
Suasana istirahat di dalam kelas lumayan sepi. Sebagian besar siswa menuju kantin untuk mengisi perut. Tinggal beberapa orang masih menetap di dalam kelas. Begitu juga dengan Nehan dan Tia. Nehan sibuk mencari coklat yang disimpannya dalam tas.
"cari apa?" tanya Tia melihat kesibukan Nehan yang mengobrak-abrik isi tasnya.
"cari coklat. Aku tadi simpan dalam tas." ucap Nehan gelisah.
"kamu makan coklat?"
"nah ini dia." ucap Nehan tersenyum lebar kemudian mencium coklatnya.
"ini bukan buat aku." sambung Nehan.
"jadi buat aku?" tanya Tia sambil menyodorkan tangannya.
"idih ke-GR-an!" kata Nehan sambil menepuk telapak tangan Tia.
"lalu buat siapa!"
"buat Eca."
"apa?!!" seru Tia sambil memukul meja cukup kuat sehingga atensi siswa yang tersisa dalam kelas beralih ke arah mereka.
"santai. Semoga dengan ini Eca mau balikan denganku! hahaha . . ."
Nehan berdiri dari tempat duduknya. Membawa coklat ditangan kanan sambil tersenyum lebar. Dengan langkah tegap dia berjalan menuju kelas Eca.
Daritadi pria yang duduk diujung kelas sebelah kiri menatap kepergian Nehan. Dia juga mendengar obrolan Nehan dan Tia. Entah mengapa dia tidak semangat lagi untuk belajar. Dia melempar pulpen-nya cukup kuat hingga terlempar dan terjatuh ke lantai. Dia lalu mengacak-acak rambutnya dan mengambil pulpennya yang jatuh. Dia mengantongi pulpen dan pergi keluar menuju kelas Eca. Dia ingin melihat apa yang hendak Eca dan Nehan lakukan. Apakah mereka kembali berpelukan lagi seperti kemarin.
Dilain sisi Eca sedang berbicara dengan Nehan. Nehan menyodorkan satu batang coklat kearah Eca dengan senyum lebar. Eca yang tidak mengerti mengangkat salah satu alisnya.
"ini sebagai ucapan terima kasih buat yang kemarin dan sogokan." ucap Nehan dengan mantap.
"sogokan?"
"iya. Supaya kamu tidak memberitahu orang lain tentang aku yang main slot."
"tidak akan. Tidak penting juga. Udah sana pergi" kata Eca sambil mengibaskan tangannya kearah Nehan.
"eitss. . . Jangan ditolak. Ini dari Jepang loh Ca. Lagi viral ini disana. Dijamin rasanya wuenak!" ucap Nehan semangat persis SPG yang sedang menawarkan barangnya kepada pelanggan.
__ADS_1
"kamu punya uang beli coklat dari Jepang tapi tidak punya uang untuk bayar utang pada rentenir." ungkap Eca mencebikkan bibir dan menggeleng-gelengkan kepala menatap Nehan.
"bukan aku yang beli Ca. Papaku yang beli ini. Kalau aku tidak punya uang."
"tetap aja aku tidak mau! Mau kamu kasih aku 100 coklat pun. Aku tetap tidak mau!"
"wah kode nih. Mau dikasih coklat 100 ya?" tanya Nehan sambil mengerlingkan matanya kepada Eca.
"tidak Nehan!" seru Eca memukul Nehan dengan geram.
Selesai Eca memukul Nehan, dia membalikkan badan memunggungi Nehan. Kedua tangannya bersedekap. Dia bernafas dengan cepat. Jantungnya masih berdengup kencang karna menahan amarah.
Bukannya marah, Nehan malah terkekeh dengan tingkah Eca. Dimatanya Eca sangat imut sekarang. Eca yang merajuk di sampingnya mengingatkan dia saat masa-masa pacaran mereka. Seandainya dia masih pacaran dengan Eca, pasti Nehan akan mengenggam tangannya dengan erat untuk menyalurkan kegemasannya. Sayang sudah jadi mantan. Nehan harus menahan diri untuk menggenggam tangan Eca. Sambil menggigit bibirnya, Nehan membuka coklat yang berada ditangannya. Dia mematahkan coklat tersebut dan memasukkan kedalam mulut Eca yang terbuka karna sedang mendumel. Tepat saja Eca menelan coklat itu.
Dari pandangan orang lain mereka beranggapan bahwa Nehan sedang menyuap Eca dengan romantis. Itulah yang dianggap Gian saat ini. Tepat sekali dia datang untuk mencari keberadaan Eca dan Nehan, dia harus melihat adegan Nehan menyuap Eca. Gian tidak sanggup lagi. Dia mengepalkan tangan kuat dan pergi dari tempatnya berdiri.
"apaan sih Nehan!" bentak Eca pada Nehan yang sembarangan memasukkan makanan kedalam mulutnya saat dia masih mendumel.
"tapi enakkan?"
