geleng-geleng kepala. Mereka menikmati makanan berdua dengan sesekali mengobrol tentang pekerjaan Erna selama seminggu di luar kota. Ada beberapa hal yang Eca mengerti ada juga yang tidak. Bagaimana pun dia masih anak SMA. Pengetahuannya tentang dunia kerja masih sangat minim.


Selesai makan, Erna memanggil pelayan untuk menghitung bill. Selagi menghitung bill sesekali Eca memakan daging yang masih tertinggal di piring. Pelayan pria itu juga meliriknya.


"ini kak, bill-nya"


"oke bentar yah" Erna mengamati bill-nya dengan teliti tidak mau kecolongan pada kemungkinan adanya tindakan kecurangan.


"Ca, siniin tas kakak bentar." Erna melirik pada Eca yang sedang mengobrak-abrik isi tasnya. Entah apa yang mau dia ambil.


"ini kak."


"ini mas."


"ini adek kakak ya?" tanya pelayan pria itu setelah selesai pembayaran.


"iya mas. Kenapa ya?"


"oh enggak kak. Soalnya beda banget."


"maksud kamu apa?!" Erna menaikan nada suaranya dan melototi pria itu.


"gak kak. Maaf maaf"


"mas hati-hati kalau bicara ya. Saya bisa aduin sama atasan kamu sekarang!"

__ADS_1


"kak udah kak" Eca mulai menarik-narik lengan baju kakaknya.


"maaf kak. Maaf banget sekali lagi. Saya tau saya salah. Saya berjanji tidak mengulangi lagi."


"yang bener kamu kalau kerja. Kita itu pelanggan loh! Harusnya sikap kalian itu dijaga apalagi sama pelanggan!"


Eca menghela nafas. Kakaknya kalau udah mode begini susah kalem memang. Suara Erna yang tidak santai ikut menarik perhatian beberapa orang. Namun Erna tidak menghiraukannya. Kalau mau perang Erna bisa ladeni sekarang juga. Masalahnya Eca malu sekarang. Orang-orang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.


"kak maafin saya kak. Tolong." pria itu mulai berkaca-kaca.


"enak aja kamu minta maaf setelah ngomong gak sopan begitu. Kamu kira kami gak sakit hati dengan perkataan kamu?! Kita disini makan baik-baik ya! Tapi pelayanan kalian sangat buruk!"


"kak udah dong kak. Banyak orang yang lihatin." Eca mendesak Erna.


"gak bisa Ca. Orang kayak gini harus dikasih pelajaran dulu baru sadar."


"kak saya minta maaf. Tolong maafin saya ya." kali ini pria itu menghadap kearah Eca.


"iya mas. Tapi jangan diulangi lagi ya." jawab Eca pelan.


Eca menarik lengan kakaknya keluar dari restauran. Untung Erna masih bisa diajak kerjasama. Eca sudah tidak tahan dengan banyaknya orang yang memperhatikan mereka.


'"dasar orang tidak beretika! aku bisa buat dia dipecat hari ini juga. Dia kira dia siapa memilih lawan. Kamu juga Ca tolol banget tidak ikut hajar dia tadi."


"kak banyak yang lihatin tadi. Malu tau."


"ngapain malu orang dia yang salah. Kalau orang lain yang mulai deluan kamu harus balas itu bentuk perlindungan diri. Kamu jangan diam aja kayak tadi. Kita itu punya harga diri. Jangan biarkan orang lain nginjak-nginjak!"


"iya kak iya iya. Sekali lagi kalau bisa aku jambak rambutnya."


"nah bagus kalau gitu."


Barulah Erna tenang setelah mengatakan itu. Kalau tidak, Erna bisa mengoceh terus tanpa lelah. Menyuarakan betapa pentingnya melindungi diri sendiri. Eca sadar yang dikatakan oleh Erna ada benarnya. Dia tidak menyangkal hal itu, cuma cara kakaknya itulah yang membuat Eca khawatir. Eca tidak akan tega kalau pelayan tadi sampai di pecat tapi Erna bukan orang yang sebaik itu untuk iba jika pria tadi harus dipecat.

__ADS_1


Melanjutkan kegiatan mereka di mall, Eca dan Erna memilih timezone. Mereka membeli tiket dan mencoba berbagai area bermain. Selisih skor mereka juga sedikit, hampir imbang. Meskipun badan Eca gemuk namun dia sangat bisa diandalkan soal permainan. Meskipun melelahkan tapi Eca menikmati. Barulah Eca merasa sangat lelah setelah selesai bermain. Dia ngos-ngosan dan berkeringat. Sedangkan sang kakak masih semangat meskipun berkeringat juga. Itu adalah perbedaan nyata dari pola hidup sehat dan hidup senyamannya saja alias hidup tidak sehat.


"nah kan, kamu mudah capek Ca. Makanya olahraga biar kamu fit kalau main kayak gini."


"kapan-kapan deh."


"janji ya. olahraga bareng kakak."


"iya iya janji. Nanti kalau ada minat"


"ck."


Eca dan Erna memilih duduk di salah satu stand minuman. Mereka beristirahat setelah bermain. Bagaimanapun tenaga mereka terkuras lumayan banyak. Eca meminum dengan cepat. Erna memberi peringatan meskipun dia cepat menghabiskan minumannya bukan berarti Erna akan membelikannya minuman lagi. Erna tidak mau Eca minum minuman manis terlalu banyak. Membuat Eca menyerah dan meminum minumannya sedikit-sedikit.


"kak, sekitar rumah kita itu berhantu ga?"


"gak. Kenapa?"


"kemarin malam waktu aku ambil minum aku dengar ada suara tangisan perempuan. Dan dia berdiri di depan rumah. aku lihat hanya bayangan hitam tapi tidak terlalu jelas karna gelap."


"kamu salah lihat kali. Mana mungkin ada setan. Di sekitar rumah kita gak pernah ada kejadian aneh-aneh sebelumnya."


"aku gak yakin juga kak. Tapi waktu dia mau berbalik aku langsung lari. Disitu aku yakin itu setan."


"mungkin orang kali?"


"ngapain dia nangis-nangis depan rumah orang? Emangnya dia tidak punya rumah untuk menangis sendiri apa?"


"em bener juga. Tapi masa sih? Kok kakak gak percaya ya?"


"aku gak bisa bilang yang kemarin itu manusia atau bukan. Tapi aku benar-benar takut kalau mata kami bertatapan. Bisa-bisa aku tidak bisa hidup dengan tenang."


"coba tanya mama nanti deh. Manatau ada yang tidak dia ceritakan soal lingkungan rumah kita. "

__ADS_1


Erna dan Eca akhirnya pulang kerumah. Mereka sempat mampir untuk belanja. Membeli beberapa baju dan celana olahraga untuk mereka berdua. Kata Erna supaya Eca termotivasi untuk olahraga. Eca memegang baju olahraga itu. Dia mengelus pelan. Ingin sekali rasanya punya badan lansing tanpa olahraga. Diet? Eca angkat tangan. Makan sudah seperti jantung ke-dua. Tidak makan sama dengan mati. Perempuan itu berharap semoga suatu saat nanti dia bisa olahraga dan segera mendapat motivasi untuk melakukannya. Bohong kalau dia tidak minder dengan berat badannya. Bohong kalau dia tidak sakit hati dengan perkataan pelayan di restauran tadi. Bagaimana pun dia hanya manusia biasa yang punya perasaan.


***


__ADS_2