Tidak bisa dipungkiri coklat dari Jepang ini sangat enak. Saat Eca menggigitnya tadi, coklatnya langsung lumer di dalam mulut. Manisnya pas dan coklatnya premium. Beda dengan coklat yang biasa dijual dipasaran. Makanan enak masih mampu mengalahkan gengsi Eca.
"bawel! Yaudah aku bawa semua ini. Kamu yang maksa loh!" Eca merebut sisa coklat ditangan Nehan dan pergi dari kelas.
***
Pas sekali Eca melihat Gian yang sedang berjalan saat pulang sekolah. Ini waktu yang tepat untuk Eca menghampiri Gian. Kemarin dia tidak sempat menghampiri pria itu karna si gila Rani. Mengingat perempuan itu kembali membuat Eca kesal.
"Gian! Tunggu!" Eca berlari menghampiri Gian.
"ada yang mau aku bicarain sama kamu."
"tidak bisa lama. Supir aku udah dijalan." kata Gian tanpa melirik Eca sedikit pun. Nada bicaranya pun terkesan ketus.
"ki-kita bisa duduk disana sebentar?"
Gian tidak menjawab. Dia meninggalkan Eca dan berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk Eca. Dibelakang Gian, Eca berjalan pelan sambil memikirkan sikap Gian yang tidak biasa. Sikapnya saat ini seperti diawal-awal saat mereka tidak dekat.
"kamu mau diskusikan sesuatu sama kamu, apa yang sebaiknya aku pilih diantara ini." ucap Eca mengeluarkan kertas dalam tasnya lalu duduk di samping Gian.
__ADS_1
Gian mengambil kertas yang disodorkan Eca padanya. Dia membaca tulisan dalam kertas itu sebentar. Gian tetap tenang. Tapi sorot matanya berbeda dari yang biasa. Kali ini sorot matanya sangat dingin. Eca dapat melihatnya dari samping.
"aku tidak tau mana yang harus aku pilih diantara ini. Aku mau masuk universitas biasa yang sepi peminat tapi aku juga mau masuk universitas top tapi saingannya banyak. Aku harus bagaimana Gian?"
"kamu lebih suka yang mana?" tanya Gian masih menatap kertas.
"dua-duanya aku suka."
"tidak boleh. Harus ada prioritas pertama dan kedua."
"tapi kalau aku memilih salah satu dan membuang yang satu. Aku takut menyesal. Aku khawatir peluang kerja tamatan universitas biasa sedikit tapi masuk universitas top juga sangat susah." Eca menggaruk kepalanya frustasi.
"yaudah pilih aja dua-duanya."
"apa??"
"diseleksi bersama ada tiga pilihan jurusan di dua universitas yang bisa kamu pilih. Kamu bisa kasih jurusan dan universitas yang paling kamu minati di urutan pertama sisanya masuk diurutan kedua dan ketiga. Lagian terserah kamu tamatan universitas mana asal kamu punya keahlian kamu pasti berguna" jelas Gian masih enggan menatap Eca.
"ah iya! Bener yang kamu bilang! ma-makasih pendapatnya Gian" semangat Eca merosot saat melihat Gian yang masih menatap kertas dan enggan menatap Eca.
"hm."
"kamu kenapa Gian?"
"tidak. Aku pergi dulu."
Gian menyerahkan kertasnya dan berlalu begitu saja. Eca menatap kepergian Gian sambil bertanya-tanya. Kenapa Gian sangat cuek padanya? Bukannya mereka sudah pernah sepakat untuk berteman? Apa mereka musuhan lagi? Atau Eca membuat kesalahan? Eca terus memikirkan kemungkinan penyebab Gian mencuekinya hari ini.
Hingga sampai dirumah Eca masih memikirkan Gian. Tapi tidak lagi. Sejak Eca melihat mobil papanya yang tumben parkir siang ini di depan rumah. Eca jadi semangat kembali. Sang papa ada di rumah sekarang dan itu adalah keajaiban. Biasanya papa pulang larut malam bahkan sering keluar kota.
Eca berlari dengan cepat. Melepas sepatu dengan asal di depan pintu. Senyumnya merekah dengan lebar. Sampai diruang tamu, senyum Eca lenyap seketika.
"aku tidak izinin kamu pergi pa!!" teriak mama sambil menunjuk papa dengan wajah marah.
"aku harus pergi!! Aku kerja!!" bentak papa kearah mama.
Prang!!
Seketika hening. Eca melihat mama yang ngos-ngosan dengan sisa air mata berlinang disudut mata. Dia menunduk ke bawah, menatap koper yang terbanting ke lantai. Mama tidak suka membanting barang tapi kali ini dimelakukannya. Tangannya terkepal kuat hingga urat-urat halusnya tampak menonjol. Mama seperti tidak menyesal melakukannya.
__ADS_1
"selangkah kamu melewati rumah ini. Kamu akan menyesal." peringat mama sungguh-sungguh.
***